
"Baiklah, aku pergi. Tapi jangan kamu kira Nadia akan menerima kamu lagi menjadi suaminya. Karena aku punya banyak bukti tentang sejahat apa dirimu pada semua perempuan di kota ini!" ancam Nara dengan mata berkilat penuh dendam.
"Lakukan apa yang kamu mau brengsek! Tapi kamu juga tahu siapa aku. Kamu tidak akan hidup tenang jika kamu melakukannya!"
Nara tak lagi menjawab. Ia langsung pergi dari ruangan itu seraya menghentakkan kakinya marah.
Tak ada cara lain yang bisa ia lakukan selain menghancurkan Galih dan keluarganya sampai ke titik yang paling dalam.
Sebenarnya ia takut juga tadi karena baru kali ini ia melihat tampilan pria itu dengan wajah yang sangat marah. Akan tetapi ia tak mau mundur. Nasi sudah jadi bubur.
Mereka semua harus merasakan penderitaan agar tidak pernah bahagia.
"Mbak, dalam lingkungan perusahaan seperti ini gak baik lho memamerkan tubuh seperti itu!" tegur seorang karyawan yang bertemu dengannya di Lobby perusahaan itu.
"Ah bodo amat!" Nara mengibaskan tangannya ke udara karena kesal. Ia benar-benar lupa kalau pakaiannya sekarang ini sedang sangat terbuka dimana-mana.
Dan tentu saja ia semakin nampak sebagai perempuan penjaja tubuh.
"Kayaknya gak dapat yang diinginkan tuh dari bos besar, hihihi," bisik karyawan lainnya yang sudah tahu bagaimana sifat Galih Pradana.
"Nah, gitu. Maknanya aku mati-matian gak mau terpesona sama pria tampan itu. Hanya akan buat kita makan hati, hehehe," timpal yang lain tak mau kalah.
"Syukuri pasangan kita masing-masing. Meskipun gak keren seperti pak bos tapi dia mencintai kita dengan tulus, ye 'kan?"
"Ho oh! Yuks kerja proposal itu lagi. Perusahaan akan ikut lelang tender proyek di bendungan itu. Kalo menang kita-kita nih pasti bisa liburan ke Luar negeri hahaha."
"Ekhem!"
Percakapan karyawan-karyawan itu pun terhenti karena mereka semua sadar diri. Randu ada disana sedang memperhatikan mereka bergosip.
"Maaf pak," ucap mereka bersamaan dan langsung kabur ke dalam ruang kerja masing-masing.
Randu melihat penanda waktu di pergelangan tangannya. Ia segera kembali ke ruangan Galih Pradana sang bos untuk mengingatkan meeting yang akan mereka hadiri di kantor balaikota.
Kita lihat dulu, apa yang dilakukan oleh Galih setelah sosok Nara tak lagi menghirup udara yang sama dengannya di dalam ruangan itu.
Pria itu terduduk di kursinya dengan dada berdebar sesak. Tangannya meraup wajahnya dengan kasar. Rambutnya yang sudah tersisir rapi kini sudah ia kacau kan dengan tangannya.
"Aaargh brengsek!" umpatnya keras untuk mengeluarkan emosi dari dalam hatinya.
"Apa saja yang dilakukan perempuan sialan itu padamu Nad? Kenapa kamu tidak marah saja padaku sayang. Kenapa kamu diamkan aku dan malah pergi?!"
__ADS_1
"Aaargh!"
Kembali ia mengerang frustasi.
Randu yang baru sampai di dalam ruangan itu hanya bisa mengurut dadanya dengan sabar. Ia tak percaya pria yang selalu tampak keren itu kini sedang tak baik-baik saja.
Perlahan ia mendekat dengan mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam lemari pendingin dan memberikannya pada pria yang nampak sangat kacau itu.
"Minum dulu pak," ujarnya dengan senyum meringis. Galih menatap Randu dengan tatapan kosong kemudian menerima air itu dan menenggaknya sampai hampir habis.
