
Galih akhirnya pulang lagi dengan tangan kosong. Ia bingung dengan apa yang terjadi.
Bagaimana mungkin Nadia pergi lagi meninggalkannya padahal hubungan mereka baik-baik saja.
Dua hari ia berkeliling mencari perempuan itu di hotel atau penginapan terdekat di dalam kota tapi jejak Nadia benar-benar hilang.
Rumah-rumah teman atau keluarga istrinya ia datangi tapi tak ada yang memberinya informasi.
Dan sekarang, ia sudah semakin rindu.
Nadia sayang,
Katamu cinta tapi mana buktinya?
Kamu suka datang dan pergi dengan membawa luka dan bahagia bersamaan.
Nadia sayang,
Katamu rajutan cinta kita sedang kita proses tapi dimana kamu?
Bagaimana mungkin rajutan itu sempurna jika kamu meninggalkan aku sendiri.
"Oh ya Allah. Aku salah apalagi?" ucap pria itu dengan dada sesak. Saat ini ia tidak tahu harus kemana. Ia hanya berputar-putar di jalan sampai tengah malam.
Kamar yang selama ini betah ia diami bersama dengan Nadia kini tak ingin ia jadikan tempat untuk kembali pulang.
Ia takut akan kesendirian. Ia lebih memilih tinggal di dalam mobilnya saja.
Pria itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
Ia benar-benar tak ada petunjuk apa-apa dimana keberadaan istrinya. Vania pun tidak bisa membantunya. Ia benar-benar hampir gila dibuatnya.
Sedangkan ancaman dari mertuanya kini berdengung di telinganya. Ia takut kalau mereka akan memisahkannya dengan sang istri.
"Aaargh!" Pria itu memukul setirnya dengan keras. Rambutnya pun ia jambak karena merasa jadi suami yang tidak berguna.
"Nanad sayang, apakah kamu ingin membunuhku pelan-pelan hah?!" bisiknya dengan suara bergetar sedih.
"Kenapa kamu mempermainkan perasaanku ini Nad, kamu menyiksaku. Tolong katakan padaku dimana kamu?" ucapnya lagi dengan suara bercampur tangis.
Ini pertama kalinya ia percaya pada yang namanya perempuan selain mamanya. Ini pertama kalinya ia merasakan yang namanya jatuh cinta.
Tapi apa yang ia rasakan?
Derita karena cinta ini bisa membunuhnya pelan-pelan dan mematikan. Nadia kembali pergi dan tak memberinya alasan dan penjelasan.
Ia merasa sebagai pria yang sangat tak beruntung. Cintanya yang sangat besar pada perempuan itu tak pernah berbalas.
Beginikah rasanya cinta padamu Nadia?
Kamu menyiksaku sayang.
__ADS_1
Ucapnya dalam hati dengan perasaan yang bagai diremas-remas.
Galih memandang hamparan langit penuh bintang malam itu dengan hati nyeri.
Sungguh, ia berharap sekali sakit hatinya bisa terobati dengan menatap ciptaan Tuhan yang sangat indah itu.
Sebatang rokok kembali ia hisap setelah sekian lama tak pernah menyentuhnya.
"Apa sebenarnya masalah kalian berdua?" tanya seseorang yang sangat ia kenal suaranya.
Fardan tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Ia baru saja dihubungi oleh pria itu untuk menanyakan keberadaan Nadia.
"Nadia pergi lagi dan tak ada kabar sampai saat ini." Galih menghembus asap rokok dari hidungnya ke udara dengan pelan. Ia kembali menatap langit dengan tatapan takjub.
Fardan menghela nafasnya. Beberapa hari yang lalu sahabatnya itu juga telah memberikannya kabar kalau Nadia ke Singapura tanpa memberinya kabar dan sekarang kejadian itu kembali terulang.
"Apa bulan madu kalian tidak berguna?"
"Entahlah, aku pikir dengan banyak berdua dengannya tak ada lagi keraguan yang ia rasakan padaku tapi apa? Tak ada kenangan indah yang bisa ia jadikan sebagai pengikat kami."
"Memangnya apa lagi yang kamu lakukan padanya?" tanya Fardan dengan tatapan lurus ke wajah pria yang nampak sangat frustasi itu.
Galih menginjak puntung rokoknya yang masih tersisa banyak itu kemudian balas menatap Fardan.
"Aku tidak tahu. Semuanya baik-baik saja sebelum ini. Aku hanya merasa bahwa Nadia memang belum bisa menerima aku sepenuhnya. Ia tidak bisa membalas cinta yang aku berikan."
"Bersabarlah. Pernikahan kalian memang masih sangat muda. Angin akan selalu datang menerpa. Apalagi kalian menikah bukan karena niat ibadah kepada Allah."
Bukankah ia pantas untuk berjuang? Lalu bagaimana dengan Nadia? Kenapa perempuan itu selalu saja tak percaya padanya.
