
Nadia menggeliat pelan kemudian meregangkan otot-ototnya setelah itu ia membuka matanya. Langit-langit kamar hotel yang ia tempati muncul pertama kali dalam penglihatan nya.
Dalam beberapa detik ia baru menyadari sesuatu. Ia langsung memindai seluruh ruangan.
Pandangannya berhenti pada sosok yang sedang duduk di depan sofa sedang menikmati secangkir minuman yang sedang ia seruput dengan sangat nikmat.
Galih yang merasa kalau sang istri sudah bangun, langsung meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja di hadapannya lantas menghampiri perempuan itu.
"Udah bangun sayang?" tanyanya seraya mengecup lembut kening sang istri. Akan tetapi tubuhnya langsung di dorong oleh Nadia dengan keras.
"Aku mau pulang ke tanah air!" ucap perempuan itu kemudian turun dari ranjang. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang masih sama.
Benci dan juga muak.
Galih menghela nafasnya. Ia pun kembali duduk karena sang istri sepertinya sedang butuh kamar mandi saat itu.
Ia akan menunggu sampai perasaan Nadia kembali baik seperti sedia kala. Di lanjutkan nya menyeruput minumannya yang ternyata adalah cairan coklat panas.
Tak lama kemudian Nadia keluar dari kamar mandi itu sudah nampak segar. Akan tetapi ia masih menatap sang suami dengan tatapan marah.
"Aku sudah bilang padamu. Aku tidak ingin sekamar denganmu. Tidak ingin melihatmu lagi. Dan hubungan kita sampai di sini saja." Nadia berucap dengan satu kali tarikan nafas. Dadanya sampai naik turun karena ia masih menyimpan emosi di dalam hatinya.
"Dan bagaimana kalau aku tidak mau," balas Galih seraya menatap wajah cantik istrinya dengan senyum khasnya.
Seketika dada Nadia bagai tersengat aliran asing.
"Kamu harus mau!"
"Tidak akan pernah."
"Terserah. Yang terpenting adalah kita berpisah sebelum aku lebih menderita lebih dalam daripada ini," tegas perempuan cantik itu.
Ia lalu duduk di depan suaminya dengan dagu terangkat. Ia sudah bertekad untuk tetap konsisten dengan rasa kesalnya pada suaminya.
Galih hanya diam menyimak dengan tatapan penuh cinta pada sang istri. Ia bahkan menyandarkan punggungnya dengan santai.
Nadia mencebikkan bibirnya kemudian melanjutkan, "Kita berdua tahu kalau kita menikah hanya karena ikut-ikutan pada mereka yang sudah mendapat status. Dasar pernikahan ini tidak kuat karena tak ada cinta diantara kita."
"Ah, siapa bilang. Aku mencintaimu dan kamu pun sama. Kita saling mencintai," ucap Galih tersenyum.
__ADS_1
"Tidak! Aku tak punya perasaan seperti itu padamu. Yang aku punya hanya perasaan marah dan benci padamu." Nadia kembali meradang.
Galih langsung bangun dan menghampiri sang istri. Ia berlutut di hadapan Nadia kemudian berucap, "Aku mencintaimu sayang. Aku merindukanmu. Aku tidak akan pernah mau berpisah darimu."
"Cih! Mulut buaya mulut playboy! Kamu pikir aku percaya setelah sekian banyaknya perempuan yang sudah memberikan kamu kepuasan di ranjang!!" balas Nadia dengan sengit.
"Nadia, maafkan aku sayang. Aku akui aku bukanlah pria suci. Aku memilliki banyak perempuan sebelum dirimu, tapi aku tidak pernah mencintai mereka seperti aku mencintaimu seperti saat ini."
"Hum, maafkan aku. Tapi aku tidak ingin mendengar cerita klise seperti ini," ucap Nadia kemudian berdiri dari duduknya tapi Galih tetap berusaha menahannya agar tidak pergi.
"Lepaskan aku! Cukup sekali aku sangat bodoh menyerahkan diriku padamu. Tapi sekarang aku tidak akan mau lagi. Kamu menjijikan!"
"Nadia plis."
"Tidak! Aku tidak mau!" Perempuan itu tetap berkeras. Galih tersenyum dengan hati yang sangat kecewa.
