Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 44 Ayang Giligili


__ADS_3

"Bagaimana rasa ayam penyetnya, Nad?" tanya Galih setelah mereka berdua selesai makan.


"Alhamdulillah, enak kayak makan di negara sendiri." Nadia melap ujung bibirnya dengan tissue kemudian minum.


Saat ini mereka masih berada di dalam area Kallang Wave Mall. Dan mereka sudah nampak akrab dan santai.


Nadia tak lagi meributkan tentang para mantan dan juga kelakuan suaminya selama ini.


Bukan ia memaafkan tapi karena mereka sepakat untuk menikmati bulan madu istimewa sebelum berpisah.


Dua orang itu sepakat untuk berdamai, eh bukan mereka sih, tetapi lebih tepatnya Nadia yang berusaha berdamai dengan hatinya untuk tidak marah dan cemburu.


Eh cemburu?


Iya, Nadia sebenarnya sangat cemburu dan dan sangat tidak rela kalau suaminya itu yang sangat tampan itu dimiliki oleh orang lain selain dirinya.


Nadia berusaha untuk tidak mengungkit masa lalu Galih karena sepulang dari tanah air ia akan mengurus perceraian.


Untuk hari-hari terakhir ini mereka ingin tenang dan menikmati masa bulan madu sebelum berpisah.


Lucu memang, tapi itulah yang terjadi diantara mereka berdua.


"Kalau kamu?" Nadia balas bertanya.


"Apa?" Galih meraihnya tissue juga dan melap ujung bibirnya.


"Kamu suka makanannya juga gak?"


"Suka. Kalau kamu suka aku juga pasti suka."


"Ish!"


Nadia mencibir.


"Kamu mau lancarkan rayuan lagi seperti pada para mantan kamu itu?"'


"Ya enggak lah. Kamu 'kan istriku. Jadi, yang kayak gitu bukan rayuan namanya tapi sebuah ibadah untuk menyenangkan istri."


"Modus!"'


"Terserah."


"Tapi eh, aku kok merasa kurang sopan ya kalau aku panggil kamu dengan kamu atau nama saja. Kamu 'kan lebih tua daripada aku." Nadia berucap seraya menatap wajah suaminya yang juga sedang menatapnya.


Deg


Mata mereka berdua berada pada satu titik yang sama. Dada mereka berdua tanpa aba-aba langsung berdebar dengan sangat kencang.


Untuk beberapa detik mereka saling menyelami perasaan mereka masing-masing.


"Kamu mau manggil aku apa? Sayang? Ayang atau apa?" tanya Galih seraya mencondongkan tubuhnya ke depan agar lebih bisa memandang wajah istrinya yang sangat cantik itu.


"Ish!"

__ADS_1


Nadia mencebikkan bibirnya. Ia memundurkan tubuhnya ke belakang karena tak kuat berdekatan terlalu lama dengan pria itu.


"Lalu?" tanya Galih lagi.


"Lalu apa?"


"Ya, katanya gak nyaman dengan panggilan kamu, lalu istriku yang cantik ini mau manggil aku apa?" senyum khas Galih ia pamerkan lagi dan berhasil membuat Nadia tak bisa bernafas.


Tenang, Tenang, jaga kewarasan. Pria ini memang sangat berbahaya.


Ingat untuk tidak tergoda.


Nadia menarik nafas kemudian balas menatap pria itu.


"Aku mau panggil kamu ayang Giligili mau gak?" ucapnya berusaha untuk tenang meskipun ia baru sadar dengan perkataannya itu justru akan berakibat fatal pada dirinya sendiri.


"UPS 🤭 gak jadi. Kamu gak cocok!" Nadia cepat-cepat meralat. Ia sampai menutup mulutnya seraya menggigit lidahnya.


"Kata-kata yang sudah keluar dari bibirmu yang sangat manis itu udah aku stempel basah. Gak bisa ditarik lagi. Panggil aku ayang Galih."


"Eh, gak! Itu 'kan aku asal aja. Maunya panggil kamu kakak aja."


"Gak mau. Emangnya aku kakakmu? Pokoknya panggil aku ayang trus aku panggil kamu Nanad, fix gak ada debat."


"Nanad?"


"Iya, kamu setuju 'kan?"


Nadia tidak menjawab.


