Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 19 Kartu Undangan


__ADS_3

"MasyaAllah, kamu beneran mau nikah Nad? Ya Allah. Ih seneng banget tahu gak?" ucap Laura dengan wajah berbinar senang. Laura sampai mencubit pipi mulus Nadia saking senang dan gemes nya.


"Gak tanggung-tanggung lho, kalian nikahnya besok. Kamu gak sedang positif 'kan?" Laura menatap Nadia dengan tatapan menyelidik.


Nadia mencibir. Andaikan yang dihadapannya ini bukan istri walikota mungkin ia sudah menyuntiknya dengan suntikan botox agar semakin cantik, hehehe.


"Ya enggaklah mbak. Aku ini masih perawan Ting Ting. Jangan asal nuduh ya," ujar Nadia dengan wajah kesal. Dipikir nikah dadakan ini terjadi karena hal yang tidak-tidak.


"Nadia mungkin gak positif tapi Galih iyaa hahaha," ujar Usman menimpali dengan tawanya yang sangat menyebalkan. Laura ikut tertawa. Mereka jadi membayangkan pria Cassanova itu yang malah hamil karena saking seringnya berhubungan dengan pacar-pacarnya.


"Selamat deh Nad. Semoga kamu bahagia dan nikahnya karena Allah ya," ujar Laura seraya menimang-nimang bayinya yang semakin hari semakin menggemaskan saja.


"Mbak Laura kok ngomongnya kayak gitu sih. Ya, aku nikah emang karena Allah," ucap Nadia dengan senyum penuh makna, tapi ini hanya karena aku dipaksa oleh pria brengsek itu lanjutnya dalam hati.


"Ya kali, siapa tahu aja kan, kalian nikah karena ada unsur a dibalik b." Laura tersenyum.


Ia sengaja mengucapkan hal itu karena ia tahu dari fardhan dan asma bahwa Galih sedang bertaruh dengannya tentang pernikahan ini.


"Positif thinking dong mbak. Udah ah, aku mau pulang. Mau istirahat, aku capek antar undangan ke sana ke sini." Nadia pun berpamitan untuk pulang dari rumah jabatan itu.


"Hati-hati. Harusnya bukan kamu tuh yang antar undangan. Vania 'kan ada." Usman ikut menimpali.


"Gak apa-apa kak. Undangan yang aku antar pun hanya orang-orang terdekat kok." Nadia tersenyum.


"Lagipula kalau Vania yang antar undangan bisa-bisa informasi yang ia berikan kepada keluarga itu ada yang ia tambah dan ada yang ia kurangi nggak suka aku," lanjut dokter itu kemudian benar-benar pergi dari sana.


Begitulah Nadia, selama pekerjaan itu bisa ia kerjakan maka ia akan mengerjakannya karena tak suka kalau ada yang kurang dan tak sempurna dimatanya.


Laura dan Usman menghela nafas mereka kemudian saling berpandangan. Nadia mau membuka hati untuk pria lain setelah masa terpuruknya dengan Harry adalah hal yang sudah luar biasa.


Tapi masalahnya, pria ini adalah Galih Pradana, yang semua orang tahu adalah seorang Cassanova handal di kota ini. Apa iyya Nadia keluar dari mulut buaya malah masuk ke mulut harimau?


Laura langsung meletakkan baby Haidar ke dalam baby bouncher nya kemudian menatap suaminya.


"Mas, kamu bilang Galih itu kayak gimana, kok kamu setuju sih sahabatmu itu nikahin Nadia."


"Gak apa-apa. Kita berprasangka baik aja. Lagipula Galih gak seburuk itu kok. Semoga setelah menikah kebiasaan buruknya selama ini udah bisa hilang sayang."

__ADS_1


"Tapi 'kan mas?" Laura masih ingin protes tapi tubuhnya langsung diraih ke atas pangkuan pria itu.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Allah bisa memberikan petunjuk pada hamba yang diinginkanNya. Jadi kamu tak perlu khawatir."


"Mas, aku gak rela lho sama Galih itu, aku takut Nadia malah terluka lebih hebat dari ini."


