
Bandara Soekarno Hatta.
"Sayang, kita udah sampai," bisik Galih pada kuping istrinya yang sedang tertidur di bahunya.
Sebuah Announcement Boarding sudah berbunyi menandakan pesawat yang mereka tumpangi akan segera tinggal landas.
Lampu-lampu pun dimatikan begitupun dengan sabuk pengaman harus kembali dipasang.
Nadia tidak bergerak. Ia begitu nyenyak berada di bahu lebar sang suami.
Galih hanya tersenyum kemudian mengelus lembut pipi sang istri. Anak-anak rambutnya pun ia rapikan. Ia sangat maklum kalau sang istri kelelahan. Bagaimana tidak, ia jarang memberikan waktu untuk Nadia beristirahat.
Ia sendiri mengutuk dirinya yang jadi hyper SE*x gara-gara sudah merasakan tubuh Nadia yang terasa sangat cocok untuknya.
Selama berada di Negeri berlambang singa itu, mereka tak pernah berhenti melakukan kegiatan menyenangkan yang sangat menguras tenaga dan juga emosi bahagia.
Ia seperti seorang pria yang telah meminum obat kuat karena tak pernah berhenti ingin membawa sang istri ke kayangan.
Padahal ia tak pernah sedikitpun menggunakan obat-obatan semacam itu. Tubuhnya hanya bermodalkan olahraga dan juga makanan yang bergizi dan mengandung nutrisi yang sangat bagus untuk fertilitas.
"Sayang, bangun," ucapnya lagi dengan berbisik. Guncangan keras pun sudah mereka rasakan saat pesawat sudah menukik dan mendekatkan rodanya pada landasan pesawat.
"Hum, kita udah sampai ya?" tanya Nadia seraya membuka kelopak matanya. Ia pun meluruskan punggungnya dan meregangkan otot-ototnya.
"Lemes ayang," ucapnya manja. Galih tersenyum kemudian meraih bibirnya dan memberikannya kecupan singkat.
"Sampai rumah, mama pasti sudah siap dengan makanan penambah tenaga untukmu," ucap pria itu dengan tatapan penuh cinta pada sang istri.
"Masih mau bobok. Ya ampun aku lemes banget," ucap perempuan cantik itu lagi.
"Ya Allah, kamu gemesin banget sih. Andai ini jet pribadi, aku pastikan akan bikin kamu mendessah nikmat lagi sayang," goda sang suami dengan jari-jari bergerak mengelus bibir istrinya.
Sungguh ia masih sangat ingin melabuhkan satu ciuman panjang di bibir itu tapi lampu dalam kabin tiba-tiba menyala.
Seorang pramugari berjalan memeriksa kesiapan penumpang sebelum turun dari pesawat.
"Bersiaplah sayang, kita sebentar lagi turun," ucap Galih tersenyum.
"Bisa minta gendong gak sih, lemes banget tahu gak," balas Nadia masih dengan wajah manjanya.
Galih tak tahan. Ia pun mengecup hidung sang istri kemudian menyentuhkan keningnya pada kening Nadia.
Ia tak peduli lagi kalau ada pramugari atau penumpang yang lain yang melihat mereka bermesraan di atas pesawat.
Ia mengulum lembut bibir sang istri. Menyesapnya begitu dalam sampai mereka lupa segalanya.
Nadia adalah istrinya dan ia bahkan ingin mengumumkan pada dunia kalau ia sangat bahagia dan rela melakukan apa saja untuk perempuan ini.
Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan indah seperti ini dan ia merasa sudah sangat sangat jatuh cinta pada perempuan berprofesi sebagai dokter itu.
Ia siap dikatakan gila.
"Ayang udah," bisik Nadia saat ia berhasil melepaskan tautan bibir mereka berdua. Perempuan cantik itu ternyata merasa deg-degan juga jika berciuman di dalam kabin pesawat.
__ADS_1
"Love you so much, sayang," bisik Galih dengan suara bergetar.
"Love you too," balas Nadia dengan pipi menghangat bahagia.
"Gimana? Kuat gak turun sendiri? Atau aku gendong?" tanya Galih tersenyum. Ia merapikan rambut istrinya dengan jari-jarinya.
"Kuat lah, 'Kan kamu udah kasih aku suplemen, hihihi." Nadia tertawa cekikikan.
"Oh, jadi tadi itu cuma drama capek Hem?" tanya Galih tersenyum. Tangannya mulai mengambil tas kecil istrinya dan memakaikannya pada Nadia.
"Ih, emang capek beneran kok. Kamu sih gak kenal waktu banget. Luncurkan rudal tak henti-henti."
