Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 18 Suami Di atas Anu


__ADS_3

Nadia sudah bersiap untuk pulang. Seperti biasa ia akan membawa semua perlengkapan kerjanya ke rumah.


Padahal itu adalah hal yang sangat ribet.


Seharusnya ia memilki banyak. Di rumah sakit, di rumah, dan di mobil, tetapi untuk hal itu ia mempunyai alasan sendiri.


"Vania. Dimana anak itu? Sampai sekarang belum ngabarin kalau ia akan ikut pulang atau tinggal bersama siapa namanya? Hem Rindu, Rudy, atau ah entahlah."


Stiletto nya ia pakai kembali setelah melepaskan sandal yang biasa ia gunakan saat bekerja di dalam ruangannya sendiri.


Melepaskan jas dokternya dan menggantungnya di dalam lemari kemudian melangkahkan kakinya menuju kaca.


Ia mematut dirinya di depan kaca itu dengan hati yang sedih.


Cantik dan menarik. Itu yang ia lihat dari dalam kaca itu tapi sayangnya ia tidak bahagia. Harry, tega mengkhianatinya.


Airmata tiba-tiba saja menetes membasahi pipinya yang sangat halus dan licin.


Huffft


Ia menarik nafas panjang. Tak seharusnya ia menangisi apa yang sudah terjadi. Tapi bagaimana pun juga ia merasa jadi perempuan yang sangat tidak beruntung sekarang.


Huffft


Kembali ia menarik nafas untuk melonggarkan rasa sesak di dalam dadanya.


"Ah sudahlah. Aku mungkin harus minta cuti dan menikmati hari-hari yang sangat menyenangkan di Korea sana," ujarnya untuk menghibur dirinya.


"Bertemu dengan tokoh idola atau apa aku ikut umroh saja bersama dengan mbak Laura dan Kak Ali?" Senyum cerah kembali hadir di bibirnya. Semangat baru terasa hadir dan tumbuh dari dalam dadanya.


Aaaa, semua pria sama saja. Mereka adalah makhluk mesum seperti...


"Akh brengsek si Pradana itu. Dia pikir aku ini siapa? Beraninya ia mencuri ciuman pertamaku!" Nadia kembali menggeram dengan sangat kesal. Bibirnya ia sentuh kembali kemudian mengepalkan tangannya di sisi kanan kiri tubuhnya.


"Awas kamu!" ancamnya seraya meraih tas dan perlengkapannya di atas meja. Ia segera berjalan ke arah pintu untuk pulang. Waktu sudah hampir menunjukkan sholat duhur. Dan ia ingin sholat di rumahnya saja.


Harapannya adalah ia tidak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi.


"Ka-kamu!" Mata bulat Nadia semakin membulat saat ia membuka pintu ruang kerjanya dan melihat pria yang sangat dibencinya itu berdiri disana.

__ADS_1


Galih tersenyum sangat manis sampai Nadia mengira pria itu sedang membawa satu karung gula bersamanya, hehehe UPS bercanda.


Ia sempat terhipnotis tapi segera menyadarkan dirinya kalau pria itu sangat berbahaya.


Pria itu kemudian mendorong Nadia dengan pelan agar masuk kembali ke ruangannya.


"Ada apa? Kenapa kamu datang lagi!" Nadia menatap pria itu dengan waspada. Ia segera menjaga jarak karena takut pria mesum itu akan melakukan hal yang sama padanya.


"Duduk Nad," ujar Galih sok akrab. Ia tidak lagi memanggil perempuan cantik itu dengan panggilan dokter.


"Tidak. Aku tidak mau duduk. Aku sudah mau pulang. Jadi katakan sekarang juga apa mau kamu sebenarnya!" Nadia menolak dengan segala persangkaan buruk di dalam dadanya.


"Aku ingin menikah denganmu Nad, secepatnya!"


