
"Happy birthday Nad, semoga kamu selalu bahagia dan tambah cantik," ucap Harry lagi dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Nadia masih tampak bengong dalam beberapa detik. Ia belum yakin kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Tanggal berapa hari ini Her?" tanyanya spontan. Sungguh, ia benar-benar lupa hari dan tanggal karena yang ada di dalam ingatannya hanyalah Galih yang ia benci.
"18 Juni, bertepatan dengan aku nembak kamu 5 tahun yang lalu. Kamu lupa? Di negara ini juga Nad."
"Oh benarkah? Aku bahkan sudah lupa itu. Terimakasih sudah mengingatkan," ucap Nadia dengan raut wajah datar. Ia tak menyangka kalau Harry sampai mengingat hal yang sangat mendetail seperti itu.
"Dan sepertinya memang hanya aku yang menganggap itu berkesan. Tak masalah. Semoga kamu selalu bahagia," ucap Harry dengan wajah sedikit kecewa.
Tak ada respon yang berlebihan yang ditunjukan Nadia padanya. Bahkan mawar merah kesukaan perempuan itu pun masih berada di tangannya.
Nadia sepertinya tidak tertarik.
"Makasih banyak ya Her, setelah kunjungan kerja kita selesai, aku akan mentraktirmu. Kamu mau 'kan?"
"Tentu saja, itu adalah tawaran yang tidak boleh ditolak bukan? Ditraktir oleh seorang kepala rumah sakit yang masih sangat muda dan cantik." Harry tersenyum lebar. Ia sangat senang saat ini.
"Kamu tidak berniat untuk menggombal aku 'kan? Aku sudah menikah lho," sahut Nadia dengan senyum diwajahnya.
"Ah ya, sayang sekali. Tapi tak apa, kita bisa mengunjungi tempat-tempat yang pernah kita datangi dulu. Itu saja sudah membuat aku senang lho Nad."
"Ah ya, kalau hal itu nanti aku pikirkan." Nadia tampak berubah serius. Ia tidak mungkin jalan bersama dengan pria lain yang jelas mengharapkannya padahal ia sudah menikah.
"Nad," panggil Harry saat perempuan itu berniat masuk kembali ke kamarnya.
"Iya Her." Nadia berbalik dan menatap mantan tunangannya itu.
"Bunganya belum kamu terima," ucap Harry tersenyum sembari menyerahkan setangkai mawar merah yang sejak tadi dipegangnya.
__ADS_1
"Ah ya, lupa maaf. Terus terang, Aku merasa risih aja sih, jika menerima bunga padahal aku sudah dimiliki oleh orang lain," ucap perempuan itu seraya menerima pemberian Harry.
"Dan juga ini?" tanyanya saat pria itu ternyata memberinya bukan cuma bunga tetapi juga sebuah kotak cantik yang berisi macam-macam cokelat kesukaannya.
"Itu hadiah. Jadi jangan kamu tolak."
"Hum, baiklah. Aku terima tapi jangan minta imbalan ya," ucap Nadia seraya meraih semua benda pemberian pria itu.
"Tentu saja. Kamu sangat kenal aku 'kan Nad. Aku sejak dulu menyukaimu dan itu sampai saat ini."
"Plis. Ini bukan waktu yang tepat. Dan juga tidak akan pernah tepat." Nadia mengangkat tangannya ke udara sengaja memperlihatkan cincin pernikahannya agar Harry menyadari statusnya saat ini.
"Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu Nad?" tanya pria itu dengan tatapan sendunya.
Nadia tidak menjawab tetapi hanya tersenyum tipis.
"Nad, aku tahu siapa Galih. Kalau kamu tidak bahagia tolong kembalilah padaku. Aku rela berlutut di hadapan pria itu agar mau melepasmu."
"Dan kamu menangis?"
"Ya, begini cara aku mengekspresikan bahagiaku. Ah sudahlah, aku mau nyimpan kado mu. Kita harus sarapan sebelum kita lanjut dengan tujuan kita ke negara ini."
Nadia langsung meninggalkan pria itu agar perasaannya yang sedang rapuh ini tak terbaca. Ia juga ingin menyimpan pemberian dari mantan tunangannya itu.
Harry menghela nafas beratnya. Ia tahu kalau Nadia sedang dalam masalah. Perempuan itu sangat supel dan ceria dan sekarang ia bahkan tidak pernah bicara sejak dari Jakarta sampai di negara ini.
"Selamat ulang tahun dokter," ucap Clara yang tenyata mengintip pembicaraan dua orang itu sejak tadi.
"Terimakasih banyak Clara. Jangan buang-buang waktu. Ayo segera kita turun ke restauran."
"Ah ya baiklah dokter." Clara hanya menipiskan bibirnya. Ia tak menyangka perempuan yang sedang berulang tahun itu seperti orang yang sedang PMS.
__ADS_1
Datar dan tampak tidak ada ekspresi gembira.
"Jangan bengong. Ingat, orang Singapura sangat disiplin dengan waktu."
"Ah iya dokter. Saya sudah siap kok." Clara pun mendahului perempuan itu keluar dari kamar itu. Dan begitu kagetnya ia karena dokter Harry Zulkarnain ternyata masih ada di depan kamar itu.
"Kita jalan duluan saja dokter. Sepertinya dokter Nadia sedang PMS. Aneh dia.'
"Maksud kamu?" tanya Harry dengan wajah penasaran.
"Sejak tadi malam dia nangis terus."
"A-apa?!"
"Ups! Apa aku terlalu ember dokter?" ucap Clara seraya menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Menurut kamu?" tanya Nadia yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka berdua.
"Oh tidak!" Clara langsung berlari ke arah lift.
Ia takut.
"Nad, aku ada disini. Katakan ada apa?" tanya Harry seraya menghalangi langkah dokter cantik itu.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Apakah Nadia akan curhat pada Harry?
Like dan komentarnya dong.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