
"Ya, aku ada di sini. Dan kamu? Apakah sedang berusaha menggoda istri orang lain?"
Galih menatap Harry dengan tatapan tajam. Sejak tadi ia sudah berada di tempat itu tapi belum ingin mendekat karena tidak ingin menimbulkan keributan dengan istrinya.
"Aku hanya ingin mengambil kembali milik aku yang sudah kamu rebut dengan paksa." Harry menjawab dengan balas menatap Galih dengan emosi tertahan.
"Oh ya? Bukannya kalian berdua telah putus ya? Jadi aku merasa tidak merebut milik orang lain."
"Terserah. Yang penting aku tidak mau melihat Nadia menderita denganmu. Aku tidak mau melihat kekasihku menitikkan airmata karena dirimu. Brengsek!"
Galih berkelit. Untungnya ia cepat menghindar. Tenyata setelah berucap dengan marah seperti itu. Harry berusaha memberikannya bogeman mentah.
Galih dengan cepat meraih kerah kemeja Harry dan mencengkeramnya dengan kuat. Ia mengangkat tubuh Harry dengan rahang mengeras sempurna.
Tubuhnya yang lebih tinggi daripada dokter itu membuatnya sangat mudah untuk melumpuhkan pria itu.
"Heh dengarkan aku baik-baik. Kamu tidak ada hak samasekali pada istri orang lain. Kamu harus sadar diri atau kamu akan melihat bagaimana caraku memperlakukanmu!"
Galih melempar tubuh Harry sampai terhuyung ke arah bangku taman.
"Brengsek! Kamu berani padaku hah?!" Harry berusaha bangun dan merangsek maju untuk membalas apa yang dilakukan Galih padanya.
"Tentu saja!" balas Galih menantang seraya menahan tubuh pria itu agar tidak menyentuhnya. Setelah itu ia mendorong tubuh dokter itu dengan keras dan akhirnya terpental ke belakang.
"Maafkan aku dokter Harry. Kita sekarang ini sedang berada di negara orang. Jadi untuk saat ini aku memaafkanmu."
"Cih!" Harry berdecih emosi.
"Dan ya, aku sedang tak ada waktu denganmu!" Galih mengibaskan tangannya santai kemudian segera meninggalkan tempat itu.
Ia ingin segera memburu langkah Nadia dan meminta maaf pada perempuan itu.
"Aaaaargh!" Harry menendang udara dengan sangat kesal.
Betul kata Galih, mereka sedang berada di negara orang lain jadi jangan sampai mereka dideportasi jika membuat masalah.
Nadia memasuki kamarnya dengan dada sesak. Perkataan Harry tentang suaminya rupanya mempengaruhi keadaan psikisnya sekarang.
Rasa kesal dan benci kembali berkecamuk di dalam dadanya. Ia kembali menangis. Menyesalkan dirinya yang sangat bodoh.
"Aaaaa, aku membencimu Pradana brengsek!" perempuan itu berteriak keras seraya membenamkan wajahnya di atas bantal.
Tubuhnya bergetar hebat menahan gejolak emosi yang sedang mendera dadanya.
Saat ini ia bebas menangis karena tidak ada Clara di dalam kamarnya. Ia tidak akan kelihatan menyedihkan dimata gadis itu.
"Aaaaaa, ya Tuhan. Kenapa nasib ku bisa seperti ini?" ucapnya dengan tangis sesenggukan.
__ADS_1
Tak habis pikir ia kenapa ujian ini begitu berat menerjangnya bertubi-tubi. Kadang ia merasa apa dosa dan kesalahannya sehingga Tuhan memberinya hal yang sangat buruk seperti ini.
Tok
Tok
Tok
Perempuan itu segera menghapus airmatanya. Ia takut kalau Clara atau Harry akan melihatnya terpuruk seperti ini.
Tok
Tok
Tok
Perempuan itu segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Memperbaiki cepat dandanannya kemudian membuka pintu kamarnya.
"Nad?"
Galih tampak di hadapannya dengan senyum khasnya yang selalu mampu merontokkan hati semua perempuan.
Untuk sekian detik, Nadia tidak mampu bergerak karena kaget. Tapi kemudian ia menutup pintunya dengan cepat karena tidak ingin bertemu dengan pria itu.
