
"Bersiaplah. Kita akan ke rumahku." Titah Galih Pradana sesaat setelah ia sampai di dalam kamar istrinya.
Nadia tidak menjawab. Ia nampak sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Ia baru saja mendapatkan surat keputusan (SK) dari walikota menjadi seorang pimpinan rumah sakit. Bukan nepotisme ya, tapi itu dari hasil kerjanya yang memang sangat bagus. Ia rajin dan juga cekatan.
"Kamu dengar aku gak sih?" tanya Galih berusaha untuk sabar. Selama ini ia sudah cukup berusaha mengajak perempuan itu untuk berdamai dengan keadaan tapi sepertinya Nadia masih tetap pada tujuan awal mereka menikah.
Yaitu, tidak mencampuri urusan masing-masing.
"Untuk apa? Aku ada pekerjaan." Nadia tidak mengalihkan pandangannya dari laptop dihadapannya hingga membuat Galih menghampirinya. Ia masih berusaha bersabar akan tingkah perempuan itu.
"Kamu bahkan baru bertemu mama saat pesta nikahan kita. Dan ini sudah sepekan. Kamu belum juga ada waktu bertemu dengannya." Galih berucap dengan senyum khasnya.
Ia sungguh berusaha untuk tenang. Ia tahu Nadia selalu berusaha memancingnya dan berakhir ia akan meminta dirinya untuk tidak tidur di ranjang yang sama.
Tapi mana mau ia berpisah tidur dengannya. Meskipun tak cinta, tapi setidaknya ia sering mencuri-curi kesempatan untuk menyentuh dan menikmati tubuh sang istri. Tentu saja tanpa izinnya.
"Nad, kamu belum ke rumahku."
"Lalu kenapa? Aku sudah punya rumah di sini. Aku bahagia bersama dengan kedua orangtuaku."
"Mama sangat ingin bertemu denganmu. Dokter Nadia, menantunya yang sangat cantik dan baik hati ini." Galih menjawab dengan nada suara yang dibuat selembut-lembutnya. Ia berharap sekali perempuan itu mau mengikuti ajakannya.
"Ohoo ho rayu lagi aku. Bilang aku cantik. Kamu emang jago gombal ya, manisnya kebangetan kayak bawa gula satu kilogram. Sayangnya aku bukan seperti pacar-pacarmu itu yang mau saja menyerahkan diri karena mulut manismu itu."
"Astaghfirullah. Kok ngomongnya jauh kayak gitu sih? Ini cuma mau bertemu mama, kenapa bawa-bawa pacar sampai bawa gula satu kilogram." Galih tersenyum samar.
"Ish!" Nadia mencibir. Ia harus waspada. Pria itu kalau terlalu banyak tersenyum dan tidak terpengaruh biasanya mendapatkan sesuatu dari dirinya.
__ADS_1
"Eh kamu gak percaya kalau kamu itu cantik dan manis?" tanya Galih dengan tubuh yang semakin mengikis jarak diantara mereka berdua.
"Iya aku percaya. Semua orang di kota ini tahu kalau aku cantik." Nadia cepat-cepat menjawab. Ia tak tahu apalagi modus pria itu jika ingin mengambil keuntungan darinya.
Galih tersenyum dan langsung mengecup bibir istrinya sekilas.
"Hem, manis," ucap Galih dengan santai.
"Sialan kamu! Kamu selalu mengambil keuntungan dariku!" teriak Nadia dan langsung memukul bahu pria itu dengan tatapan tajam. Galih tergelak lucu. Ia tidak perduli jika perempuan cantik itu marah padanya.
"Sayangnya aku belum mau bertemu dengan mama mu. Jadi apapun yang kamu lakukan padaku aku tak akan mau ke rumahmu! Dan lagi aku 'kan sengaja gak ngurus cuti. Jadi aku tak ada waktu."
Nadia kembali fokus pada pekerjaannya. Galih kesal. Ia langsung menutup layar laptop itu dengan tatapan tajam.
"Hey, pekerjaanku!" Nadia dengan cepat membuka layar laptop yang ditutup dengan paksa itu.
"Huff, Hampir saja semua datanya hilang. "Kamu ini kenapa sih? Aku ini sedang bekerja. Jadi jangan ganggu aku! Tahu begini aku tidak pulang."
"Mamaku mau bertemu dengan menantunya. Ia selalu menanyakan dirimu. Tidak bisakah kamu meluangkan waktumu satu hari saja?" ujar Galih seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana bahannya.
"Aku banyak kerjaan pak Pradana!" Nadia kembali menatap layar laptopnya dengan helaan nafas beratnya. Sebenarnya ia ingin bertemu dengan perempuan yang sangat lembut hati itu tapi ia tidak tega.
Cukuplah mama dan papanya yang ia bohongi kalau pernikahan ini tidak serius dan hanya merupakan permainan saja. Ia takut perempuan itu berharap banyak padanya.
"Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu di rumahku. Fasilitas disana juga lengkap. Aku sudah berjanji kalau kamu akan datang," ucap Galih seraya mematikan laptop Nadia dan menutupnya.
"Aku tidak mau. Mamamu pasti banyak maunya. Mau cucu lah mau ini lah mau itulah."
"Mama tidak seperti itu Nad. Mama sangat mengerti kondisimu. Mama bukan tipe pemaksa Nad."
__ADS_1
"Aku bilang tidak ya tidak. Kamu kenapa sih maksa-maksa aku terus. Emangnya kamu nggak ingat perjanjian kita?" tatap Nadia tajam.
"Tak ada yang boleh memaksakan kehendak pada yang lain meskipun kamu sudah memberiku nafkah. Dan ya, aku 'kan tidak minta. Kalau kamu mau ambil kembali. Nih ambil!" Nadia membuka laci mejanya dan langsung menyerahkan uang sebanyak sepuluh juta itu pada suaminya.
"Aku cuma memintamu menemui mama tapi kenapa kamu malah mengembalikan ini?" Galih berucap seraya meraih uang yang diberikannya pada sang istri. Nampak sekali kalau ia mulai tersinggung.
"Aku akan menelpon walikota agar kamu dimutasi saja ke puskemas yang berada di pulau terpencil. Semua karena pekerjaan hingga kamu seperti ini!"
"A-apa? Memangnya siapa kamu berani mengancam-ngancam aku hah. Walikota tidak mungkin melakukan hal itu!" Nadia mencibir.
Galih tidak main-main, ia langsung menelpon walikota agar istrinya dimutasi saja ke sebuah pulau terpencil.
"Hey! Kamu benar-benar tak punya perasaan ya, emangnya kamu rela aku dimutasi ke daerah terpencil?" Nadia langsung menatap pria itu dengan perasaan yang sangat kesal.
"Tidak usah banyak bicara. Sekarang kita berangkat ke rumah mama. Bawa pakaian yang banyak karena aku ingin kita menginap."
"Tidak!"
"Iya!"
Galih tidak sabar lagi. Ia langsung menggendong tubuh istrinya itu ala karung goni keluar dari kamarnya dan membawanya ke mobilnya.
"Ya ampun, turunkan aku!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