
Galih berjongkok dan memeriksa keadaan perawat itu. Ia nampak bingung dengan apa yang terjadi.
Perasaan dia baik-baik saja. Kenapa bisa jadi seperti ini?
Ujarnya dalam hati.
"Hey, bangun! Kamu tidak apa-apa 'kan?" Galih mengguncang-guncang tubuh perempuan itu yang tak bergerak sama sekali.
Ia pun meraih pergelangan tangan Ayunda untuk memeriksa detak nadi perempuan itu.
*Bagus kok.
Suhu tubuh juga okey. Tapi*?
"Aaargh, tolong bawa aku ke kamar sana pak," ucap Ayunda yang tiba-tiba saja terbangun. Akan tetapi ia tampak sangat lemas.
Galih memandang perempuan itu dengan perasaan tak nyaman. Ia jadi merasa bersalah karena menolongnya mencari Nadia, perempuan itu jadi pingsan seperti ini.
Dan mungkin ia sedang sangat kelelahan dan kurang istirahat. Maklumlah, menjadi perawat jaga yang dapat shift malam bisa membuat seseorang jadi kurang tidur.
"Pak, tolongin. Bawa aku ke ruangan dokter Nadia. Aku harus berbaring sebentar saja sampai bisa sehat kembali."
"Tapi 'kan ruangan itu terkunci?" tanya Galih dengan wajah bingung.
"Aku ada kunci serepnya kok pak, ini," ucap Ayunda seraya meraih sebuah anak kunci dari dalam saku bajunya.
"Hah? Maksud kamu?"
"Aaargh tolong. Pinggang aku sakit sekali." Ayunda berusaha mengalihkan perhatian Galih. Ia tidak mau pria itu menebak-nebak apa yang ia inginkan.
Galih pun segera membantu perempuan itu bangun dari lantai. Setelah itu ia membuka ruang kerja Nadia yang tidak seperti ruangan yang dulu ia datangi.
Ayunda langsung berpura-pura terjatuh lagi. Tapi kali ini jatuhnya ke dada bidang Galih. Ia tahu kalau di ruangan itu ada karena CCTV nya. Jadi ia sengaja menghadap ke arah kamera dengan senyum liciknya.
"Tunggu sebentar, aku akan meminta perawat lain untuk membantumu," ucap Galih dan membantu perempuan itu untuk berbaring di atas sofa yang terdapat di dalam ruangan kerja itu.
"Pak, gak usah panggil orang lain. Aku cuma ingin pak Galih saja yang menemaniku disini."
__ADS_1
"Hey, tapi kamu butuh perawatan juga," balas pria itu seraya bersiap untuk berdiri dari posisinya. Akan tetapi Ayunda meraih tangan pria itu dan menggenggamnya.
"Jangan pak. Aku tidak mau kelihatan lelah saat bekerja. Aku takut dipecat pak," ucap perempuan itu dengan tangan mengelus lengan Galih yang sangat berotot itu. Ia memaksa airmatanya untuk keluar dari kelopak matanya.
"Aku hanya perawat honorer di sini pak. Kalau aku tidak bekerja, aku akan dipecat dan tidak akan punya lagi pekerjaan untuk biaya hidup di kota besar ini, hiks."
"Tapi kamu sakit. Nadia pasti mengerti. Ia tak akan memecatmu. Aku yang akan memberi tahu tentang keadaanmu." Galih mencoba membujuk. Akan tetapi perempuan itu malah bangun dan memeluk lengan Galih dengan posesif.
"Aku tetap takut pak. Aku sudah sering seperti ini. Aku tak mau kesehatan aku menjadi pertimbangan bagi semua karyawan disini. Jadi tolonglah aku pak." Ayunda merajuk. Ia semakin berusaha menggoda Galih dengan mendesakkan dadanya yang berukuran besar itu pada tubuh Galih.
Galih yang sudah punya pengalaman dengan perempuan nackal seperti Ayunda langsung melepaskan tangannya dari rengkuhan perempuan itu. Tadinya ia sudah merasa iba dan kasihan tetapi tiba-tiba saja ia merasa sangat jijik.