"Jangan mancing ya, sebut-sebut rudal bisa-bisa kita singgah di hotel terdekat dan bukannya balik ke rumah."
"Ish, apaan. Gak akan. Aku beneran udah gak kuat. Pengen tidur seharian dan tanpa gangguan okey?"
"Iya siap. Tapi gak janji hehehehe."
Dua orang itu pun turun dari pesawat dan langsung menuju ke tempat bagasi. Menunggu koper dan beberapa paket oleh-oleh untuk semua anggota keluarga
Randu dan Vania sudah menunggu mereka di depan terminal kedatangan untuk penumpang internasional.
"Kak, kami di sini!" Vania berteriak keras seraya mengacungkan satu lembar kertas berisikan nama Galih dan Vania.
Gadis itu melompat kegirangan seperti sedang menjemput seorang selebritis yang baru menginjakkan kakinya di negara ini.
Nadia tak tahan untuk tertawa.
"Kamu kurang piknik ya Van?" tanyanya seraya memberikan semua barang yang dibawanya pada sang adik.
"Ih, kurang piknik apaan? Aku selalu piknik kok kak." Vania cemberut.
"Lah itu tadi jemput pakai acara lebay kayak gitu. Kita 'kan gak akan nyasar kalau disini juga." Nadia berucap seraya melenggang santai di depan Vania dan Randu. Tangannya tak lepas memeluk lengan sang suami.
"Ish bucin!" Vania mencibir.
"Kakak gak asyik nih. Suka serius banget. Semoga aja kakak ipar gak bosan sama kak Nadia."
Nadia menghentikan langkahnya begitupun dengan Galih.
Dua orang yang sedang dimabuk cinta itu langsung menatap Vania dengan tatapan tajam.
"Ampun! Gak kok, aku salah ngomong hehehe Piss!" Vania langsung mengangkat dua jarinya di depan wajahnya dan kabur lebih dulu.
Randu pun ikut memburunya sembari mendong troley yang berisi semua barang bawaan pasangan bulan madu itu.
"Ayang, kamu memangnya akan bosan padaku?" tanya Nadia dengan wajah manjanya.
Galih tersenyum.
"Insyaallah tidak. Selama ada Tuhan dalam diriku, aku tak akan bosan dan selalu mencintaimu," jawab Galih seraya menyentuh pipi sang istri. Ia mengelusnya lembur.
"Yang aku khawatirkan, kamu yang akan bosan padaku," ucap pria itu dengan tatapan sendunya.
__ADS_1
Entah kenapa, ia masih merasa Nadia belum benar-benar bisa mencintainya seperti yang ia inginkan.
"Udah ah, malu diliatin smua orang. Ayok kita getuk kepalanya Vania." Nadia segera mengalihkan pembicaraan.
Ia meraih tangan suaminya untuk melanjutkan langkah mereka ke arah parkiran. Galih pun ikut saja.
Ia berusaha untuk menikmati ini. Nadia adalah masa depannya sekarang. Dan tak ingin memikirkan hal-hal negatif.
"Pulangnya ke ruang mana nih bos?" tanya Randu sebagai sopir.
"Rumah!"
"Rumah!"
Galih dan Nadia bersamaan menjawab.
"Maaf pak, rumah yang mana ya?" Randu bingung.
"Rumah mama!"
"Rumah mama!"
Dua orang itu menjawab bersamaan lagi. Randu semakin bingung.
"Rumah mama yang mana sih kak?" Kali ini Vania yang ikut menimpali. Ia ikut bingung juga. Masalahnya dua orang yang sedang duduk di jok belakang itu mempunyai dua mama.
"Mama Sofia!"
"Mama Thalia!"
Dua orang itu lagi membuat Randu dan Vania bingung.
"Aku mau ketemu mamaku, dah lama gak ketemu," ucap Nadia dengan tatapan lurus pada wajah sang suami. Nampak sekali kalau keinginannya ingin dituruti saat ini.
"Padahal mama Sofiya udah siapin makanan dan minuman yang aku bilang itu. Nih, mama udah fotoin," ucap Galih dengan wajah yang nampak sedikit kecewa.
Ia memperlihatkan handphonenya yang berisikan percakapannya dengan sang mama.
Nadia terdiam.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Yang ia tahu ia sudah hampir dua pekan tak bertemu dengan mama kandungnya. Dan ia sudah sangat rindu.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Ayo dong readers, beri tahu Nadia, ia harus ikut kemana?
Ikut keinginan suami atau bagaimana?
Like dan komentar dong.
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1