
Hari pun berganti.
Dunia terasa milik berdua sedangkan yang lain hanya numpang, begitulah kira-kira ungkapan yang sangat cocok untuk sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta itu.
Galih Pradana dan Nadia Gazali, tak ada kata cinta yang keluar dari mulut mereka tetapi keduanya merasa sudah sangat saling memiliki.
Jangan dikata tentang fisik, keduanya sudah saling hafal anggota tubuh dan keadaannya masing-masing karena setiap saat mereka saling mengecek dan memeriksa.
Galih kali ini menggantikan profesi Nadia sebagai dokter. Pria itu tak berhenti memastikan kondisi tubuh istrinya dalam keadaan baik atau tidak.
Setelah Nadia merasakan sebuah perasaan aneh, asing, dan nikmat, maka ia akan menyediakan jarum besar dan tumpul untuk menyuntik atau menginjeksi pasien spesial itu dengan sangat indah.
Dan biasanya akan berakhir dengan teriakan penuh kesyahduan dari bibir sang istri. Membuatnya semakin tertantang untuk melakukan manuver-manuver agar Nadia semakin bahagia dalam kuasanya.
Kamar pribadi pria itu yang memang asalnya indah, bersih, dan nyaman menjadi tempat yang paling cocok untuk mereka berdua.
Keluar kamar hanya untuk makan setelah itu mereka berdua kembali masuk untuk bermesraan.
Tak ada waktu kosong yang mereka lalui tanpa bersama-sama. Tak ada rasa bosan yang mereka rasakan karena setiap melakukan apa saja terasa begitu indah.
Debaran di dada semakin sering berpacu tak normal.
Bibir tak berhenti untuk tersenyum menandakan begitu indahnya setiap tarikan nafas mereka.
Tatap-tatapan dengan malu-malu, yang pada akhirnya semuanya akan berakhir di ranjang dengan kegiatan panas yang tak pernah bosan mereka lakukan.
Nadia benar-benar dibuat seperti seorang ratu. Galih melayaninya, merawatnya, dan membuatnya selalu berteriak nikmat setiap saat sampai ia sendiri lupa untuk keluar dari kamar dan untuk bekerja.
Selama hampir sepekan mereka menutup akses dengan dunia luar. Mereka mematikan handphone dan tak ingin memikirkan hal lain selain urusan bercinta dengan berbagai gaya yang diajarkan oleh Galih sang profesional.
__ADS_1
"Sayang, sekarang aku kok jadi seperti perempuan penggoda ya," cicit Nadia sesaat setelah mereka mempraktekkan gaya bercinta yang sangat ekstrim. Galih hanya tersenyum kemudian menjawab.
"Aku ingin kamu profesional Nad. Aku ingin kamu menikmati semuanya sayang. Biar kamu tahu kalau hidup itu memang harus ekstrim."
"Tapi kan bikin tubuhku jadi kelelahan seperti ini. Aku juga jadi gak bisa bantu mama di dapur seperti menantu idaman lainnya," ucap Nadia merajuk manja. Ia meletakkan kepalanya pada dada bidang sang suami.
"Aku bilang gak usah kamu pikirkan itu sayang. Ada banyak asisten rumah tangga yang akan bantuin mama."
"Cukup kita berdua saja melakukan yang enak-enak di sini," ucap Galih seraya mengecup kepala sang istri.
"Dan handphone aku. Dimana kamu sembunyikan. Ini aku sudah berapa hari gak masuk kerja lho. Aku bahkan udah lupa hari ini hari apa." Nadia langsung bangun dan menatap suaminya dengan tatapan tajam.
Sepertinya ia baru sadar sekarang kalau ia sudah lama tidak keluar dari dunia bercinta dengan suaminya.
"Istirahatlah, dan jangan pikirkan pekerjaan. Aku akan menguruskan cuti untukmu." Galih menjawab dengan santai. Ia pun menarik tubuh istrinya itu kembali ke dalam pelukannya.
"Ya ampun. Memangnya kamu siapa, sampai ngurusin cutiku pula. Aku sekarang mau ke Rumah Sakit. Pekerjaan aku banyak." Nadia langsung berusaha untuk bangun.
Galih ikut bangun dari posisinya dan segera meraih istrinya itu agar berbaring lagi.
"Nggak. Jangan rayu aku lagi. Aku ada pekerjaan yang sangat penting di rumah sakit." Nadia bersikeras untuk bangun meskipun ia memang merasa cukup lelah.
Setelah mandi air hangat pasti keadaannya akan normal dan sehat kembali. Tanggung jawabnya yang besar sedang memanggilnya. Dan itu tak boleh ia abaikan.
Berendam air hangat saat itu sudah cukup merilekskan otot-ototnya yang sudah bekerja sangat keras membuat suaminya puas.
Setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan segera memakai pakaian kerjanya. Ia mengecup bibir Galih singkat dan segera pergi dari sana.
Galih yang sudah hampir berada di alam mimpi hanya merasakan sayup-sayup suara Nadia pergi meninggalkannya dan selanjutnya ia pun tertidur dengan sangat nyenyak.
__ADS_1
"Sarapan dulu sayang," ucap Sofiya saat melihat sang menantu sudah akan berangkat bekerja.
"Aku minum susu aja ya ma. Aku nanti sarapan di rumah sakit saja," ucap perempuan itu dan langsung menuju meja makan.
Susu putih segar pun ia minum sampai habis. Seiris roti bakar yang sangat enak ia makan juga menemani sarapan susunya. Setelah itu ia pergi dengan terburu-buru.
Hari ini adalah hari senin. Hari yang sangat sibuk untuk seorang pekerja seperti dirinya.
Dan karena ia baru menggunakan handphone selama beberapa hari ini, maka disaat ia mengaktifkan benda pipih itu ribuan notifikasi pun berbunyi bagaikan rentetan peluru yang sedang ditembakkan kepadanya.
"Astaghfirullah. Hari ini ada tamu yang akan datang," gumamnya pelan. Ia pun semakin tak sabar untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di tempat kerjanya itu, ia ditegur dengan sangat ramah oleh beberapa staf dan karyawan rumah sakit itu.
Dalam hati ia berpikir bahwa semua orang ternyata sangat baik padanya. Ia pun tersenyum manis seraya terus melangkahkan kakinya ke arah ruang kerjanya.
"Selamat pagi dokter!"
Seorang perempuan cantik dan seksih sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
"Selamat pagi. Anda siapa?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Eng ing eng, siapa sih orang yang datang itu?
Jangan lupa bahagia.
__ADS_1
Like dan komentar dong.
Nikmati alurnya dan happy reading 😊