Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 27 Lembah Surgawi


__ADS_3

Nadia bangun pagi itu dengan perasaan yang cukup baik. Tubuhnya terasa sangat segar. Ternyata ia sangat cocok dengan ranjang suaminya.


Ia pun menggeliat pelan untuk meregangkan otot-ototnya. Setelah itu ia bangun dan memandang sekilas wajah tampan suaminya yang masih tidur dengan sangat nyenyak.


Ada rasa campur aduk yang ia rasakan di dalam hatinya setiap melihat wajah itu.


Entahlah.


Ia tidak tahu.


Ia pun bangun dan segera menuju kamar mandi. Ia ingin membersihkan dirinya seperti biasa sebelum sholat subuh.


"Hey, ada apa ini?" tanyanya pada dirinya sendiri saat ia membuka semua pakaiannya. Nampak di cermin itu totol-totol merah yang sangat banyak di lehernya.


"Oh ya ampun, dan ini sampai disini?" Ia memperhatikan dadanya juga yang menunjukkan hal yang sama.


"Apa aku alergi makanan? Tapi makanan apa?" gumamnya lagi seraya lebih mendekatkan tubuhnya ke depan kaca.


Selama berada di rumah mertuanya ini. Ia baru makan rendang dan sedikit nasi. Cemilan pun hanya cake rasa pandan favoritnya.


Lalu apa?


Alergi dingin?


Suhu di dalam kamar normal seperti suhu di dalam kamarnya sendiri.


Tempat tidurnya bersih dan tak berdebu. Lalu apa?


Meskipun ia bukan dokter kulit, tapi ia mulai mencurigai sesuatu. Ia bisa membedakan yang mana alergi atau gigitan serangga dan bahkan gigitan drakula.


Hah gigitan drakula?


Tubuhnya menegang sempurna. Ia pun segera mandi dan keluar dari kamar mandi itu untuk melabrak suaminya. Ia yakin sekali kalau pelakunya adalah pria itu.


Dan ketika ia membuka pintu kamar mandi, ia mendapati Galih berdiri di hadapannya dengan wajah bantal yang sangat seksih.


Belum lagi pria itu hanya menggunakan bokser dan memperlihatkan tubuhnya yang luar biasa sempurna. Perut kotak-kotak dengan bulu halus disekitar dadanya.


Baru kali ini ia melihat pria itu tampil seperti itu selama mereka menikah.


"Kamu?!"


"Apa?" Galih menatapnya tanpa ekspresi.


"Kamu yang-?"


"Minggir. Aku mau mandi."


Galih tidak ingin berbasa-basi dengan perempuan cantik yang hanya menggunakan handuk yang sangat minim itu.

__ADS_1


Karena apa?


Karena ia tak mau istrinya itu memperhatikan juniornya yang sudah semakin mengembang di dalam boksernya hanya karena melihatnya seperti itu.


"Ish!"


Bibir perempuan itu terangkat kemudian segera pindah dari depan kamar mandi. Ia akan membuat perhitungan dengan pria itu setelah selesai mandi saja.


Karena cukup lama menunggu pria itu keluar akhirnya ia pun melaksanakan sholat subuh sendiri. Setelah itu kembali menunggu Galih juga selesai sholat setelah dirinya.


"Assalamualaikum Alaikum warahmatullahi."


"Assalamualaikum Alaikum warahmatullahi."


Pria itu berzikir sebentar kemudian menyimpan perkenalan sholatnya.


Ia ingin keluar dari kamar itu tapi Nadia langsung menahan langkahnya.


"Jangan pergi sebelum kamu jelaskan apa ini?" teriak Nadia seraya menunjukkan hasil perbuatan pria itu.


Galih menghela nafas kemudian menghampiri sang istri.


"Apa itu?" tanya Galih dengan wajah santainya. Di bibirnya pun tersungging senyum khasnya yang sangat menawan.


"Kamu gak lihat apa ini hah?!" tanya Nadia dengan wajah kesalnya. Ia membuka pakaiannya di depan pria itu sampai batas dadanya.


"Beneran aku gak tahu. Apa kamu alergi? Bisa aku lihat baik-baik gak?" ucap Galih seraya mengikis jarak diantara mereka berdua.


Galih mengarahkan jari-jarinya ke leher putih dan jenjang itu dan mengelusnya perlahan.


"Menurutmu ini alergi atau hal lain?" tanya pria itu dengan suara rendah bagaikan bisikan. Nadia tak mampu menjawab. Ia merasakan tubuhnya beku.