"Kamu gak sedang mimpi lagi 'kan? Tidak. Aku tidak mau. Sekarang aku mau pulang." Ia melangkahkan lagi kakinya untuk keluar dari tempat itu tapi tangannya segera diraih oleh Galih.


"Lepaskan aku atau aku akan teriak kalau kamu pria mesum yang akan melakukan pelecehan!" Nadia menghentakkan tangannya dengan keras sampai terlepas.


"Baiklah, maafkan aku. Tadi itu hanya sebuah kesalahan, jadi tolong maafkan aku."


Galih Pradana melepaskan tangan perempuan itu dengan wajah tenangnya. Ia benar-benar akan sabar dengan tingkah dokter cantik yang ada dihadapannya.


"Dan kamu pikir bibirku yang masih perawan ini bisa kamu nikmati begitu saja, trus kamu hanya mengatakan kalau itu hanya kesalahan gitu?" Nadia mencibir.


"Dasar mesum!"


"Jadi apa maumu supaya kamu bisa memaafkan aku? Apa aku harus menghapusnya dengan bibirku lagi. Kemarilah, akan aku lakukan!" Galih merasakan bibirnya berkedut ingin tersenyum tapi ia berusaha menahannya.


"A-apa? Dasar ya. Kamu pria paling mesum dan paling tidak tahu malu yang pernah aku kenal." Nadia berteriak dengan satu kali tarikan nafas. Dadanya naik turun menahan emosinya yang hampir meledak.


"Aku tidak pernah menyangka kamu berani mengambil sesuatu yang aku persiapkan untuk suamiku kelak." Mata perempuan itu berkaca-kaca.


Tangannya terangkat ke udara seakan ingin meremas wajah tampan dihadapannya itu dengan perasaan yang sangat marah.


Galih Pradana terhenyak. Ia memandang Nadia dengan alis terangkat.


Ia sungguh tidak percaya kalau hanya karena kecupan singkat yang ia ambil, Nadia sampai sangat marah seperti itu.


Bukankah dia sejenis kupu-kupu seperti Nana Ninu? pikir pria itu dengan dahi mengernyit.

__ADS_1


Ah sudahlah, yang penting aku harus mendapatkannya sekarang juga.


"Oh gitu ya? Jadi aku ini pria paling menjijikan yang pernah kamu lihat?"


"Iya! Dan aku tak akan pernah sudi bergaul dengan orang sepertimu." Nadia menjawab seraya menunjuk wajah Galih dengan dagunya.


Dokter cantik itu kembali berubah kuat dan tegar setelah berhasil mengeluarkan airmatanya.


"Maaf, aku mau pulang. Aku punya banyak hal yang membahagiakan di rumahku. Minggir!" Nadia kembali beranjak ke arah pintu lagi untuk keluar dari ruangan itu.


Akan tetapi Galih kembali meraih tangannya.


"Jangan kemana-mana. Kamu tetap disini sampai kamu mau menikah denganku atau aku akan menyebarkan sisi terendah dari hidupmu."


Pria itu yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di dinding dekat pintu masuk memang sengaja berada disitu.


Apapun yang terjadi ia tidak akan membiarkan Nadia keluar dari ruangan itu sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau.


"A-apa? Kamu berusaha memeras aku?" Nadia mendelik.


"Kalau dengan melihat ini, kamu anggap aku memeras kamu, ya itu bagus. Aku suka."


Galih berucap seraya menyerahkan handphonenya untuk dilihat oleh Nadia.


"Astaghfirullah. Kamu?!"


"Kenapa? Kamu gak mau 'kan semua orang melihatmu yang sangat rapuh seperti ini, wahai dokter cantik perfeksionis."


Nadia menghentakkan kakinya dengan sangat kesal seraya meninggalkan ruang kerjanya.


Ia telah menerima pria itu menjadi suaminya, tapi hanya sebatas suami diatas kertas saja.


"Bagus. Suami diatas kertas setelah itu suami diatas anu ekhem," ujar Galih dengan seringai diwajahnya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2