"Ah sudahlah." Galih mengibaskan tangannya ke udara. Ia lelah. Ia sedang tak ingin dinasehati saat ini. Ia hanya butuh teman untuk berbagi rasa sesak di dadanya.
"Aku ingin kamu membantu aku mencari Nadia. Ia pasti tidak akan jauh-jauh dari keluarganya," ucapnya.
"Hum ya. Aku harap begitu. Aku juga curiga sebenarnya. Buktinya mereka tidak ada yang merasa kehilangan Nadia. Mereka sepertinya sedang ingin mengujimu."
"Maksudmu keluarganya sengaja menyembunyikannya dariku? Tapi kenapa?"
Plak
"Awww! Kenapa kamu memukulku?!" Galih mengeluh sakit.
"Tentu saja untuk menguji usahamu! Begitu saja kamu tidak tahu. Atau mungkin Nadia memang ingin menghindar dan berpisah denganmu."
"Oh tidak. Nadia tak akan pernah kubiarkan berpisah denganku. Ia akan menjadi ibu dari anak-anakku." Galih menggelengkan kepalanya tak rela.
"Hum. Itu kalau ia mau!"
"Tentu saja ia harus mau. Aku sudah menyimpan bibit terbaik di dalam kandungannya. Dan itu tak boleh ditolaknya."
"Terserah sajalah. Aku mau pulang. Asma pasti menunggu ku di rumah. Besok adalah hari perkiraan lahirannya. Ia pasti butuh aku untuk menemaninya."
__ADS_1
"Lalu aku?"
"Pikirkan sendiri!"
Fardan pun meninggalkan Galih di tempat itu sendirian.
"Heh sial! Bukannya membantu malah bikin aku cemburu saja!"
Galih menendang udara kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu juga. Ia berharap Nadia baik-baik saja dimanapun ia berada saat ini.
🌹
Nadia menekan remote televisi yang sedang dipegangnya. Ia lelah sendiri dengan berita selebritis yang selalu saja muncul di layar kaca itu.
Belakangan ini, kasus perceraian selebritis selalu saja diberitakan dimana-mana. Bahkan, rumah tangga mereka yang sudah dijaga belasan tahun pun bisa kandas.
Ada yang bercerai karena masalah ekonomi, perselingkuhan, jalan pikiran yang tak lagi sejalan, komunikasi yang kurang baik dan masih banyak lagi.
Nadia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia sendiri merasa bahwa pernikahannya saat ini sedang berada diujung tanduk.
Laura Eveline duduk di sampingnya kemudian berucap," Jangan kamu lihat permasalahan pernikahan mereka Nad. Kamu bisa ikut terpengaruh."
"Memang sih sabar saja tidak cukup Nad. Bahkan, uang yang banyak pun bukan penentu rumah tangga akan bertahan lama. Tapi kalau kamu masih ada cinta tolong berikan kesempatan pada suamimu."
Laura tahu bagaimana usaha Galih untuk bertemu dan mencari istrinya tapi tidak ada yang memberinya kesempatan. Usman pun seakan ingin menguji sahabatnya itu.
Nadia sekali lagi menghela nafasnya. Dadanya masih sangat sesak dengan kelakuan Galih bersama Ayunda. Sampai detik ini ia masih belum bisa memaafkan.
"Permasalahan aku adalah tentang kepercayaan, mbak Laura. Tidak ada lagi rasa percaya yang aku punya untuknya," ucap Nadia dengan suara bergetar sakit. Airmatanya kembali menggenang dari kelopak matanya.
Laura tersenyum tipis. Ia sangat mengerti perasaan perempuan itu saat ini.
"Aku pernah mengalaminya sayang, mas Usman juga pernah aku benci karena Nana dan beberapa gadis lain yang berusaha mendekatinya." Laura berucap sembari mengenang masa-masa sakit hatinya pada suaminya karena cemburu.
"Terkadang tidak semua yang kita lihat itu benar. Kamu mungkin perlu berkomunikasi dengan suamimu tentang apa yang ada di dalam pikiranmu Nad," lanjutnya.
"Semuanya sudah sangat jelas mbak. Perempuan-perempuan itu dan juga bukti-bukti nya jelas-jelas ada di depan mataku. Lalu penjelasan apa lagi yang ingin aku dengar?" Nadia menatap Laura dengan mata berkaca-kaca.
"Nadia sayang, bahkan penentuan seseorang untuk menjadi tersangka di dalam hukum pun haruslah mendengar pembelaan dari oknumnya. Saksi pun dibutuhkan disini. Jadi, mbak berharap kamu bisa memikirkan ini baik-baik."
"Entahlah mbak. Andaikan aku tidak sedang mengandung anaknya, aku rasanya ingin berpisah saja. Aku sudah tidak kuat lagi."
"Astaghfirullah Nad. Pikirkan itu baik-baik sayang."
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan Komentarnya dong.
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1