Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 26 Dan Kamu Diam


__ADS_3

"Sayangku, aku tidak melanggar aturan kalau kita melakukannya atas dasar suka sama suka," ucap Galih seraya meraih kembali tubuh Nadia kedalam rengkuhannya.


Sungguh, libidonya sekarang berada dipuncak. Ia akan tersiksa jika tidak menyalurkannya saat ini juga.


Celananya sampai sangat sesak dibuatnya.


Ia juga heran karena ini tidak pernah terjadi padanya. Jika dengan para perempuan yang pernah dijadikannya partner, ia tidak pernah terpancing samasekali.


Ia yang selama ini memuaskan perempuan-perempuan nackal itu kemudian meninggalkannya jika mereka sedang berada di puncak.


Menyiksa mereka dengan caranya sendiri.


"Nad, plis." Galih memohon dengan sangat.


Nadia tak peduli. Ia merasa telah menjadi korban seperti perempuan-perempuan lain. Ia pun turun dari ranjang seraya memperbaiki letak pakaiannya yang sudah sangat berantakan.


Perempuan itu meninggalkan Galih tanpa berkata-kata lagi.


"Aaargh!" Galih memukul bantal dihadapannya dengan sangat frustasi. Ia kesal dengan keadaan yang terjadi pada dirinya saat ini.


Baru kali ini hasratnya seolah-olah dipermainkan oleh seorang perempuan. Dan sayangnya perempuan itu adalah istrinya sendiri.


Nadia keluar dari kamar itu dengan menahan perasaan asing yang memenuhi dadanya. Perutnya terasa diaduk-aduk. Ia mengutuk dirinya yang hampir saja termakan rayuan buaya darat itu.


"Nadia?"


"Ah iya Ma,"


Nadia tampak sangat kaget dibuatnya. Ia langsung meletakkan telapak tangannya di depan dadanya.


"Kok kaget gitu? Ada apa? Galih mana?" Sofya bertanya dengan wajah serius.


"Di dalam kamar ma. Eh, aku mau cobain masakan mama nih. Kayaknya enak tuh." Nadia berusaha mengalihkan perhatian sang mama mertua.


Ia bahkan mendahului Sofiya berjalan kearah dapur dengan gugup. Ya, ia gugup karena hatinya ternyata masih tersimpan di dalam kamar itu bersama dengan suaminya si Cassanova.


"Aku biasa makan rendang ma, tapi gak tahu cara buatnya," ucapnya seraya menarik kursi meja makan itu kemudian duduk.


"Kamu makan aja dulu, kita nanti bisa masak kalau kamu ada waktu. Suamimu bilang, kalian bahkan jarang makan bersama karena kamu terlalu sibuk." Sofya ikut duduk di depan menantunya itu.

__ADS_1


"Ah, iya ma. Maafkan aku. Aku pasti sangat mengecewakan mama dan Galih." Sofia terhenyak. Ia menatap Nadia dengan tatapan lurus.


"Ah gak kok. Santai saja." Sofya menjawab dengan wajah yang tiba-tiba tak nyaman.


Ia merasa ganjil dengan panggilan Nadia pada putranya yang tidak ada embel-embel mas, abang, uda, atau apa saja yang kedengaran lebih sopan.


"Ma, aku juga ingin makan." Galih tiba-tiba saja muncul di hadapan dua perempuan itu dan langsung ikut makan.


Nadia meliriknya sekilas tapi pria itu samasekali cuek. Ia sepertinya sedang menghindari pertemuan mata dengan istrinya.


Nadia mengangkat bahunya acuh tak acuh. Ia berusaha untuk tetap santai meskipun ia tahu jantungnya sekarang tidak sehat.


Makan malam itu berlalu dalam kekakuan. Galih tampak tak ceria seperti biasanya sedangkan Nadia hanya diam saja kecuali Sofia memancingnya untuk bicara.


"Gak usah dibereskan sayang, asisten rumah tangga di sini dibayar mahal oleh suamimu. Jadi kamu nikmati kualiti time berdua."


"Baik ma, terimakasih banyak. Kalau begitu saya ke kamar dulu ya ma." Nadia pun pamit meninggalkan ruangan makan itu dan segera ke kamar suaminya.


Ia cukup senang karena mertuanya cukup memahami dirinya. Dengan langkah cepat ia pun masuk ke dalam kamar yang ia tinggalkan tadi. Ia mencari laptopnya yang ternyata sudah disiapkan oleh sang suami.


"Bagus juga. Galih ternyata menepati janjinya untuk membuatku pindah tempat kerja ke kamar ini," ujarnya pelan.


Bosan.


Tiba-tiba ia merasa sangat bosan dengan pekerjaan-pekerjaan ini yang terasa tidak ada habisnya.


Matanya ia arahkan kesekeliling ruangan untuk memberikan penilaian pada kamar itu lagi.


Beberapa saat yang lalu ia sudah mengamatinya tetapi sekarang entah kenapa, ia begitu penasaran lagi dengan isi kamar pria itu.


Pria tampan yang ternyata sangat jago berciuman.


Ia pun berdiri dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya mencari informasi tentang pria yang telah menjadi suaminya ini.


"Oh, ternyata dia memang seorang arsitek. Pantas saja semua yang ada di rumah ini dan terkhusus kamar ini, sangat tertata dengan sangat baik," ujarnya tanpa berhenti mengamati seisi kamar.


Beberapa foto atau gambar pria itu dengan Fardan Larigau dan juga Usman Ali Kemal terpajang rapih di atas sebuah Buffett.


"Ternyata mereka sudah sahabat sejak SMA, tapi kok aku gak tahu ya?"

__ADS_1


"Aku kan sering main sama Kak Usman, tapi kok aku gak pernah ketemu ya? Wajahnya juga asing."


"Dimana papanya? Semua fotonya kalau tidak sendiri ya bersama mama Sofya. Apakah papanya dah meninggal?"


Perempuan itu mengangkat bahunya. Ia pikir itu tidak penting baginya.


Nadia pun meninggalkan gambar-gambar itu dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia melihat banyak medali dan piala di dalam lemari kaca yang berukuran 80 X 200 CM itu.


"Wow, gak nyangka. Dia banyak juga ya prestasinya." Ia berucap seraya mengintip kedalam lemari kaca itu.


"Hem, siapa kekasihnya sebenarnya? Apakah para perempuan yang ada di dalam video itu masih sering dihubunginya?"


"Untuk mendapatkan kepuasan? Lalu aku? Kedudukanku sama dengan perempuan itu? Hem enak saja. Dia pikir aku ini perempuan apaan?"


Nadia mencibir. Ia pun memutar tubuhnya dan berniat untuk tidur saja. Ia sudah mengantuk meskipun ini belum jadwal tidurnya.


"Apa yang kamu cari?" tanya Galih dengan tatapan datar tak seperti biasanya.


"Cari? Aku tidak mencari apa-apa. Kenapa?" Nadia balas bertanya. Galih pun tidak menjawab.


Pria itu segera menuju Walk in Closet miliknya. Ia ingin mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Nadia juga ingin mengganti pakaiannya.


Nadia sudah naik ke atas ranjang begitupun dengan Galih. Ia ingin tidur lebih cepat tanpa ada perdebatan dengan istrinya.


Tumben, gak ngajak debat dan ganggu aku.


Nadia menarik nafasnya berat.


Ternyata ia merasa tidak nyaman juga kalau suaminya diam saja.


Baiklah, kamu diam aku juga akan diam. Tekad Nadia dalam hati.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2