Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 67 Nadia Memaafkan


__ADS_3

Malam itu, Nadia uring-uringan tak jelas. Mengaku lapar tapi tidak juga makan. Galih sudah menawarkan banyak makanan tapi gak ada nafsu katanya.


"Jadi kamu mau makan apa Nad? Kasihan babynya sayang," ucap Galih dengan wajah khawatir. Nadia hanya memberengut. Ia juga tidak tahu kenapa gak ada nafsu makan padahal ia sangat lapar.


"Mau makan di luar gak sayang? Sapa tahu mau milih-milih yang kamu mau," bujuk Galih karena kasihan pada sang istri.


"Iyya deh ayang kita keluar. Sapa tahu ada makanan di luar sana yang bisa mancing selera makan," balas Nadia seraya memakai hijab instannya. Galih tersenyum. Ia pun memakaikan jaket pada sang istri kemudian memakai jaketnya sendiri.


Malam sehabis kota diguyur hujan membuat cuaca terasa sangat dingin. Apalagi malam juga sudah sangat larut.


Mereka pun menyusuri kota yang terasa tak ada matinya itu. Semakin malam, semakin ramai pula sepanjang jalan yang mereka lewati. Aroma masakan dari setiap warung pinggir jalan yang mereka lewati sudah mulai menggelitik perut Nadia.


"Kita singgah disini ayang," ucap Nadia saat mereka sedang melewati sebuah warung tenda di pinggir jalan.


"Kamu mau makan di sini sayang?" tanya Galih pada sang istri. Ia tidak percaya dengan keinginan Nadia yang selama ini tak pernah mau makan di warung pinggir jalan.


"Iya ayang, aromanya itu loh, kayaknya lezat banget," jawab Nadia dengan wajah yang tampak sangat bernafsu.


"Ah iya baiklah. Kita makan di sini," ucap Galih setuju. Ia pun meminggirkan kendaraannya dan turun.


"Aku mau bakso aja. Kayaknya enak banget tuh," ucap Nadia dengan air liur sudah berdesakan ingin ditelan.


"Iya, sayang. Kamu tunggu ya, bentar lagi datang kok."


"Iya."


Tak lama kemudian mereka pun makan dengan lahap. Nadia seperti seseorang yang belum pernah bertemu dengan bakso sebelum ini. Ia begitu lahap dan sampai minta nambah.


"Ini tuh enak banget ayang. Kamu kok cuma makan satu mangkok sih?" ucapnya pada sang suami.


"Gak apa-apa. Aku tunggu kamu selesai sayang."


Dan benar saja apa yang ia pikirkan. Nadia mendorong mangkuk baksonya karena sudah tidak kuat lagi. Ia sudah sangat kekenyangan.


Pada akhirnya Galih lah yang bertugas menghabiskan makanan itu. Dan untuk pertama kalinya ia merasa beruntung karena baru memakan bakso dengan porsinya hanya sedikit dan membuat perutnya masih longgar.


Mereka pun segera keluar dari warung tenda itu kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.


"Ayang di depan ada apa ya? Kok ramai banget sih?"

__ADS_1


"Gak tahu, coba aku tanya dulu deh sama orang yang lewat," ucap Galih seraya membuka kaca mobilnya.


"Ada apa ya pak?" tanyanya pada orang yang baru saja lewat di samping kanan mobilnya.


"Kecelakaan pak. Tapi gak ada yang berani mendekat. Takut dipanggil jadi saksi."


"Oh ya Allah. Harusnya gak boleh gitu dong ya," ucap Nadia dengan perasaan tak nyaman. Ia pun segera menelpon ambulans untuk datang secepatnya.


"Kok aku penasaran ya siapa yang sedang kecelakaan," lanjutnya seraya ikut membuka jendela mobil saat sudah hampir melalui Tempat kejadian perkara.


"Innalilahi. Itu 'kan Ayunda, ayang," ucap Nadia dan langsung ingin turun dari mobil sang suami.


"Jangan turun. Biar aku yang urus. Ambulan pun sudah hampir tiba, iyyakan?"


"Ah iya. Jadi tolong bantu gadis itu," ucap Nadia dengan perasaan yang sangat khawatir. Tak lama kemudian, ambulans pun datang dan membawa tubuh Ayunda yang sedang berlumuran darah.


