
"Aku tidak bermimpi dokter." Galih membalas ucapan Nadia dengan seringai diwajahnya.
"Kalau bukan Ngimpi apa namanya pak Pradana?"
Galih mengibaskan tangannya kemudian menjawab.
"Persiapkan saja dirimu menjadi istriku dalam waktu dekat," ujarnya kemudian berdiri dari duduknya.
"Heh ngimpi lagi!" Nadia tersenyum mencibir tapi ia tidak menyangka kalau Galih langsung menyambarnya dengan sangat cepat. Pria itu langsung meraih pinggang rampingnya
mengecup bibirnya sekilas kemudian tertawa.
"Katakan, apa aku sedang bermimpi?" bisik Galih dengan senyum jahilnya.
"Astaghfirullah!" Nadia mendorong tubuh mereka agar terpisah.
Ia sungguh ingin menampar pria itu tapi Galih sudah langsung meninggalkannya dengan menyisakan debaran dadanya yang menggila.
"Apa aku yang sedang bermimpi?" tanya Nadia pada dirinya sendiri. Ia meraba bibirnya dengan perasaan yang tak menentu.
"Sial! Dia mencuri ciuman pertamaku!"
🌹
Tawa renyah Galih mengiringi langkahnya keluar dari ruang kerja Nadia Gazali. Sayup-sayup ia mendengar suara teriakan dokter cantik itu dari dalam ruangan.
Dan, ia semakin tertantang untuk mendapatkan perempuan judes itu.
Ia tidak akan menyerah karena ia sudah berjanji bahwa perempuan itu pasti akan menerimanya dalam waktu satu jam saja.
Kelemahan.
Ya, ia harus mendapatkan kelemahan dokter perfeksionis itu agar ia bisa menaklukkannya.
Vania harus membantunya. Maka sekarang, disinilah ia di sebuah kantin bersama dengan gadis itu yang merupakan adik kandungnya Nadia.
Perhatiannya untuk mengetahui kelemahan dokter cantik itu teralihkan karena ia harus mendengarkan laporan dari orang kepercayaannya, yaitu Randu.
"Inspektorat telah selesai memeriksa pak. Dan Alhamdulillah gak ada temuan apa-apa. Semuanya bagus katanya." Randu mulai melaporkan tugasnya pada Galih.
"Oh iya baguslah kalau begitu. Dan maafkan saya karena tiba-tiba harus pergi dan tidak sempat bertemu dengan mereka." Galih menghela nafasnya.
"Tidak masalah pak. Saya sudah memberitahu mereka kok. Dan mereka sangat maklum." Randu seperti biasa selalu bisa menenangkannya.
"Syukurlah kalau mereka tidak rewel dengan ini dan itu. Dan ya terimakasih banyak Randu. Kamu bekerja dengan sangat baik."
__ADS_1
"Bapak terlalu memuji, ini semua kita dapatkan karena kita telah bekerja dengan baik."
"Ya ya ya kamu betul sekali." Galih tersenyum senang.
"Tapi ada sedikit masalah sih pak," ujar Randu dengan wajah tak nyaman.
"Ada apa? Apakah ini masih berhubungan dengan masalah proyek ini lagi?" Mata Galih melebar.
"Bisa dibilang begitu sih pak." Randu tersenyum.
"Apa kamu ingin membahasnya disini?" tanya Galih seraya melirik Vania yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
"Kalau bapak mau boleh juga sih. Saya sedang ingin meminta bapak untuk mencari rekaman CCTV di di area rumah sakit ini sekitar 6 bulan yang lalu."
"Hah? Yang benar saja kamu. Itu sudah lama sekali, tapi untuk apa?" Galih tampak sangat kaget dan menatap tajam pria itu.
"Ah itu kalau bisa. sih pak. Hanya untuk dokumentasi sih, hehehe," kekeh Randu dengan wajah cengengesan.
"Akan saya coba cari sebentar di bagian operator. Semoga saja masih aman sih."
Galih tampak berpikir.
Ia tahu kalau Randu pasti punya rencana Khusus untuk rekaman CCTV itu, hanya saja ia tidak mau mengutarakannya sekarang.
