Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 66 Hari Bahagia


__ADS_3

Untuk sepersekian detik, otak Galih mulai mengolah fakta yang ada di hadapannya. Ia pun menatap sang istri dengan dengan perasaan haru dan bahagia.


Ia pun berlutut di hadapan Nadia kemudian menyentuh perut perempuan itu kemudian mengecupnya.


"Apakah aku benar-benar akan menjadi Daddy sayang?" tanyanya dengan suara bergetar. Nadia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat gembira menyatakan hal ini pada sang suami tercinta.


"Hai Daddy!" ucap Nadia menirukan suara anak kecil.


Galih semakin tak kuat mendengarnya. Ia kembali mencium perut rata beralaskan pakaian itu dengan perasaan yang sangat bahagia.


Ia pun berdiri dari posisinya dan langsung mengulum lembut bibir Nadia.


"Aku mencintaimu Nad. Terimakasih banyak ya sayang," bisiknya dengan suara parau.


"Aku yang berterima kasih padamu karena mempercayai benih kamu simpan di dalam perutku ini ayang," balas Nadia seraya mengalungkan tangannya pada leher kuat sang suami.


Galih tersenyum dengan tatapan penuh cinta pada istrinya. Ia pun mendekatkan wajahnya lagi dan kembali meraih bibir Nadia dengan gaya French Kiss favoritnya.


Mereka berdua benar-benar telah kehabisan kata dalam mengekspresikan perasaan bahagia mereka. Dan Sofyia yang tanpa sengaja melihat mereka di depan pintu hanya bisa menghela nafas.


Sepertinya ia harus berangkat ke acara Aqiqah Asma dan Fardan diantar oleh sopir. Dua sejoli itu tidak pernah habis saling memanjakan.


Ia sangat maklum karena mereka berdua baru merasakan yang namanya jatuh cinta.


"Sayang, kamu merusak dandanan aku, lihat nih berantakan semua 'kan?" rajuk Nadia setelah mereka berdua saling melepaskan.


"Bibirmu manis banget sayang, rasa strawberry," ucap Galih seraya menyentuh bibir perempuan itu dengan ibu jarinya.


"Ih, kamu juga ayang. Cepetan keluar nanti mama ngambek lho. Udah lama nungguin pastinya." Nadia mendorong tubuh pria itu agar segera keluar dari kamar untuk menemui sang mama mertua.


Galih menurut tetapi menyempatkan untuk mencium perut sang istri sekilas. Ia pun meninggalkan Nadia dengan jari-jari merapikan kembali rambutnya yang telah dikacaukan oleh perempuan itu.


"Mama? Udah mau berangkat ya? Gak nungguin kami dulu?" ucap Galih saat melihat sang mama sudah naik ke atas mobil lain diantar oleh sopir keluarganya.


"Iya. Kamu lanjutkan saja dulu kegiatan kamu sama Nadia. Mama jalan duluan assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Galih menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia jadi sangat malu membayangkan kalau mamanya melihat secara live apa yang telah dilakukannya di depan kamarnya beberapa saat yang lalu itu.


Semoga hanya mama yang melihat dan bukan asisten rumah tangga, ucapnya membatin.

__ADS_1


Pria itu pun masuk kembali ke dalam kamar untuk menemui Nadia.


"Mama udah berangkat sayang," ucapnya pada sang istri yang masih berada di depan cermin memperbaiki riasannya yang sempat kacau.


"Lho, kok bisa? Apa jangan-jangan mama udah capek nungguin kita ya?" jawab Nadia seraya mengoleskan liptin lagi di atas permukaan bibirnya yang terasa membengkak karena perbuatan suaminya.


"Hum, kayaknya mama lihat kita tadi deh sayang di depan pintu."


"Apa?! Oh tidak. Mau ditaruh dimana muka aku ayang. Malu banget nih," ucap Nadia dengan wajah panik dan gelisah.


"Gak apa-apa. Mama pasti ngerti kok. Apalagi kalau aku bilangnya kita akan memberinya cucu, pasti deh mama akan sangat senang." Galih menjawab dengan senyum lebar diwajahnya.


"Ah iya. Tapi semoga saja mama gak mikir macam-macam soal aku." Nadia merasakan malu yang sangat luar biasa sekarang. Ia jadi membayangkan bagaimana bersemangatnya ia membalas ciuman sang suami.


