
Sofya menatap putra semata wayangnya dengan tatapan miris. Terbersit rasa kasihan pada seseorang yang pernah mendiami kandungannya selama beberapa bulan itu.
"Lihatlah dirimu, kamu tidak seperti Galih, puteraku yang selama ini mama kenal," ucap perempuan paruh baya itu saat sang putra ia paksa untuk makan.
Tiga hari sejak kepergian Nadia, Galih baru pulang dengan tampilan yang sangat kacau. Tubuhnya sangat tak terawat bagaikan seorang gembel. Makan tak teratur dan lebih memilih merokok dan minum kopi agar tak tertidur.
"Makanlah, setelah ini ceritakan pada mama apa yang sebenarnya kamu lakukan pada menantu mama?!" Sofya menyodorkan semangkuk bubur ayam yang masih hangat ke hadapan Galih.
Galih tak menjawab. Ia hanya melakukan perintah sang mama yaitu makan dengan lahap seperti orang yang belum pernah makan selama satu bulan. Ia meminta tambah sampai 3 mangkuk membuat sang mama menitikkan air matanya.
"Katakan pada mama kenapa Nadia pergi darimu nak?" tanya Sofya lagi saat ia melihat sang putra sudah selesai makannya.
Galih menghela nafasnya kemudian memandang perempuan paruh baya itu.
"Maafkan aku ma. Aku pasti mempunyai banyak kesalahan sampai istri ku sangat membenciku dan tidak ingin lagi bertemu," ucap Galih. Ia menunduk dengan perasaan yang kembali sedih.
Sofya mengelus bahu sang putra dengan perasaan yang sama. Ia tahu kalau putranya sedang butuh sandaran untuk masalah keluarganya. Ia tahu kalau Galih sudah tidak ingin dinasehati dan diberikan wejangan.
Galih butuh tempat untuk mengadu dan didengarkan.
"Mandilah. Bersihkan dirimu. Mama yakin kamu juga perlu bertemu dengan Allah, curahkan hatimu padaNya agar perasaanmu menjadi lebih baik."
"Terimakasih ma. Aku akan mandi. Nadia paling tidak suka melihat orang yang kotor dan bau seperti aku, hehehe," ucap Galih dengan terkekeh.
Ya, ia sedang menertawakan dirinya yang begitu rapuh karena ditinggal oleh seorang perempuan yang sangat ia cintai.
Beginikah perasaan perempuan yang aku permainkan selama ini?
Sakit tapi tak berdarah.
Membunuh secara perlahan dengan sangat kejam.
Pria itu pun memasuki kamarnya dengan perasaan Dejavu. Sebuah perasaan sakit yang sama saat Nadia kembali meninggalkannya sendiri.
Ia pun membuka seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan dirinya seraya menata wajahnya di kaca yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus karena tak pernah bercukur.
"Kamu sangat kejam padaku Nad. Tidakkah lebih baik jika kamu tikam saja aku dengan pisau yang sangat tajam daripada membiarkan aku merindu seperti ini hah?!" ucapnya seolah-olah perempuan itu ada di hadapannya.
Sebuah tarikan nafas berat ia lakukan untuk melonggarkan dadanya yang sangat sesak. Mengambil air wudhu, ia pun keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian yang bersih.
Sholat dan sujud yang panjang dan lama untuk menumpahkan keluh kesahnya pada Tuhan ia lakukan. Ia berdoa semoga Tuhan mau memberikan jalan keluar dari masalahnya saat ini.
Berlama-lama duduk diatas sajadahnya untuk merenungkan kesalahannya selama ini sampai mendapatkan cobaan perasaan yang sangat menguras pikiran dan tenaganya.
__ADS_1
Tak lama kemudian ia pun jatuh tertidur. Ternyata tubuhnya juga butuh istirahat. Tiga hari tanpa tidur dengan baik. Hanya diatas kendaraan seperti seorang musafir yang tak punya tempat untuk bernaung.
Galih tidur dengan tubuh menggigil. Ia demam dengan suhu tubuh yang meningkat. Anti body pada tubuhnya sedang lemah. Ia akhirnya tumbang juga.
🌹
"Ada apa dengan pasien itu sus?" tanyanya pada perawat yang baru saja keluar dari ruangan tindakan.
"Keguguran dokter. Kasihan banget, padahal udah hampir tiga bulan kandungannya," jawab sang perawat dengan wajah simpatinya.
"Oh, kasihan banget. Suaminya ada?"
"Tidak ada dokter. Tak ada keluarga yang mengantarnya."