Untungnya tangan kuat Galih reflek menahan pintu itu.
"Pergi kamu dari sini!" teriak Nadia seraya mendorong pintu itu dengan keras dari bagian dalam.
"Tidak! Pergi dari sini!" Nadia berteriak dengan nada suara bergetar penuh emosi. Ia berusaha mendorong pintu itu dengan tangannya sementara Galih berusaha menahan dari luar.
"Nadia, tolong biarkan aku masuk sayang. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin bicara," ucap Galih berusaha bertahan.
Ia bisa saja mendorong pintu itu dengan keras dengan kekuatannya tapi ia tidak akan memaksa sampai perempuan itu membukakan pintu dengan suka rela.
"Tidak! Aku benci padamu! Kamu brengsek! Kamu menjijikan!"
"Nad, sayangku. Buka pintunya, biarkan aku masuk. Aku ingin bicara denganmu."
"Pergi dari sini atau ceraikan aku sekarang juga!"
Duaaarr!
Galih merasakan tubuhnya bagaikan terkena aliran listrik tegangan tinggi. Ia tak menyangka kalau istrinya akan mengatakan hal seperti itu.
"Nadia, plis."
"Kamu dengar aku 'kan? Aku tidak ingin bertemu denganmu. Pergi kamu dari sini atau ceraikan aku!"
__ADS_1
Galih mundur. Tangannya terlepas dari daun pintu itu. Dadanya sangat sesak. Ia tidak tahu kenapa Nadia sampai semarah ini padanya.
Pintu itu pun tertutup rapat. Ia hanya bisa menghela nafasnya berat.
"Aaaaaa!"
Masih bisa ia mendengar suara teriakan kesal dari bibir istrinya dari balik pintu itu. Ia yakin kalau perempuan itu benar-benar sangat menderita karena perbuatan Nara padanya.
Segera ia menghubungi Randu di Indonesia agar memberikan hukuman yang sangat berkesan untuk perempuan brengsek itu.
Nadia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya merosot ke bawah dengan sangat menyedihkan.
Ia kembali menangisi nasib pernikahannya yang baru seumur jagung dengan seorang Cassanova pilihannya sendiri.
Aaaaa, aku lebih memilih menjadi janda saja daripada berbagi suami dengan perempuan lain.
🌹
Pagi pun tiba. Rombongan dokter dan kepala dinas kesehatan beberapa kota di Indonesia itu sudah bersiap check out dan berangkat ke Bandara Changi.
Semua akan pulang ke tanah air dua jam lagi. Dan sekarang mereka sudah harus bersiap untuk turun ke lantai bawah.
Bus yang akan mengantar mereka ke Bandara sudah menunggu beberapa menit yang lalu. Clara sudah berada di depan pintu kamarnya menunggu Nadia yang masih sibuk menata syal di lehernya.
"Kamu turun duluan ya Clara. Aku masih harus memperbaiki riasanku," ucap Nadia dengan senyum diwajahnya.
Seperti biasa ia harus memberikan krim pada wajahnya untuk menutupi kantung matanya gara-gara menangis lagi semalam.
"Iya deh dokter tapi jangan lama-lama ya," ucap Clara seraya menarik gagang kopernya. Ia akan menunggu di Lobby saja.
"Hum," balas Nadia bagaikan gumaman.
"Okey," balas Clara tersenyum. Ia pun menutup pintu kamar mereka dari luar dan melangkahkan kakinya ke arah lift yang akan membawanya ke loby hotel itu.
Nadia menatap wajahnya di dalam kaca kemudian membuang nafasnya pelan.
"Aku harus bahagia. Kembali ke tanah air dengan semangat baru."
"Aku perempuan mandiri dan tak akan menderita dengan pria itu. Aku bisa hidup dengan tenang dan ya, pernikahan ini mungkin akan aku akhir saja."
Setelah merasa penampilannya sudah cantik, ia pun segera keluar dari kamar itu dengan senyum terpatri di wajahnya.
Melangkahkan kakinya dengan anggun, ia menarik gagang kopernya seraya memasang kacamata hitam diatas hidungnya yang mancung.
"Awwwww!"
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menariknya ke dalam sebuah kamar yang ia lewati.
__ADS_1
🌹🌹🌹
*Bersambung.