"Kita ikut ke rumah sakit!" titah sang kepala rumah sakit.


"Tapi ini sudah larut sayang, besok saja ya?"


"Gak. Kita akan segera kesana sekarang juga," tegas Nadia. Galih pun menurut. Ia melajukan kendaraan roda empat itu menuju ke rumah sakit.


"Bagaimana kondisi tubuhnya dokter?" tanya Nadia saat mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Hah? Saya?"


"Iya Bu."


Nadia pun mengikuti sang dokter. Ia masuk ke ruangan itu untuk menemui Ayunda.


"Maafkan aku Bu dokter," ucap Ayunda dengan cairan bening yang menetes dari pelupuk matanya.


Setelah itu ia pun pergi ke alam keabadian. Nadia hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Aku memaafkanmu Ayunda. Semoga kamu tenang di sisiNya," ucapnya dengan lelehan cairan bening dari pelupuk matanya. Sungguh, ia sangat sedih hari ini.


🌹


Clara benar-benar menjadi gadis yang sangat aktif sekarang. Itu harus ia lakukan karena merasa sangat kasihan pada dokter Harry yang belum juga bisa move on dari dokter Nadia.

__ADS_1


Rasanya menjadi hal yang sangat mubazir kalau ia membiarkan pria tampan, mapan, dan juga masih single itu kalau hanya akan sendiri untuk selamanya karena cintanya yang tak tergapai.


Sudah satu pekan ia menunggu dokter itu memberikannya keputusan tentang penawarannya waktu itu tapi sampai sekarang, tanda-tanda pria itu akan membuka hatinya belum juga nampak.


"Baiklah dokter, aku akan melakukan sesuatu. Dan kamu pasti akan mengikuti kemauan aku," tekad Clara dalam hati.


"Aku tahu kalau pak Harry pasti akan mengecap aku sebagai perempuan murahan. Tapi tak apa, aku sudah siap." Clara sekali lagi memberikan motivasi untum dirinya sendiri.


Sebuah berkas dalam sebuah manager file ia bawa ke dalam ruangan kerja pria itu. Ada beberapa lembar pengesahan yang harus ditandatangani oleh kepala dinas itu agar segala urusan cepat selesai.


"Maaf pak. Ini laporan pertanggungjawaban keuangan acara sosialisasi di semua kecamatan beberapa hari yang lalu," ucapnya seraya memberikan berkas itu kepada Harry.


"Ah ya, letakkan saja disini. Kamu tidak buru-buru 'kan? Soalnya saya sedang mengerjakan sesuatu nih," ucap Harry tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


Clara menghela nafasnya pelan kemudian berucap," Iya pak. Nanti saya ambil kalau bapak sudah selesai," ucap gadis itu tersenyum.


Perempuan itu tidak mungkin membahas tentang penawarannya waktu itu saat sang pimpinan sedang sibuk.


Ia pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan kecewa. Mungkin pria itu memang harus menikmati masa jomblonya sepanjang masa dan ia seharusnya tidak peduli.


"Mbak Clara, dipanggil ke ruangan bapak," ucap seorang staf yang lain yang baru saja bertemu dengan kepala dinas.


"Ah iya baiklah." Clara pun berdiri dari duduknya dan segera masuk ke ruangan itu.


"Ini apa Clara?!" tanya Harry dengan wajah tanpa ekspresi. Datar bagaikan tembok. Ia memperlihatkan selembar kertas kosong dengan tulisan,


Maukah anda menjadi suamiku?


Clara langsung menundukkan wajahnya karena malu. Sedangkan Harry langsung berdiri dari posisinya.


"Ya, aku mau Clara. Tapi tolong bantu aku menjadi pria sejati, yang akan membantumu di setiap keadaan."


Mereka sama-sama saling memandang dan mengirimkan perasaan bahagia mereka berdua.


🌹🌹🌹


TAMAT.


Dengan berat hati, author menamatkan kisah sang cassanova.

__ADS_1


Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini. Aku padamu deh. Love you se kebon jengkol.


Dan buat para readers tersayang, mampir lah di karya author yang lain, dijamin seru deh.


__ADS_2