Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 12 Perasaan Kesal Berlipat-lipat


__ADS_3

Nadia bergegas kembali ke ruangannya untuk mengambil perlengkapan yang biasa ia gunakan untuk memeriksa pasien. Ia akan berangkat ke rumah jabatan saat itu juga. Akan tetapi di depan ruangannya tak sengaja ia bertemu dengan Harry Zulkarnain sang mantan tunangan.


"Nad, boleh aku bicara denganmu?" pinta pria itu dengan tatapan memohon. Sudah hampir dua bulan Nadia menghindarinya karena kejadian naas itu dan sekarang ia sangat tersiksa. Ia ingin Nadia kembali padanya seperti dulu.


"Maaf dokter, aku sedang buru-buru. Jadi tolong berikan aku jalan." Nadia menatap pria itu dengan wajah datar. Tak ada lagi perasaan yang tersisa di dalam hati dokter spesialis penyakit dalam itu.


"Nad, kamu cuma berusaha menghindari aku dan aku tahu hal itu. Jadi kumohon berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki diri." Harry tak bergerak di depan pintu dan tidak membiarkan gadis cantik itu pergi jauh darinya.


"Ini darurat dokter Harry. Aku harus ke rumah jabatan walikota sekarang juga. Ibu wali sedang sakit dan aku harus berada disana sekarang juga!" Nadia menggeram kesal karena tak sabar.


"Lihatlah! Kamu bahkan membawa nama pak walikota untuk sengaja menghindari aku. Padahal ini tentang kita sayang. Jadi kumohon, berikan aku waktu untuk berbicara denganmu Nad. Sepuluh menit saja." Harry tetap bertahan. Ia benar-benar ingin memohon bahkan kalau boleh ia akan bersujud di kaki gadis itu agar ia diberikan kesempatan.


Nadia semakin kesal saja. Ia pun meraih handphonenya kemudian menelpon Usman Ali Kemal sang walikota. Meskipun tidak ada yang menjawab panggilannya tapi setidaknya ia bisa memperlihatkan nama walikota atau orang nomor satu di kota itu yang tampil di layar handphonenya.


"Masih belum percaya bahwa aku sedang sangat terburu-buru dokter Harry?" ujar Nadia dengan wajah kesalnya.


"Hum, baiklah. lain kali kita pasti akan bicara dan aku berjanji bahwa hubungan kita tidak akan pernah putus. Kamu mengerti?!" Harry pun tersenyum dengan tatapan penuh ancaman.


"What ever!" Nadia mengibaskan tangannya seraya mendorong tubuh pria ia agar minggir dan memberinya jalan.


Harry menghela nafasnya dengan sangat berat. Ia pun minggir dan memberi Nadia jalan untuk keluar dari ruangan itu. Sekarang ia harus bersabar dan tetap akan berusaha untuk mendapatkan hati Nadia lagi. 3 tahun berpacaran bukanlah waktu yang singkat yang harus dilupakan begitu saja hanya karena kesalahan satu malamnya dengan Ayunda si perawat brengsek itu.


Dan ia yakin betul kalau ia akan mendapatkan Nadia kembali apapun caranya. Pria itu pun pergi dari tempat itu untuk mencari sarapan di kantin. Ia juga belum mengisi perutnya karena terburu-buru datang ke rumah sakit untuk menemui Nadia yang lembur semalaman di sini. Hatinya sudah bertekad bulat bahwa maaf Nadia harus ia dapatkan begitupun dengan status gadis itu untuk ia jadikan sebagai istri.


Sementara itu Nadia melajukan mobilnya dengan sangat cepat ke arah rumah jabatan walikota yang merupakan sepupu kandungnya sendiri.


Selama Usman Ali Kemal terpilih menjadi walikota ia belum pernah datang ke rumah ini. Padahal sang walikota adalah sepupunya sendiri. Ia tak pernah datang karena mempunyai banyak alasan.


Dokter cantik itu pun turun dari mobilnya dan langsung mendatangi Fatimah yang sedang sibuk bersama dengan para pekerja di rumah itu.


"Assalamualaikum tante," salamnya pada perempuan paruh baya itu


"Waalaikumussalam. Eh, kamu sudah datang Nad, masuklah. Saya sedang mengatur kue-kue ini untuk pestanya Asma hari ini." Fatimah menjawab seraya menunjukkan kesibukannya pagi itu.

__ADS_1


"Ah iya tante. Aku masuk ya," ujar Nadia dengan senyum diwajahnya. Fatimah mengangguk saja dan meminta seorang asisten rumah tangga di rumah itu untuk membawa dokter itu ke dalam kamar pribadi sang walikota.


"Silahkan dokter. Ibu dan pak wali ada di dalam kamar," ucap sang asisten rumah tangga itu.


"Makasih lho mbak. Aku tidak apa-apa ditinggal." Nadia tersenyum. Akan tetapi perempuan itu tidak bergerak dari tempatnya sampai pintu kamar utama itu terbuka.