Dan sekarang, ia harus memikirkan bagaimana caranya melumpuhkan Nadia dan mendapatkannya sesegera mungkin.
Dan ya, Ia tak mau muncul di depan dokter itu dengan predikat sebagai pecundang.
"Nanti kita bicarakan lagi hal itu Randu. Saat ini saya sedang memperjuangkan sesuatu."
"Baik pak." Randu mengalah.
Galih pun mengalihkan pandangannya dari ke arah gadis cantik yang ternyata baru ia perhatikan sangat mirip dengan Nadia. Tapi ya, Nadia lebih menarik dan menantang aja menurutnya dengan segala kejudesannya.
"Vania, aku ingin meminta bantuan mu."
"Siap pak. Bantuan apa ya?" Vania menjawab dengan wajah serius.
"Aku ingin kakakmu menerima aku dalam satu jam ini."
"Hah?" Mata dan mulut Vania membola. Ia tidak percaya dengan perkataan pria idola sejuta gadis di kota ini.
"Tutup mulutmu Van," ujar Randu seraya menatap Vania yang masih menunjukkan wajah tak percayanya.
"Ah iya hehehe, aku cuma kaget saja." Vania tertawa cengengesan. Ia pikir pria tampan ini sedikit perhatian padanya dan bukannya pada kakaknya.
__ADS_1
"Iya dalam waktu satu jam ini kakakmu yang maaf judes dan sok perfeksionis itu menerima lamaranku."
"A-apa? Lamaran?" mulut gadis itu kembali membola.
"Ekhem!" Randu berdehem untuk menegur gadis itu. Vania kembali tertawa cengengesan.
"Oh, jadi bapak suka sama Kak Nadia? Oh baguslah pak. Ia baru saja putus dengan tunangannya."
Vania kembali tampak santai.
"Oh gitu ya? Trus kenapa ia tidak mau menikah denganku?"
Vania tampak berpikir yang ia tahu kakaknya itu selalu saja kesal pada pria tampan ini. "Apakah tunangannya lebih keren daripada aku?" Galih menegakkan punggungnya dan menatap gadis itu dengan alis terangkat.
Kali ini ia ingin menunjukkan pesonanya.
"Oh tentu saja tidak. Pak Galih pastinya lebih keren dari kak Harry. Dan ya, kak Nadia masih dalam suasana berkabung mungkin."
"Berkabung tapi judesnya naudzubillah." Galih tersenyum samar.
"Tapi eh, kakak ku itu paling tidak mau ada yang tahu kalau ia itu rapuh. Ia selalu mau tampil baik-baik saja dan tak terkalahkan." Vania menurunkan volume suaranya seakan berbisik. Itu adalah rahasia kakaknya yang harus ia jaga dengan sangat baik.
"Jadi, jangan bilang-bilang pada orang lain ya pak, hehehe. Bisa-bisa aku tidak dapat uang jajan lagi kalau aku bocorkan rahasianya."
Galih manggut-manggut. Ia jadi tahu sekarang kalau gadis itu jadi sangat judes seperti itu karena ada hal yang mungkin sangat menyakitkannya.
Pria itu menatap penanda waktu di pergelangan tangannya. Ia tidak punya banyak waktu. Ia sudah tahu apa kelemahan dokter itu dan sekarang ia mungkin bisa menyerangnya lewat itu, tapi bagaimana caranya?
"Mau kemana pak?" tanya Randu bingung. Sang bos bahkan belum meminum kopi yang dipesannya sekarang malah ia ingin pergi lagi.
Galih menghela nafas.
"Aku akan ke ruang operator untuk mencari rekaman CCTV yang kamu mau, sekaligus mencari ide untuk mendapatkan dokter Nadia."
Pria itu pergi tanpa berbalik lagi. Sedangkan Vania melotot tak percaya.
"Ngotot banget dapetin kakak. Kalau sama aku sih, dicolek dikit aja langsung mau tuh kalau sama pak Galih."
"Ngomong apa kamu?" tanya Randu dengan tatapan tajam.
"Gak ngomong apa-apa hehehe. Piss lah. Jangan marah Kak. Entar gak ganteng lagi lho," jawab Vania dengan senyum cengengesan.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya ya, jangan sampai bosan hehehe 😂ðŸ¤