"Sayang, jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Galih meskipun orangnya seperti itu tapi ia punya rasa kasih sayang yang tinggi. Insyaallah mereka berdua bisa saling mengisi."


Laura merenggut. Hatinya belum rela apalagi kalau ia ingat bagaimana pria itu juga pernah sangat tergila-gila pada Nana Ninu.


Usman langsung meraih bibir istrinya dan mengulumnya dengan sangat lembut. Ia ingin istrinya itu rileks dan santai pernikahan Nadia dan Galih.


"Jangan kamu pikirkan sayang, ini adalah pekerjaan Tuhan, kita hanya bisa melihat, berharap, dan berdoa semoga semuanya baik-baik saja." Usman menelusuri bibir istrinya yang masih basah itu dengan ibu jarinya.


"Iya mas, aku ngerti kok."


"Nah, sekarang yang harus kamu pikirkan adalah bagaimana caranya kita bisa berjalan-jalan ke nirwana mumpung baby Haidar lagi anteng tuh," ucap Usman dengan senyum diwajahnya.


Laura paham maksud suaminya. Ia pun turun dari pangkuan pria tampan itu dan pergi ke arah pintu untuk menguncinya.


Sementara itu, Nadia yang masih berada dalam perjalanan pulang ke rumahnya tiba-tiba saja menghentikan mobilnya di pinggir jalan sepi.


"Sial! Apa sih maunya?" umpatnya dengan wajah kesalnya.


"Bikin mood hancur saja!"


Ia kembali menggerutu. Dengan wajah kesal ia memandang mobil hitam itu dari kaca spionnya.


Sejak tadi mobil hitam yang ia kenal itu mengikutinya dan bahkan sering ingin menyalipnya.


Pemilik mobil itu adalah Harry Zulkarnain, mantan tunangannya.


Nadia akhirnya turun dari mobilnya dan menunggu pria itu menghampirinya.


"Halo Nad. Aku rindu sekali padamu sayang," ucap Harry dengan senyum diwajahnya. Ia nampak sangat santai tanpa merasa bersalah telah menggangu perempuan itu dalam perjalanannya.


"Kamu gak tahu kalau telah menggangu perjalanan aku Hem?!"

__ADS_1


"Oh, maaf maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin bertemu denganmu Nad," balas Harry seraya melipat tangannya di depan wajahnya. Nadia hanya diam saja.


"Kamu ngundang aku kok gak nyerahin sendiri sih undangannya?" tanya Harry berbasa-basi. Ia berusaha untuk tenang dulu baru kemudian menyerang gadis cantik yang masih sangat dicintainya itu.


"Maaf gak sempat."


"Oh jadi penggantiku adalah Galih Pradana ya? Aku kira kamu akan mencari seorang ustadz yang tanpa dosa dan cela. Tapi ternyata,..." Harry tidak melanjutkan kata-katanya. Ia sengaja menggantungnya.


"Ternyata apa?" tanya Nadia dengan tatapan tajam.


"Oh, jadi kamu gak tahu siapa itu Galih Pradana? ckckck kasihan sekali kamu Nad. Kamu terlalu naif. Calon suamimu itu adalah seorang penjahat kelamin!" Harry langsung menyerang Nadia tepat sasaran.


Nadia terhenyak. Ia memicingkan matanya dan langsung menghadapi pria itu.


"Apa maksudmu Harry!"


"Oh, jadi kamu tidak tahu ya? Lalu kemana saja kamu selama ini? Sibuk bekerja dan menyalahkan aku yang baru kali itu melakukan kesalahan karena khilaf?"


"Maaf, aku tidak ingin membahasnya. Permisi!" Nadia langsung berbalik dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Buka pesan aku Nad. Dan kamu akan tahu siapa calon suamimu itu. Aku masih ada di sini menunggumu jika kamu berubah pikiran."


Nadia tidak menjawab. Ia langsung melajukan mobilnya karena tak ingin berlama-lama bersama dengan pria itu.


"Galih Pradana, Hem!" geram Harry seraya


meremas kertas undangan pernikahan Nadia yang ia dapatkan di mejanya tadi siang.


"Brengsek! Menikah dengan Cassanova itu, apa maksudmu Nad? Kamu ingin membalas ku ya?!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2