
"Ya ampun kak, cowok itu tampan banget," ucap Vania dengan mata masih memandang ke dalam kaca spion yang menampakkan sosok Galih Pradana disana.
"Baik lagi," lanjut Vania dengan dada berdebar tak karuan.
"Baik apanya? Untungnya aku itu bukan tipe pembalap yang suka kecepatan tinggi, jadinya gak sampai terperosok kedalam galian yang ada di depan jalanan itu."
"Lho hubungannya apa?" tanya Vania bingung.
"Hubungannya adalah, kontraktor seperti itu lalai dalam bekerja. Gak masang rambu-rambu lalulintas dengan benar. Akhirnya apa? Mobilku terperangkap di sana. Untung tidak lecet. Kalau lecet akan aku suruh pria itu ganti rugi!"
"..."
Vania terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa karena sebenarnya kakaknya lah yang salah dengan tidak berhati-hati. Mereka berdua pun diam dan tidak lagi melanjutkan perdebatan. Apalagi Vania tahu kalau sang kakak pasti tidak pernah mau salah.
"Nah sekarang kamu turun. Udah sampai!" Nadia menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan besar dan juga luas. Sebuah universitas tempat sang adik menuntut ilmu.
"Ingat! Jangan mau tergoda pada pesona pria seperti tadi! Playboy banget tuh orangnya!" Nadia berucap seraya menatap wajah sang adik dari balik kacamata hitamnya.
"Kok tahu sih kak?" tanya Vania balas menatap sang kakak.
"Ya tahu aja lah. Sudah sana. Kamu belajar yang rajin dan ingat untuk tidak bermain-main."
"Iya ndoro putri, betewe makasih ya kak udah nganterin aku," ucap Vania dengan tangan menengadah meminta jajan.
"Ya Allah, kamu ini. Jajan dari mama emangnya gak cukup?" Nadia menghela nafasnya berat. Adiknya ini benar-benar bikin kesal kalau selalu minta jajan padanya. Padahal ia juga lagi butuh banyak uang untuk membangun istana impiannya yang super perfect.
"Cukup sih, tapi aku lagi ada proyek kak. Dan itu butuh banyak budget. Jadi plis, berilah aku secukupnya saja," ucap gadis itu dengan senyum lebar diwajahnya. Tak ada wajah memohon disana hingga membuat Nadia bertanduk.
__ADS_1
"Nih ambil. Tapi awas kalau proyekmu itu abal-abal dan tidak jadi atau mangkrak." Nadia pun memberikan beberapa lembar rupiah bergambar presiden pertama Republik Indonesia itu dengan nada ancaman.
"Insyaallah jadi kok kak. Tenang aja. Dan aku doakan kakak dapat jodoh pria baik hati dan tidak pelit agar aku kecipratan, bye!" Vania langsung kabur menuju gerbang kampusnya dengan hati riang.
"Dasar! Doanya selalu begitu kalau udah dapat uang!" Nadia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat ia bekerja selama ini. Ia cepat tiba di Rumah sakit itu karena jalanan tidak begitu macet.
Turun dari mobilnya dengan membawa perlengkapan kerjanya, ia tersenyum penuh semangat. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin itu adalah tekadnya untuk bahagia.
Akan tetapi ternyata itu hanya tekad semata. Orang yang paling ingin ia hindari dalam hidupnya saat ini ternyata ada di depan ruangannya. Nampak sekali kalau pria itu, Harry Zulkarnain, dokter penyakit dalam di rumah sakit itu sudah lama menunggunya.
"Selamat pagi sayang," sapanya dengan senyum diwajahnya. Nadia berdecih dalam hati. Ia sangat jijik dengan pria sok tampan dan perhatian itu.
"Selamat pagi dokter Harry. Maaf, aku lagi sedang tidak mood untuk bertemu dengan seseorang."
"Oh, kok gitu sih? Trus pasien kamu nanti apakah hanya akan lewat virtual saja?" Harry menghampiri dokter cantik itu dengan senyum yang masih setia terpatri diwajahnya yang tampan.
Pria itu tahu kalau Nadia sedikit ngambek padanya karena tidak bisa menemaninya lembur beberapa hari yang lalu. Jadi kini ia ingin meminta maaf.
"Nad, status itu adalah status kemarin. Aku yang memeriksa pasienmu di sini karena kamu tidak masuk. Jadi jangan buat alasan untuk menghindari aku okey?" Harry membuka pintu ruangan poli penyakit dalam itu agar kekasihnya bisa masuk. Nadia hanya mendengus pelan. Ia tidak bisa lagi untuk lari dari masalah ini.
Gadis itu pun memasuki ruang poli itu dan menyimpan semua perlengkapan kerjanya di atas mejanya. Otaknya mulai berpikir untuk mengusir pria itu keluar dari ruangan itu.
"Sus, bisa gak tinggalkan kami berdua? Kami sedang ingin membicarakan hal penting." Harry memandang seorang perawat yang menjadi asisten Nadia di dalam ruangan poli penyakit dalam itu.
"Ah iya. Tentu saja dokter," ujar sang perawat dengan senyum diwajahnya. Gadis itu pun segera berjalan ke arah pintu tapi Harry memanggilnya kembali.
"Sus, tolong bawa status ini ke bagian administrasi ya," ujar Harry seraya menunjuk tumpukan status pasien yang ada di atas meja Nadia.
__ADS_1
"Ah iya dokter. Untungnya diingatkan, hehehe maaf dokter Nad, seharusnya meja dokter sudah steril pagi ini tapi saya sibuk sendiri," ujar sang perawat dengan wajah tak nyaman. Ia lupa kalau Nadia tidak suka berada pada ruangan kerja yang kotor dan tidak rapih.
"Gak apa-apa sus. Tapi ingat kalau suster harus kembali cepat ya, aku lihat pasien tuh banyak sekali di luar."
"Iya dok. Saya ngerti kok," ucap gadis itu dan benar-benar pergi dari ruangan itu. Harry tersenyum kemudian menutup pintu ruangan itu dari dalam.
"Hey, kenapa pintunya dikunci sih?!" tanya Nadia kesal.
"Apa kata orang nanti kalau kita berdua saja di dalam ruangan ini dengan pintu terkunci. Buka gak!" seru Nadia dengan tatapan tajam pada wajah Harry.
"Aku minta maaf Nad. Kamu sepertinya menghindar dariku ada apa?"
"Buka dulu pintunya dokter HARRY ZULKARNAIN! tegas gadis cantik itu dengan wajah mengeras.
"Kenapa sih? Kamu takut berdua denganku Nad? Aku ini calon suamimu. Di dalam ruangan tertutup seperti ini tidak masalah bagi kita karena semua orang di rumah sakit ini tahu hubungan kita." Harry melangkahkan kakinya mendekati dokter cantik itu.
"Sayangnya kamu salah mengunci ruangan dokter Harry! Untuk pembicaraan santai seperti ini ruangan poli tidak perlu dikunci," ucap Nadia dengan tatapan tajam pada pria yang sangat ia benci itu.
"Akan tetapi jika dokter berniat atau ingin melakukan sesuatu yang maaf tanda kutip," Nadia mengangkat kedua jarinya dan menggoyangkannya sebagai tanda khusus. "Maka biasakan untuk mengunci ruangan itu agar tidak ada orang lain yang menyaksikan hal menjijikan apa yang sedang kamu lakukan dengan perawat jaga!"
Deg
Harry langsung merasakan tubuhnya membeku. Ia tak bisa bergerak karena sangat shock dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut gadis cantik yang sangat ingin ia nikahi itu.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