
Nadia mendudukkan tubuhnya di bibir ranjang dengan perasaan lega. Ia memandang ke sekeliling ruangan kamar sang suami yang sempat ia tinggalkan tanpa pamit itu.
Ya, saat ini mereka sudah pulang dari rumah sakit.
"Suamimu punya riwayat asam lambung sayang," ucap Sofiya saat itu. "Dan kambuh saat kamu pergi meninggalkannya tanpa kabar," lanjut perempuan paruh baya itu dengan suara rendah.
Nadia tersindir. Ia merasa sangat bersalah mendengar hal itu. Ia jadi merasa menjadi orang yang tak punya perasaan.
"Sekali saja ia makan selama tiga hari itu dan akhirnya tumbang. Putraku sangat mencintaimu Nadia. Jadi kalau kamu ada keluhan padanya, tolong jangan disimpan-simpan sendiri. Sampaikan pada mama kalau kamu tak mampu menyampaikan padanya."
"Iya ma. Maafkan aku. Lain kali aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi." Nadia berucap seraya menyusut cairan bening yang sudah merebak keluar dari kelopak matanya.
Sungguh, ia baru merasakan kalau ia sudah sangat kekanak-kanakan karena telah marah tak jelas padahal belum mengkonfirmasi semuanya pada sang suami.
"Mama tidak menyalahkan mu Nadia, mama hanya ingin kalian berdua saling terbuka kalau ada permasalahan di dalam keluarga kalian. Sekecil apapun itu tolong untuk berkomunikasi."
Ia berharap bisa melakukannya agar hubungannya dengan Galih lebih baik kedepannya.
Perempuan itu pun mengelus perutnya yang masih rata. Ia belum memberitahu pada suaminya kalau saat ini ia sedang mengandung.
"Sayang, lagi mikirin apa?" tanya Galih saat baru saja keluar dari kamar mandi. Nadia tersentak kaget kemudian membawa pandangannya ke arah sang suami seraya tersenyum manis.
Tubuh pria itu tampak lebih segar sekarang. Dan aroma sabun dari tubuh atletisnya benar-benar membuat Nadia sangat tenang. Ia sangat menyukainya. Ia pun berdiri dari duduknya kemudian menghampiri sang suami yang nampak sangat seksih itu.
Selembar handuk putih melilit pada tubuh bagian bawahnya.
Beberapa hari ia tinggalkan dalam keadaan tidak sehat ternyata tidak membuat pesona tubuh itu jadi berkurang. Perut kotak-kotaknya masih sama dan bahkan semakin menarik.
"Aku lagi mikirin kamu ayang," jawab Nadia seraya mengelus rambut dada bidang suaminya.
"Benarkah? Apa yang kamu pikirkan tentang aku?" tanya Galih dengan senyum khasnya. Tangannya langsung merengkuh tubuh Nadia agar merapat padanya.
Nadia tersenyum kemudian mengecup bibir Galih sekilas. Dingin dan harum aroma pasta gigi bisa ia rasakan. Dan itu sangat menyegarkan.
"Hum, apa ya?" ucap Nadia pura-pura berpikir dengan tatapan mata langsung pada mata elang sang suami. Jari-jari lentiknya bergerak menyusuri rahang tegas pria itu.
Ia rindu dan ingin bercumbu tapi entah kenapa otaknya malah mengingat Nara dan Ayunda yang baru-baru ini ia temui. Perasaannya langsung berubah.
Ia pun melepaskan dirinya justru saat Galih ingin menyentuh lagi bibirnya.
"Hey, ada apa?" tanya Galih khawatir. Ia takut istrinya kembali ingin meninggalkannya. Nadia tak menjawab tetapi malah kembali duduk.
__ADS_1
"Sayang, ada apa sih?" tanya Galih seraya ikut duduk di simpang sang istri.
"Ceritakan padaku tentang semua perempuan yang pernah dekat denganmu," ucap Nadia dengan wajah berubah datar.
"Perempuan yang mana?"
"Semuanya. Termasuk Ayunda."
Galih tampak berpikir. Apa iyya semua perempuan yang pernah dekat dengannya harus ia ceritakan semuanya?
Wow bisa sampai pagi kalau semua harus ia ceritakan.
"Jujur dan jangan ada yang ditutup-tutupi!" tegas perempuan itu dengan hati yang akan ia kuat-kuatkan.
