
"Kak Randu, maafkan aku ya," ucap Vania saat pria itu sudah nampak lebih baik dari sebelumnya.
Randu hanya tersenyum tipis. Ia sangat mengerti perasaan Vania saat ini. Sejak tadi gadis itu hanya diam dengan perasaan yang sangat tidak nyaman.
"Kalau terjadi sesuatu padamu aku tak akan sanggup untuk memaafkan diriku sendiri, hiks," lanjut gadis itu seraya menyusut air matanya.
"Jangan menangis," ucap Randu pelan bagaikan bisikan.
"Kamu tidak salah," lanjutnya seraya meraih tangan Vania dan membawanya ke dadanya.
"Aryan memang berbahaya. Untungnya aku ikut bersamamu." Vania mengangguk dengan perasaan yang semakin merasa bersalah. Ia membenarkan perkataan Randu.
Air matanya kini semakin deras saja mengalir. Sesal karena ia sudah tahu bagaimana sifat Aryan tapi nekat bermain-main dengannya.
"Iya kak. Tapi lihat sekarang apa yang kamu dapatkan. Aku bersalah dan menyesalinya. Maafkan aku," ucap gadis itu dengan tangis sesenggukan.
"Kalau kamu menangis terus seperti itu lukaku semakin sakit Van. Tolong berhentilah menangis." Randu tak tahan melihat perempuan yang sangat dicintainya itu bersedih.
"Iya kak. Tapi aku tidak bisa menahan perasaan sesal ini. Aryan itu memang gila dan aku menyesal telah mengenalnya."
"Iyaa. Dia itu pria gila dan berbahaya. Semua keluarganya mengalami penyakit yang sama. Dan kumohon untuk tidak pernah lagi meladeni Aryan-Aryan yang lain karena aku tidak suka Van. Aku cemburu."
Randu menatap Vania dengan tatapan sendu hingga langsung membuat dada gadis itu berdebar kencang. Hatinya menghangat bahagia.
"Kenapa?" tanya Vania dengan dada berdebar. Ia menunggu kalimat lain dari bibir pria tampan itu.
"Kenapa apa?" tanya Randu tersenyum tipis.
"Ish. Gak jadi." Vania jadi keki sendiri. Ia tentu saja malu kalau ia yang harus mengutarakan keinginannya itu. Ia pun segera mengalihkan pembicaraan.
"Kak Randu kenal banget ya sama Aryan?"
"Hmmm ya."
"Oh gitu? Tapi kok reaksinya kayak gitu sih kak?"
Randu menggenggam tangan Vania kemudian mulai menjawab, "Kami pernah tetanggaan selama beberapa tahun terakhir. Akan tetapi ia terpaksa harus dipenjara karena aku yang melaporkannya. Ia sering merundung, menganggu, dan bahkan menyakiti anak orang. Ia seringkali kedapatan melakukan kekerasan pada anak di sekitar rumah kami."
__ADS_1
"Oh ya Allah, memang benar gila ya, pada aku juga sebenarnya sering banget nyiksa aku gitu kak. Awal-awalnya baik lama-lama dia akan menunjukkan sifat aslinya."
"Huuftt, aku sudah tahu tapi kok aku mau meladeni dirinya lagi. Oh astaghfirullah, nyesel banget kak." Vania meringis ngeri. Ia sampai bergidik takut jika mengingat semua tentang Aryan.
"Oh, jadi kalian berdua memang mengenal pria itu?" tanya Galih yang baru saja tiba di kamar perawatan itu bersama dengan Sofiya sang mama.
"Eh kak? Tante?" Vania langsung menyalami Sofiya dan Galih kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Gimana keadaan kamu Randu?" tanya Shofia
"Alhamdulillah udah lebih baik tante. Untungnya pak Galih dan Bu Nadia cepat datang dan memberi pertolongan."
"Alhamdulillah. Syukurlah. Tante sampai shock banget dengan kalian ada masalah dengan orang gila seperti itu lho."
"Iya tante, Aryan memang gila orangnya." Randu menjawab dengan tatapan menerawang. Ia seperti memikirkan sesuatu.
"Randu, apa penyerangan yang dilakukan oleh pria gila itu karena dendam sama Nanad atau bagaimana?" tanya Galih penasaran.