"Jadi sedari tadi kamu tahu kalau Nadia tidak ada disini?" tanya Galih dengan tatapan tajam. Otaknya dengan cepat berpikir logis. Ia tidak boleh kasihan pada perempuan semacam itu.
"Keluar kamu dari ruangan kerja istriku!" titah Galih dengan rahang mengeras.
"Pak Galih. Maksud anda apa?" tanya Ayunda dengan wajah dibuat polos tak mengerti. Ia bahkan semakin menangis dan mengeluh kesakitan.
"Kamu sangat tahu maksud aku. Jadi sebelum kamu saya permalukan silahkan kamu keluar dari ruangan ini," ujar Galih dan rahang mengeras.
Galih tercekat. Ia tak menyangka kalau perempuan ini bahkan lebih licik dari yang ia pikirkan.
Ia menyesal mengikuti perempuan ular ini.
"Baiklah, lalu apa maumu?!" Galih mengalah. Ia ingin tahu apa yang diinginkan oleh perempuan itu padanya.
Ayunda tersenyum senang. Ia lalu mendekati Galih dan ingin lagi memeluknya, menyentuhkan daya pikat nya, yaitu ukuran dadanya yang lumayan bisa menggoda semua pria.
Galih mengangkat tangannya kemudian mundur. Ia tidak ingin perempuan itu mendekati apalagi menyentuhnya.
"Temani saya melalui malam panjang ini pak Galih. Saya kesepian. Dan kamu pun pasti kesepian."
"Apa?!"
"Iya. Kamu tidak salah dengar. Saya menyukaimu dan saya yakin dokter Nadia juga sangat tahu siapa dirimu. Ia akan rela kok berbagi."
Galih merasakan dadanya mendidih marah. Akan tetapi ia masih ingin mengulur waktu untuk melumpuhkan perempuan ular ini.
__ADS_1
"Bahkan tunangannya pun dia berikan padaku."
"Oh, jadi kamu orangnya yang memisahkan Nadya dan tunangannya?" ucap Galih dengan alis terangkat. Ia ingat bagaimana hancurnya Nadia waktu itu dalam rekaman CCTV rumah sakit yang ia peroleh dari operator.
"Iya pak Galih. Aku lah orangnya yang merebut dokter Harry darinya." Ayunda menjawab dengan sangat bangga dan tak punya rasa malu samasekali.
"Kalau begitu aku harus berterima kasih padamu. Karena gara-gara kehebatanmu aku jadi bisa menikahi Nadia," ucap Galih dengan seringai diwajahnya.
Rekaman CCTV itu yang ia jadikan alat untuk memaksa dokter cantik itu agar menerimanya.
"Oh ya?" Ayunda tersenyum. Ia merasa semakin menang dari Nadia yang sangat ia benci itu.
"Kalau begitu ayo kita keluar dari ruangan ini. Aku akan mentraktir mu dimana saja engkau mau." Galih langsung menunjuk ke arah pintu agar perempuan itu terlebih dahulu keluar dari sana.
"Aku hanya ingin ditraktir dengan cara lain, mau 'kan pak Galih?" ucap Ayunda seraya membuka 3 kancing atas pakainya yang otomatis menampakan dadanya yang berukuran jumbo.
Galih tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kita tidak boleh disini. Ini ruang kerja istriku."
"Kenapa?" tanya Ayunda dengan nada manja.
"Karena aku tidak ingin ia tahu apa yang kita lakukan."
"Justru itu pak Galih. Aku justru ingin dokter Nadia tahu apa yang kita lakukan disini. Di ruang pribadinya. Makanya itu aku sudah lama membuat duplikat kunci ruangan ini." Sekali lagi Ayunda melihat arah kamera di dalam ruangan itu.
Ia ingin Nadia tahu dan melihat lagi secara live apa yang akan ia lakukan dengan suaminya itu.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Apakah Galih akan mengikuti keinginan Ayunda?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1