Galih menghela nafasnya. Ia pun tersenyum kemudian meraih tangan Nadia dan mengecupnya lembut.
Apakah kalau ia berucap dengan jujur perasaan sang istri tidak akan berubah lagi padanya?
Ah, sesungguhnya ia sangat khawatir.
"Apakah aku harus menceritakan semuanya sayang?" tanya Galih dengan kening mengernyit.
Galih menghela nafasnya kembali. Ia seperti seorang tersangka yang dipaksa untuk mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukannya dimasa lalu.
"Aku akui pernah mempunyai banyak hubungan dengan perempuan sebelum kamu Nad."
Nadia bergerak gelisah. Hatinya mulai dilanda perasaan tak nyaman.
"Mereka bukan perempuan baik-baik. Mereka adalah perempuan nakal yang suka menjadi pelakor. Dan sesungguhnya aku benci pada mereka sayang."
"Benci tapi kamu menikmati tubuh mereka?"
"Oh tidak. Aku tak pernah melakukan itu Nad. Aku sengaja mempermainkan mereka sayang." Nadia tidak menjawab. Ia mulai menghubungkan penjelasan suaminya dengan perkataan Nara waktu itu.
"Aku hanya ingin menyiksa mereka dalam hasrat karena aku ingin membalas mereka yang memang pantas mendapatkannya."
"Mereka adalah perempuan binal penggoda pasangan orang lain. Mereka adalah penyebab papa dan mama berpisah. Papa lebih memilih perempuan seperti itu dan meninggalkan kami berdua."
Nadia langsung menatap suaminya dengan tatapan intens. Ia tidak tahu kalau pria tampan di hadapannya ini tenyata mempunyai kisah kelam di dalam keluarganya.
"Aku benci perempuan selain mama. Aku mendekati mereka hanya untuk membalas dendam. Papa begitu gampang tergoda sedangkan aku tidak. Aku yang sengaja membuat mereka bertekuk lutut padaku dan memberikan semua yang mereka miliki."
__ADS_1
Mata Galih berkilat. Dendam itu ternyata masih ada di dalam hatinya.
"Lalu bagaimana dengan Ayunda?" tanya Nadia saat ia mengingat perempuan itu lagi dengan pantynya yang berwarna merah.
"Ayunda? Perawat itu?" balas Galih. Nadia mengangguk.
Galih tersenyum dan langsung membuat jantung sang istri kebat-kebit lagi.
"Ayunda sama saja dengan mereka sayang. Perempuan itu bahkan lebih buruk daripada Nara, Maya, Dinna, dan yang lainnya. Dia bahkan ingin menggodaku karena ingin membalas dendam padamu."
"Lalu apa yang kalian lakukan di dalam ruang kerjaku saat itu?" tanya Nadia hati-hati. Ia harus menjaga hatinya untuk mendengar kabar terburuk sekalipun dari bibir sang suami.
Galih sekali lagi menunjukkan senyum khasnya yang membuat dada Nadia kembali berdebar lebih cepat dari sebelumnya.
Pria itu jadi paham sekarang. Rupanya karena perempuan tak tahu malu itu yang sudah meracuni hati dan pikiran sang istri.
"Kami tidak melakukan apapun. Bukankah kamu mempunyai sambungan rekaman CCTV ke dalam handphone kamu sayang?"
Nadia tersenyum meringis kemudian menjawab, "Aku sudah menghapus semuanya karena aku sangat marah padamu waktu itu."
"Oh sayang sekali ya." Galih menjawab dengan wajah ditekuk kecewa.
"Lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana posisi aku di dalam hatimu?" tanya Nadia.
"Kamu istimewa sayang. Dan apakah kamu tahu kalau kamulah perempuan pertama yang aku cintai?"
Nadia merasakan hatinya menghangat. Ia menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh cinta.
"Benarkah?" tanya Nadia malu-malu.
"Hum, ya. Dan satu lagi. Kamu perempuan pertama yang merasakan kekuatan rudal ku ini sayang," ucap Galih seraya membawa tangan sang istri ke dalam handuknya.
Nadia langsung melotot karena rudal balistik itu sepertinya sudah siap untuk meluncur.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong kalau mau menyaksikan si rudal mengobrak-abrik landasan Nadia, hehehe 😂.
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1