"Silahkan dokter. Ini tasnya." Sang asisten baru meninggalkannya saat terdengar bunyi anak kunci diputar.


Dari dalam sana, Usman berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar. Ia membuka pintu itu dan mendapati seorang dokter perempuan berdiri disana.


"Silahkan masuk Nad," ujarnya mempersilahkan. Dokter Nadia yang merupakan saudara sepupunya itu langsung masuk tanpa berbasa-basi padanya terlebih dahulu.


"Aku mandi dulu ya Nad. Gerah habis olahraga," pamit pria itu dan meninggalkan Nadia dan juga Laura di dalam kamar itu. Nadya tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke arah ranjang dimana istri dari sepupunya itu berbaring.


"Ibu Laura, apakah ibu bisa mendengar suara saya?" tanya Nadya pada sang pasien. Laura membuka kelopak matanya dan tak sadar meneteskan air mata yang sejak tadi ditahannya.


"Apa yang anda rasakan Bu?" tanya Nadia lagi seraya memasang stetoskop pada telinganya dan menghubungkannya pada dada sang pasien.


"Suhu tubuh ibu sangat tinggi. Kepalanya juga sakit ya?" Nadia terus bertanya karena sang pasien belum juga mau menjawab pertanyaannya.


"Iya dokter. Seluruh tubuh dan bahkan hati saya sangat sakit saat ini."


"Hah? Maksud ibu?" tanya Nadya dengan wajah bingungnya.


"Ibu mungkin sedang sangat lelah karena terlalu banyak kegiatan akhir-akhir ini ya," ujar Nadya tersenyum kemudian mengelus lembut punggung tangan perempuan cantik itu.


"Atau mungkin saja, ibu sedang haid atau dalam masa periode? Seringkali saat PMS ataupun sedang dalam masa periode seperti ini, tubuh dan hati itu kadang kompak sakit dan terkadang kurang fit. Hingga menimbulkan rasa yang sangat tidak nyaman dan lebih sering membuat tumbang."


"Ibu mungkin sedang dalam masa seperti itu. Ibu hanya perlu istirahat dan memperbaiki perasaan agar lebih nyaman dan sehat kembali."


"Aku tidak sedang PMS dokter. Sudah lama saya tidak mengalaminya." ucap Laura dengan wajah berubah sedih.


"Ya Allah, jangan-jangan ibu sedang positif?!"

__ADS_1


"Positif?"


"Iya Bu." Nadia pun menjelaskan beberapa hal tentang ciri-ciri kehamilan yang mungkin saja terjadi pada Laura.


Lama mereka mengobrol dengan sangat akrab. Nadia tidak memanggil ibu lagi pada istri walikota itu dan menggantinya dengan kata mbak saja supaya mereka lebih nyaman.


Alat tes kehamilan pun ia berikan untuk memastikan istri dari sepupunya itu benar-benar positif hamil atau tidak. Dan ternyata benar. Laura ternyata hamil meskipun masih sangat muda.


Drama marah-marahan yang ditunjukkan oleh Laura pada suaminya dan berakhir romantis memberinya sedikit keinginan untuk mempunyai pasangan juga.


Akan tetapi saat bertemu dengan seorang pria resek di pestanya Asma membuatnya kembali emosi dengan mood yang sangat hancur.


"Ya ampun. Gak bisa parkir dengan benar ya?!" geramnya saat melihat mobil kesayangannya hampir saja terserempet oleh sebuah mobil mewah yang baru masuk ke pekarangan rumah tetangga Asma. Ya, para tamu undangan diberikan tempat untuk parkir di depan rumah-rumah tetangga karena jalanan tidak boleh terganggu.


Galih yang datang bersama dengan Nana Ninu tak memperdulikan gerutuan dokter cantik itu. Ia langsung meraih tangan pasangannya untuk masuk ke tempat acaranya.


"Hey!" teriaknya pada Galih. Pria itu menghentikan langkahnya dan melepaskan gandengan tangan Nana yang sengaja ia bawa untuk bertemu dengan Usman Ali Kemal.


"Apa kamu ada masalah nona?!" tanya Galih dengan tatapan lurus pada mata Nadia yang sedang berkilat marah itu. Ia mengernyitkan keningnya berusaha mengingat dimana ia pernah bertemu dengan gadis judes seperti itu. Dan ternyata Nadia pun memikirkan hal yang sama. Ia sepertinya pernah bertemu dengan pria itu dalam keadaan marah seperti ini juga.


"Parkir yang benar! Aku tidak mau kalau acara selesai, kamu malah membuat mobilku lecet!" seru Nadia dengan dagu terangkat.


Galih tersenyum mencibir tapi tidak mengikuti keinginan gadis itu. Ia mengabaikan Nadia dan melanjutkan langkahnya bersama dengan Nana Ninu.


Nadia meremas udara dihadapannya. Ia menatap mobilnya dengan hati meringis. Gadis itu benar-benar tak ingin ada kerusakan sedikit saja pada mobilnya atau orang itu akan menanggung akibatnya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2