"Baiklah. Kita akan berpisah," ucap pria itu pada akhirnya. Nadia menatap suaminya dengan tatapan serius. Ia tak menyangka kalau Galih akan pasrah dan mengalah secepat ini.
Diam-diam hatinya bagai diremas dengan sangat kasar. Sakit tapi tak berdarah.
Galih bangun dari posisinya kemudian duduk di depan sang istri. Ia kembali tersenyum dengan sangat tenang.
Nadia diam menyimak dengan meremas jari-jarinya sendiri. Entah kenapa ia merasa lidahnya jadi kelu dan tidak bisa lagi menantang.
"Aku hanya memohon padamu, bisakah kita berbulan madu sebelum kita benar-benar berpisah?" mohon Galih dengan tatapan sendu pada sang istri.
Tangannya meraih tangan sang istri kemudian membawanya ke bibirnya. Ia mengecupnya dengan sangat lembut dengan tatapan lurus ke dalam bola mata perempuan itu.
Nadia terhipnotis. Ia tak sadar menganggukkan kepalanya.
Galih tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Dan dalam hitungan detik, mereka berdua pun tenggelam dalam ciuman yang sangat panas.
Diantara kewarasannya Nadia segera melepaskan dirinya kemudian menatap sang suami dengan dada berdebar tak karuan.
"Aku setuju berbulan madu denganmu tapi tak ada lagi kontak fisik diantara kita. Mengerti pak Pradana?!" tegas Nadia dan segera masuk lagi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terasa panas karena malu.
Galih tersenyum samar. Ia menyentuh bibirnya dengan jempolnya kemudian berucap, "Mana bisa kita berbulan madu tanpa saling sentuh sayang."
Nadia mencuci lagi wajahnya dengan air dingin. Ia benar-benar tak bisa menguasai dirinya jika sudah mendapatkan sentuhan dari pria brengsek cassanova itu.
__ADS_1
"Ih sebel!" teriaknya seraya melihat wajahnya di dalam kaca.
"Oh ya ampun, aku kembali tampak bodoh karena menyerahkan diri lagi padahal sudah berjanji untuk menghindar."
Nadia menutup matanya tapi rasa ciuman itu benar-benar masih sangat hangat terasa.
Bagaimana lidahnya dan lidah pria itu saling membelit dengan sangat nikmat.
Dan sekarang ia merasakan dadanya berdebar sangat kencang.
"Nad, kita makan siang dulu yuks," panggil Galih dari arah depan pintu kamar mandi. Nadia tersentak dari lamunannya. Ia pun merapikan rambutnya sedikit kemudian segera keluar dari dana.
Okey tenang, jangan terpengaruh dan fokuskan dirimu untuk berpisah.
Tak ada kontak fisik dan bawa-bawa perasaan. Itulah tekadnya agar ia tidak tertipu lagi bujuk rayu suaminya.
"Kamu mau makan dimana?" tanya Galih.
Nadia tampak berpikir Semalam ia sudah banyak makan ikan dan seafood, jadi sekarang ia ingin makan Ayam Penyet President.
Ayam Penyet President merupakan salah satu tempat makan halal di Kallang Wave Mall. Sesuai namanya, tempat makan ini menyajikan masakan Indonesia dengan menu andalan ayam penyet.
Beberapa makanan utama di Ayam Penyet President adalah Smashed Fried Chicken (Ayam Penyet), Fried Chicken in Green Chili (Ayam Cabe Ijo), Grilled Chicken (Ayam Bakar), Grilled Beef (Empal Bakar), dan Beef Rendang. Harga makanan utama mulai dari Rp 75.000-an.
Santap juga Es Teler dan Es Campur sebagai makanan penutup. Harga makanan penutup mulai dari Rp 37.000.
Ayam Penyet President yang beroperasi sejak 2009 ini punya outlet selain di Kallang Wave Mall yaitu Orchard Road, Tampines, dan Serangoon.
"Aku mau makan ayem penyet," ucap Nadia dengan mata ia arahkan ke tempat lain. Ia berusaha untuk tidak melihat Galih karena khawatir akan terhipnotis lagi.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan Komentarnya dong ðŸ¤
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
Eits, jangan lupa kasih bunga setaman ya hehehe.
__ADS_1