"Apa saya lancang kalau mengatakan jadwal meeting sekitar 30 menit lagi pak?" ucap pria muda itu dengan suara pelan. Ia takut kalau pria yang sedang ada masalah itu akan mengaum dan memberinya kalimat peringatan.
"Tidak Randu. Kita akan ikut meeting dan pesankan aku tiket hari ini juga ke Singapura."
"Hah? Bapak mau ke luar negeri?" tanya Randu tidak percaya.
"Ya, aku baru ingin berbulan madu di sana."
"Baiklah pak. Kita berangkat dulu, setelah meeting selesai saya akan memesan tiket untuk bapak."
"Okey kita berangkat sekarang."
Bulan madu di Singapura atau sekalian keliling dunia bersama Nadia akan ia lakukan untuk menyambung hubungan yang sedang retak ini.
🌹
Singapura.
Nadia dan rombongan kementerian kesehatan telah selesai melakukan nota kesepakatan kerjasama dengan kementerian kesehatan Singapura.
Ada banyak bentuk kerjasama yang mereka lakukan, salah satunya adalah pertukaran dokter ahli selama sebulan untuk beberapa rumah sakit milik kedua negara. Dan bentuk kerjasama lainnya yang sama-sama saling menguntungkan.
Semua urusan hari itu telah berjalan dengan sangat baik dan lancar.
Acara selanjutnya adalah jalan-jalan.
Satu hari dengan urusan kerja hari berikutnya adalah menikmati liburan yang diberikan oleh pemerintah.
Dan hal itu sudah membudaya di negara kita. Lebih banyak waktu bersantai daripada bekerja.
Nadia sudah merasa gelisah. Ia termasuk perempuan workaholic. Ia tidak suka bersantai sebenarnya disaat ada banyak pekerjaan yang menunggunya di tempat kerja.
__ADS_1
Akan tetapi, hatinya ternyata tak sekuat itu. Ia tidak ingin pulang ke tanah air untuk sementara waktu. Ia ingin menyembuhkan lukanya terlebih dahulu.
Dan disinilah ia, bersama dengan Clara yang memaksa ikut padahal ia sedang ingin menikmati waktu sendiri.
"Wahh tempat ini bagus ya bu dokter, hati adem dan penglihatan pun bisa sangat segar."
" Hum ya bener sekali," timpal Harry yang tiba-tiba saja berada di belakang mereka berdua.
"Eh dokter Harry juga ikut?" tanya Nadia dengan wajah kaget.
"Ya tentu saja. Kita kan datang ke negara ini sama-sama jadi ya kemanapun harus bersama juga dong," jawab pria itu dengan santai. Nadia hanya bisa mendengus pelan.
Niatnya untuk menyendiri harus ia kubur jauh-jauh.
"Tempat ini memang bagus banget lho, kita bisa memanjakan mata dengan kesegaran alam di Southern Ridges," ujar Harry sembari memandang ke sekeliling tempat itu.
"Southern Ridges merupakan jembatan layang terbuka sepanjang 10 kilometer yang menghubungkan Mount Faber Park, Telok Blangah Hill Park, Hort Park, Kent Rigde Park, dan Labrador Nature Reserve."
"Untuk anda yang ingin datang ketempat ini, pastikan menikmati kesegaran alam Singapore dengan berjalan kaki agar bisa sedikit berolahraga. Selagi berjalan kaki, kita juga bisa mengamati hutan yang dipenuhi pepohonan."
"Sesekali, kita akan menemukan burung yang cantik dan tanaman unik. Memiliki tinggi mencapai 30 meter di atas permukaan tanah, Southern Ridges merupakan jembatan pejalan kaki tertinggi di Singapore."
Seorang guide tour ikut menambahkan penjelasan tentang tempat wisata tersebut.
Nadia diam mendengarkan dengan berusaha menikmati pemandangan indah dihadapannya.
Luka hatinya sedikit mengering meskipun sebenarnya masih sangat basah di dalam.
Kalau bisa ia memilih, ia ingin tinggal di tempat itu saja untuk mendapatkan ketenangan.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentarnya dong.
Ada hadiah ada update 😂
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1