Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 52 Kena Mental


__ADS_3

Nadia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Tangannya segera meraih tissue untuk menghapus airmatanya.


"Apa yang kamu lakukan disini hah?" tanyanya pada Ayunda. Perempuan itu menghampiri Nadia lalu berucap, "Saya 'kan pegawai disini juga bu dokter."


"Aku sedang tidak ingin diganggu jadi kalau kamu tak ada urusan disini silahkan pergi!" Nadia langsung menunjuk ke arah pintu agar perawat tak tahu malu itu tidak lagi menemuinya di tempat kerjanya sekarang.


"Owh, maafkan saya dokter. Tapi saya sedang mencari barang saya yang mungkin terjatuh di tempat ini waktu itu," ucap Ayunda dengan mata memandang berkeliling ruangan seolah-olah sedang mencari sesuatu yang sangat penting.


"Barang apa?! Ruangan ini tak pernah dibuka sejak aku pergi ke Singapura. Jadi jangan asal bicara ya! Jadi kamu silahkan keluar dari sini!"


"Belum cek CCTV ya Bu dokter? Waktu itu saya dan pak Galih sedang anu disini. Aaah sudahlah, tak perlu saya jelaskan juga. Bu dokter pasti paham bukan?" ucap Ayunda dengan wajahnya yang sangat menyebalkan.


Tubuh Nadia membeku. Untuk beberapa detik kepalanya mengingat rekaman CCTV yang terhubung di handphonenya waktu itu.


Perempuan itu ingat kalau suaminya memang berada di dalam ruangan ini bersama Ayunda malam itu. Dan karena saking kesalnya ia sampai menghapus rekaman itu padahal belum selesai ia putar semuanya.


"Aaa, gak apa-apa kalau Bu dokter gak lihat. Aku cuma merasa bahwa panty kesayangan aku masih berada disini. Maaf, karena terlalu bersemangat dengan pak Galih dan buru-buru saya jadi melemparkannya ke sembarang arah." Ayunda terus saja mengoceh dengan berpura-pura mencari pakaian da*lam yang ia maksud di bawah kolong meja dan dimanapun.


Nadia merasakan dadanya sesak karena emosi. Ia langsung menghampiri perempuan itu dan memberinya satu tamparan keras.


Plak!


"Dasar perempuan tidak tahu malu! Apa sebenarnya maumu hah?!"


"Kamu sengaja ingin mengambil apa yang aku miliki hah?!" teriak Nadia dengan keras seraya mendorong tubuh Ayunda ke dinding.


Dada Nadia naik turun menahan emosi yang sudah lama ia tahan untuk perempuan tidak tahu malu dihadapannya itu.


Ayunda mengelus pipinya yang terasa sangat panas. Ia menatap Nadia dengan tatapan tajam dan benci yang berlipat-lipat.


"Saya Ayunda. Saya memang ingin memiliki semua yang kamu miliki. Semua yang kamu cintai. Tunanganmu dan suamimu. Agar kamu sadar diri kalau kamu itu tak sempurna dokter Nadia. Bahwa bukan cuma kamu yang ada di dalam hati mereka!"


Nadia mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya.


"Keluar kamu brengsek! Dan dengarkan aku baik-baik. Aku memecatmu saat ini juga!" Perempuan itu menunjuk pintu dengan tangannya.


Ia sudah tidak sabar lagi menghadapi seorang stafnya yang begitu menyakiti hatinya sedemikian rupa seperti ini.


"Tak masalah. Kamu pikir aku takut hah?!" Ayunda melangkahkan kakinya menghampiri Nadia kemudian berucap, " Kamu sudah pernah melukai saudaraku dan mengecewakannya sampai ia lebih memilih bunuh diri dokter Nadia! Tapi saya tidak. Saya tidak selemah dia."

__ADS_1


Nadia tercekat. Ia menatap perempuan itu dengan tatapan tajam.


"Apa maksudmu hah?!" tanyanya.


"Lihat saya baik-baik. Lihat wajahku. Apakah kamu tidak ingat seseorang yang pernah sangat dekat denganmu?"


"Ayumi?" gumam Nadia.


"Ya, aku adalah saudara Ayumi. Dan apakah kamu ingat apa yang telah kamu lakukan padanya bu dokter?"


Nadia terdiam. Ia berusaha mengingat apa yang pernah ia lakukan pada Ayumi, sahabatnya sejak dibangku SMA.