"Aryan dendam padaku pak. Kami pernah berselisih paham dulu. Dan sekarang ia ingin mengambil Vania dariku," jawab Randu dengan jujur.
Hati Vania langsung berdebar bahagia mendengar pengakuan dari pria yang sudah lama ia sukai itu.
"Eh, ngomong-ngomong. Apakah Nanad kemari saat aku tidak ada?" tanya Galih seraya menatap sebuah penanda waktu di pergelangan tangannya.
"Nggak kak. Kak Nadia gak kesini kok. Mungkin ia istirahat di ruang kerjanya atau sudah pulang." Vania menjawab.
"Ah, aku coba hubungi dulu deh, mau mastiin aku jemputnya dimana," gumam Galih seraya meraih handphonenya karena sudah mulai sangat rindu pada istrinya itu.
Tuuut
Tuuut
"Kok gak aktif ya," ucapnya seraya menatap wajah semua orang.
"Ma, aku ke ruangan kerja Nanad ya, aku dan Nadia nanti ke sini lagi kok sebelum ku bawa pulang untuk beristirahat.
"Iya." Sofiya menjawab dengan senyum diwajahnya. Galih pun segera pergi dari ruangan perawatan itu dengan langkah cepat. Entah kenapa ia selalu merasa sangat was-was jika istrinya itu tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
Langkahnya terhenti di depan selasar rumah sakit saat bertemu dengan Ayunda si perawat.
"Hai pak Galih, terakhir ketemu kamu meninggalkan saya lho," ucap perempuan itu dengan senyum menggoda diwajahnya. Perempuan itu pun melangkah menghampiri Galih dengan tatapan tak lepas dari pria tampan itu.
"Pak Galih, saya masih menunggu lho. Ada waktu gak?" ucapnya lagi dengan nada sensual.
"Maaf ya. Aku sedang terburu-buru." Galih langsung mengangkat kedua tangannya ke udara. Ia sedang tidak ingin disentuh atau berbasa-basi dengan siapa pun saat ini.
"Kalau ketemu Bu dokter, beri tahu dia kalau ia sungguh tidak punya perasaan empati sedikitpun pada pegawai honorer seperti saya ini, hiks."
"Apa maksudmu hah?" Galih yang sudah siap pergi darisana langsung membatalkan rencananya. Ia menatap Ayunda yang sedang membawa beberapa barang-barang ditangannya.
"Bu dokter memecat saya pak karena cemburu. Ia kesal padaku yang telah berhasil dekat dengan dokter Harry dan juga denganmu. Lalu? Apa itu salah pak?" ucap Ayunda tanpa merasa bersalah samasekali.
"Kita 'kan belum ngapa-ngapain ya pak. Iyya 'kan?" lanjut perempuan itu dengan senyumnya.
Pria itu tidak menjawab tetapi langsung meninggalkan Ayunda dengan cepat. Ia khawatir kalau sang istri mungkin akan berpikir-pikir macam-macam dan kecewa juga padanya saat ini.
"Hey! Pak Galih!" panggil Ayunda dengan perasaan yang sangat kesal. Ia pun segera pergi dari tempat itu menaiki taksi yang kebetulan mengantar seorang pasien ke ruangan IGD.
"Maaf, mas. Dokter Nadia kok gak ada di ruangannya udah pulang gak?" tanya Galih pada seorang pria yang bertugas memberikan sekitar ruangan kerja sang istri.
"Udah lama kayaknya pak. Soalnya saya sudah membersihkan semua ruangan ini dan tidak melihat ada orang di dalam ruangan."
"Oh gitu ya? Makasih banyak ya," ucap Galih kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan tak nyaman.
Setelah menghubungi Vania kalau sang istri mungkin sudah pulang ia pun melanjutkan perjalanan ke arah kediaman mertuanya.
"Lho kok? Bukannya kalian habis bulan madu di Singapura? Kok kamu gak tahu dimana istrimu sendiri," ucap Thalia saat Galih menanyakan keberadaan sang istri pada kedua mertuanya.
Galih hanya diam.
"Kamu itu gimana sih? Udah dua kali lho ini kamu bikin anak saya pergi tanpa memberi kabar. Kalau kamu tak berhasil mendapatkan Nadia, maka kami akan bertindak tegas padamu!" ucap Gazali dengan perasaan yang tak nyaman di dalam hatinya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