"Ah eh, keliling mall aja. Aku belum pernah lihat-lihat Kallang Wave Mall ini."


"Boleh, ayok!" Galih segera berdiri dari duduknya kemudian meraih tangan Nadia untuk membawanya meninggalkan Restauran itu.


Mereka berkeliling menyusuri mall yang sangat terkenal di Singapura itu.


Mall ini berada di komplek Singapore Sport Hubs dan bersebelahan dengan National Stadium tak jauh dari stasiun MRT Stadium.


Mallnya tidak terlalu besar namun modern, mewah dan bersih meski berada di komplek olahraga yang selalu ramai pengunjung. Konsepnya "sporty" sesuai dengan lingkungan sekitar.


Kallang wave mall terletak bersebelahan dengan national stadium. Pemandangan gedung-gedung tinggi disini cukup indah, cocok dijadikan sebagai lokasi pengambilan gambar.


"Bagaimana kalau kita berfoto dulu Nanadku sayang," ucap Galih seraya mengambil handphone-nya dari dalam saku celananya.


"Ish, geli banget dipanggil Nanad, kayak nanas aja tinggal tukeran De sama Es," ucap Nadia protes.


Galih hanya tersenyum kemudian segera merengkuh pinggang sang istri agar merapat ke tubuhnya.


Cekrek


Cekrek


Ia mengambil beberapa gambar yang sangat indah dari mereka berdua lewat bantuan orang-orang yang juga sedang berkunjung di tempat itu.

__ADS_1


Romantis, lucu, dan menarik.


Ia sedang memeluk Nadia, menciumi pipi perempuan cantik itu.


Mengecup bibirnya dengan cara yang sangat tak terduga bagi Nadia.


"Kamu mengambil kesempatan ya?" ucap Nadia kesal. Ia benar-benar dibuat tak berkutik oleh pria itu yang mengambil gambar-gambar romantis dengan cara candid.


"Eh, ini kan cum untuk kenang-kenangan aja. Jadi kalau kita berpisah, kita bisa menjadikan ini best memory yang perlu dikenang, iya gak?"


Nadia terdiam.


Berpisah?


Ia tidak pernah terpikir untuk datang ke mall ini sebelumnya, tapi begitu menginjakkan kaki di sini malah akan membuat sebuah kenangan untuk perpisahan.


"Hum, kita keliling lagi yuk ayang," ucap Nadia tersenyum. Ya, ia berusaha tersenyum meskipun hatinya mulai merasa tak nyaman.


"Ah iya, ayok."


Galih setuju dan segera meraih tangan sang istri dan menggenggamnya untuk ia ajak berkeliling mall itu.


Mall yang cukup sportive dilengkapi dengan arena panjat dinding di dalamnya. Berbagai tempat permainan untuk anak membuat semua orang betah untuk menikmati mall ini.


Dan saat mereka berdua berkunjung, mall itu tidak begitu sibuk dan sesak, cukup nyaman untuk jalan jalan dan mengunjungi setiap store yang ada di dalamnya,


Makanan yang ada di food hall lantai 3 juga lumayan enak, dengan harga normal.


Cukup lama juga mereka berada di tempat itu. Sampai mereka kembali ke hotel yang tidak jauh dari mall itu dengan membawa banyak barang belanjaan ditangan keduanya.


Semua barang yang diinginkan oleh Nadia, dibelikan oleh Galih meskipun perempuan itu menolak untuk ditraktir.


"Untuk saat ini, aku adalah suamimu. Aku berkewajiban untuk memenuhi semua kebutuhanmu meskipun kamu mempunyai uang yang lebih banyak dari aku." Begitulah jawaban Galih ketika Nadia menolak.


"Aaaaa lelah juga ya, padahal udah sempat mampir di spa untuk relaksasi." Nadia membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di atas ranjang empuk di dalam kamar Galih.


Ya, saat ini mereka sudah berpindah kamar ke sebuah kamar presidensial yang khusus dipesan Galih untuk bulan madu mereka.


"Istirahatlah, aku akan siapkan air mandi untukmu."


"Eh? Gak perlu!"


"Tak apa, sebelum kita berpisah, aku harus melayanimu agar kamu tidak menyesal pernah mengenal aku."


Deg


Seketika hati Nadia terasa sangat nyeri.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan Komentarnya dong.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2