Ayo Nadia! Kamu harus kuat. Gak boleh terpengaruh.


Ia terus membujuk dirinya untuk kuat dan tidak jatuh pada pesona pria itu.


Galih tersenyum, ia tahu kalau Nadia sedang tak kuat menahan belaiannya. Dengan cepat ia merengkuh pinggang ramping istrinya itu kemudian menciumi lehernya.


Mengecupnya kecil kecil dan berhasil membuat perempuan itu mendessah nikmat tak tertahan kemudian ia melepaskannya dengan tak rela.


Ia ingin melihat bagaimana reaksi perempuan cantik itu.


"Ka-kamu yang melakukan ini 'kan semalam? Tanpa seizin aku?" ucap Nadia dengan dada berdebar tak karuan. Nada suaranya sudah tak bisa meninggi lagi.


"Kalau aku kenapa Nad? Kamu istriku sayang, dan aku sangat menginginkanmu," bisik Galih seraya meraih bibir istrinya yang ingin kembali membalas ucapannya.


Nadia tak berkutik. French Kiss kembali terjadi diantara mereka berdua. Sampai Nadia merasakan tubuhnya melumer bagai jeli. Kakinya tak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.


Galih tahu apa yang terjadi pada istrinya. Ia pun mengangkat tubuh Nadia tanpa melepaskan ciumannya itu.

__ADS_1


Ia membawanya ke atas ranjang dan meletakkannya dengan sangat pelan bagaikan sedang membawa benda yang akan pecah jika diperlakukan kasar.


"Kamu sangat cantik sayang, dan aku sangat menginginkanmu Nadia," bisik Galih dengan suara beratnya.


Nadia tidak menjawab. Ia masih berusaha untuk mencerna apa yang telah terjadi.


"Apakah aku perlu bersujud padamu sayang? Supaya kamu percaya kalau aku sangat menginginkanmu?" lanjut Galih kemudian mengecup dagu kecil sang istri. Menghisapnya pelan kemudian melepaskannya.


Nadia lagi-lagi tidak menjawab. Ia hanya menutup matanya menikmati apa yang dilakukan oleh pria itu padanya. Sungguh, tubuhnya sangat menginginkan yang lebih dari ini.


Akan tetapi rasa egonya selalu saja memberontak dan ingin menolak.


Galih tersenyum kemudian membenamkan wajahnya pada dada istrinya yang hanya berpenghalang kain tipis berenda.


Ia harus menaklukan Nadia saat ini juga atau ia akan stres dan frustasi sepanjang hari.


Tangannya dengan cepat membuka penutup itu dan meraih salah satu pucuknya dengan bibirnya sedangkan yang satu dikuasai oleh tangannya.


Mata Nadia membola saat merasakan sensasi yang sangat luar biasa yang ia rasakan dari permainan lidah dan bibir suaminya pada dua buah benda kenyal miliknya.


Berikutnya kita skip aja ya gaess. Para readers sudah tahu dong apa yang terjadi.🤭😅


Pagi itu, Galih Pradana melepaskan keperjakaannya pada seorang perempuan yang telah sah menjadi miliknya.


Halal ia sentuh dan datangi dari arah mana saja ia inginkan.


Begitu pun dengan Nadia Gazali, ia telah menyerahkan mahkota'yang sudah ia jaga selama ini pada seorang pria yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuknya.


Galih tak menyangka kalau penilaiannya tentang Nadia selama ini salah. Ternyata perempuan itu masih perawan dan sangat susah di tembus.


Ia harus menggunakan tenaga ekstra sampai benteng dokter cantik itu berhasil ia hancurkan.


Dan ya Tuhan, ia tak berhenti mengucapkan kata syukur dengan perasaan takjub.


Melakukan ibadah dengan seorang perempuan yang sah dan halal rasanya sangat luar biasa nikmat.


Tak ada rasa bersalah di dalam hatinya. Yang ada adalah rasa bahagia yang sangat sempurna.


Nadia berada pada rasa yang tak bisa ia lukiskan. Sakit dan perih ia rasakan tetapi ia tetap ingin mencoba berpetualang dengan pria tampan yang sedang menguasai tubuhnya kini.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hadeh 😑 author capek. Sport jantung ngetiknya 🤭 Padahal Galih yang seharusnya lelah mendaki gunung dan berjalan memasuki lembah.


Like dan komentar dong.


Kirim kopi gitu deh.

__ADS_1


Vote juga boleh.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2