"Eh, mau mikir apa emangnya? Kita itu wajar melakukannya sayang. Kita sudah menikah dan ini di dalam rumah kita sendiri, ya meskipun kita ada di dalam kamar dengan pintu yang terbuka sih. Gak usah dipikirin. Ayo cepat kita berangkat."


"Ah iya ayok."


Mereka berdua pun keluar dari kamar itu dengan tangan saling menggenggam.


Dua orang suami istri itu tampak sangat bahagia dengan calon baby yang sudah mulai tumbuh di dalam kandungan Nadia.


🌹


"Nah, ini yang kami sukai dari kalian. Mesra dan tak main kucing-kucingan," ucap Usman Ali Kemal saat ia sudah berhadapan dengan Galih dan juga Vania.


"Enak tuh main kucing-kucingan pak wali. Rasanya ada manis-manisnya gitu. Iyyakan sayang?" balas Galih dengan tangan merengkuh pinggang Nadia. Ia menatap istrinya dengan tatapan menggoda.


"Ish! Manis sih manis tapi manisnya bikin diabetes," ucap Nadia dengan ekspresi lucu. Semua keluarga yang hadir pun langsung tertawa.


"Iya nih hampir saja saya menindaki dengan tegas si cassanova ini kalau berani membuat putriku menangis lagi, hahaha!" Gazali ikut menimpali seraya tertawa terbahak-bahak.


Galih Pradana hanya bisa meremas tengkuknya tak nyaman. Sepertinya semua keluarga menatapnya dengan lelucon-lelucon yang siap diluncurkan.


"Terima kasih atas sambutan semua keluarga yang hadir. Dan terimakasih atas doanya karena istriku yang sangat cantik ini masih mau menerima dan memaafkan suaminya yang tak sempurna ini," ucap Galih dengan penuh percaya diri di depan semua orang.


"Dan, sekarang aku juga ingin menyaingi kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Pak Fardan dan istrinya atas kelahiran putranya yang insyaallah Sholeh. Aku juga sebentar lagi akan jadi Daddy dan pak walikota akan menjadi uncle."


"Huuu! Kami sudah tahu lebih dulu!" teriak beberapa anggota keluarga yang lain.

__ADS_1


"Iyyakah?" tanya Galih dengan wajah tak nyaman.


"Gak apa-apa. Meskipun aku lambat tahu tapi aku sangat bahagia. Ini adalah anugrah yang sangat besar dari Tuhan untukku. Terimakasih banyak Nadia sayang. Dan terimakasih untuk papa dan mama mertuaku yang telah merawat dan membesarkan seorang perempuan cantik dan baik hati seperti dirinya."


Galih langsung meraih istrinya ke dalam pelukannya, menciumnya di depan umum dan menyatakan betapa ia sangat mencintai perempuan cantik itu.


Semua orang langsung bertepuk tangan. Harry Zulkarnain yang ternyata juga hadir pada acara itu memaksakan dirinya untuk bertepuk tangan juga.


Ia ingin Ikhlas tapi hatinya belum juga rela. Ia pun segera mencari minuman dingin untuk melapangkan sedikit rasa sesak di dalam dadanya.


"Bisakah bapak membuka hati untuk yang lain?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul di sampingnya. Harry mendongak dan melihat kalau staffnya yang bernama Clara sedang tersenyum padanya.


"Insyaallah bisa kok. Silahkan duduk Clara," ucap Harry mempersilahkan gadis itu untuk duduk.


"Kalau bisa kenapa bapak masih belum bahagia?"


"Belum ada yang bisa menggantikan Nadia di hati ini," ucap Harry sendu.


"Kalau aku? Apakah mungkin pak?"


"Hah? Memangnya kamu mau?" tanya Harry dengan tatapan serius.


Clara mengangkat bahunya kemudian tersenyum lebar.


"Siapa yang tidak mau sama kepala dinas seperti bapak."


"Kamu hanya memandang jabatan aku?!"


"Tidak pak. Tapi aku ingin jadi istri bapak."


"Kamu melamar aku Clara?" tanya Harry lagi dengan wajah tak percaya. Gadis itu tersenyum kemudian menjawab, "Kalau bapak menganggap itu lamaran, bisa juga."


Harry nampak berpikir. Ia perlu waktu.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2