"Oh. Jadi sekarang tindakan apa yang sudah dilakukan untuknya sus?" tanya Nadia penasaran. Entah kenapa ia merasa sangat khawatir pada pasien yang pernah sangat ia benci itu.
"Akan dikuret dokter tapi kita butuh izin dan keterangan dari keluarganya. Tapi sampai sekarang ia belum mau berbicara. Nampaknya pasiennya sedang ketakutan."
Bagi calon ibu, keguguran merupakan suatu hal yang menyakitkan. Baik dari segi fisik dan mental.
"Saya akan melihatnya," putus Nadia. Ia begitu ingin bertemu dengan perempuan itu.
"Silahkan dokter." Sang perawat pun membuka pintu untuk Nadia dan mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan tindakan.
"Dokter Nadia," cicit perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.
"Yang sabar ya mbak. Janin mbak Nara gak bisa diselamatkan." Nadia mengelus lembut lengan perempuan itu.
"Iya dokter."
"Kami harus mengambil keputusan cepat untuk membersihkan rahim mbak Nara karena sisa janin yang tidak berkembang itu bisa mengganggu rahim."
Nara hanya menyimak.
"Apa ada nomor suami atau keluarga yang bisa kami hubungi supaya tindakan tepat bisa cepat kita lakukan mbak?"
Nara hanya menangis. Ia tampak sangat terpukul.
"Saya tidak punya keluarga dokter."
"Suami?" tanya Nadia dengan dada berdebar-debar. Entah kenapa ia begitu khawatir kalau perempuan itu akan menyebut suaminya sendiri atau Galih Pradana.
"Saya tidak punya dokter."
__ADS_1
Entah kenapa, Nadia merasa sangat lega dengan jawaban itu. Tapi ia masih merasa sangat penasaran dengan hubungan perempuan itu dengan suaminya dimasa lalu atau mungkin diam-diam dimasa sekarang.
"Apakah mbak Nara bisa menganggap saya sebagai keluarga?"
Nara tampak sangat kaget dengan perkataan dokter cantik itu. Seorang dokter yang sangat ia benci karena berhasil mendapatkan Galih Pradana dari dirinya dan dari gadis-gadis lain.
"Saya yang akan bertandatangan untuk tindakan cepat yang harus dilakukan untuk mbak Nara."
"Terimakasih banyak dokter," ucap Nara dengan airmata yang semakin banyak luruh dari kelopak matanya. Perasaan bersalahnya pada perempuan itu semakin terasa mengiris hatinya.
"Baiklah, kami akan segera melakukan tindakan untukmu mbak. Kamu harus kuat. Insyaallah akan ada lagi rezeki yang Tuhan akan berikan saat mbak Nara sudah mempunyai suami," ucap Nadia seraya memerintahkan dokter yang sedang bertugas di sana untuk memberikan perawatan terbaik untuk Nara agar tidak mengalami infeksi pada kandungannya setelah kuret dilakukan.
"Terimakasih banyak dokter," ucap Nara setelah semua prosedur itu sudah dilakukan padanya. Nadia juga yang menanggung semua biaya perempuan itu.
"Sama-sama mbak Nara. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik." Nadia tersenyum. Bayangan foto-foto Nara yang penuh bekas cu*pang dan video syur itu entah kenapa jadi berkelebat di dalam kepalanya lagi.
Ia merasa sedih karena bukan hanya dia yang sangat spesial di hati pria itu.
Nara sangat mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh dokter cantik itu.
"Bu dokter, saya banyak salah padamu. Sesungguhnya mas Galih tak pernah sedikitpun pernah melakukan apa yang ada di dalam video itu denganku. Saya hanya membuat video palsu untuk menyakiti hatimu."
Nadia tersentak kaget. Ia menatap Nara dengan tatapan serius.
"Mas GALIH memang Cassanova dan sering bermain-main dengan kami. Tapi sungguh ia tak pernah melakukan hal yang semacam itu pada semua perempuan yang pernah dekat dengannya termasuk pada saya."
Nadia terhenyak. Ia tak tahu harus mengatakan apa.
"Kami bahkan tak pernah melihat anggota tubuhnya dokter. Ia hanya menyenangkan kami dan meninggalkan. Saya sendiri tidak tahu apa maksudnya tapi tahukah anda? Itu sangat menyiksa dan membuat kami gila."
Nadia tak mampu lagi untuk bicara. Dadanya sesak. Ia pun langsung pergi dari ruangan itu dengan tangis yang kembali pecah.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon maaf lahir batin ya.
Selamat hari raya idul adha bagi yang
merayakannya.
Like dan komentarnya dong.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