Ia menggelengkan kepalanya karena tak pernah merasa bersalah pada sahabatnya itu. Ia hanya merasa sedih saja karena jasad Ayumi tiba-tiba sudah ditemukan tak bernyawa di dalam kamarnya dengan cara bunuh diri.


"Ayumi adalah sahabat aku dan aku tidak pernah bermasalah dengannya. Lalu kenapa kamu menghubung-hubungkannya dengan aku? Ayumi telah tenang disana. Jadi pergilah dari sini!"


"Lihatlah dirimu dokter. Sampai saat inipun kamu tidak pernah merasa bersalah pada Ayumi padahal kamu telah banyak menyakitinya dengan kesempurnaanmu itu!"


"Heh dengarkan aku keluarga psikopat! Apa salahku kalau aku cantik, aku cerdas, dan juga populer hah! Ayumi sejak dulu rendah diri dan cemburu dengan semua yang aku miliki. Lalu apa itu salahku?!"


"Salah! Jelas salah! Karena kamu tak pernah membantu Ayumi. Kamu egois. Kamu tidak ingin berbagi sedikit pun dengannya. Semua kamu monopoli. Dari hal yang paling kecil pun ingin kamu kuasai lalu apa yang kamu berikan pada sahabatmu sendiri? Ia meminta kamu menolak perasaan pria yang juga disukainya tapi apa? Kamu tak peduli! Sahabat macam apa kamu?!"


Ayunda menunjuk wajah Nadia dengan nafas memburu. Ia bahkan tak memberi jeda dari semua kata-katanya. Dadanya naik turun karena emosi.


Sebegitu jahatnya kah ia?


Rasa bersalah kini menyeruak dari dalam hatinya pada Ayumi.


"Ayumi tak akan tenang jika semua yang kamu miliki itu tidak lepas dari hidupmu dokter Nadia!" Terdengar lagi suara benci dari mulut Ayunda.


Nadia menatap perempuan itu dengan tatapan kosong. Ia seperti sedang berada di dunia lain.


"Ayumi pergi dengan segala rasa benci pada dirimu. Dan Saya yang akan membuatmu merasakan sakit yang sama yang ia rasakan."


"Apa maksudmu?!" tanya Nadia dengan wajah berubah serius.


"Ayumi menulis semuanya di buku diary nya dan meminta kami untuk membalas sakit hatinya padamu dokter."


"Hah? Kami?!"

__ADS_1


"Iya. Aku dan Kak Aryan!"


Ayunda menjawab dengan tatapan tajam pada Nadia.


"Aryan?!"


"Kenapa? Apakah kalian sudah bertemu? Tunggu saja sampai ia menghabisi Vania adikmu itu!"


"Astaghfirullah!" Nadia menutup mulutnya karena kaget dan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Dua pria yang dekat denganmu sudah saya miliki. Dan itu berarti kamu tidak sempurna! Hidupmu cacat! Mereka semua tidak menjadikanmu spesial. Ada namaku yang ada di dalam hati mereka. Termasuk Pak Galih yang sangat hebat dibandingkan dengan Dokter Harry!"


"Keluar kamu!" teriak Nadia dengan emosi. Ia sudah tak sanggup lagi mendengarkan semua perkataan Ayunda yang telah mengguncang jiwanya.


Ia merasakan tubuhnya gemetar. Ia tak menyangka kalau semua terjadi karena dirinya.


Orang-orang di sekitarnya mengalami hal yang sangat buruk seperti ini karena dendam Ayumi dan keluarganya.


Dan Randu?


Betul kata Galih, ia mungkin tidak akan termaafkan oleh pria itu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Randu.


Nadia jatuh bersimpuh di lantai. Ia merasa sangat sedih dengan apa yang terjadi pada hidupnya.


"Eh maaf, ternyata pantyku ada disini rupanya," ucap Ayunda seraya mengambil selembar kain berenda berwarna merah dari lantai.


Nadia semakin merasakan sakit yang luar biasa membayangkan suaminya juga telah dimiliki oleh Ayunda.


"Makasih ya Bu dokter. Rasa Pak Galih memang sangat istimewa," ucap Ayunda memanas-manasi.


Perempuan itu mencibir lalu meninggalkan ruang kerja Nadia. Ia menyeringai senang karena sudah bisa melihat bagaimana guncangan mental yang dokter itu alami.


Ia yakin perempuan itu akan lebih memilih mati saja daripada melihat orang-orang terdekatnya ia ambil dan hancurkan.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan Komentar dong 🤭.

__ADS_1


Bunga, kopi, dan Vote kalau ada.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2