Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 14 Harus Menikah


__ADS_3

"Gak nyangka ya, ternyata Nana Ninu itu benar-benar telah menikah dengan pengusaha kuliner itu," ucap Fardan Larigau seraya menyeruput minumannya.


"Kamu kapan?"


Galih mendengus. Ia tidak suka dengan pertanyaan Fardan padanya. Saat pulang ke rumahnya pun namanya selalu bertanya kapan ia akan menikah. Katanya ia sudah terlalu tua nanti kalau punya anak.


"Nanti kamu gak dipanggil papa atau daddy lho sama anakmu tapi kakek atau mbah kung." Begitu kata mamanya setiap ia menolak untuk menikah apalagi mempunyai seorang anak.


"Ayolah Galih Pradana, menikah itu enak lho, hidup lebih terjamin. Hati lebih tentram, dan tentunya kita bisa mendapatkan pahala yang sangat banyak."


Galih tersenyum mencibir, ia belum percaya dengan teori itu. Yang ia tahu mamanya belum pernah bahagia dengan papanya selama ini.


"Tentram itu kalau kita bisa saling menerima keadaan masing-masing. Lah, aku? Aku gak mau menerima keadaan perempuan yang tidak suci padahal diriku sendiri tidak bersih dan suci."


Fardan menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia pun menatap sahabatnya itu seraya meraih bahunya.


"Lihat tuh Pak walikota udah punya baby boy. Aku juga udah hampir jadi Daddy. Lah Nana jangan ditanya, sisa ngitung hari tuh pasti udah lahiran. Lah kamu? Gigit jari."


Fardan berusaha memanas-manasi sahabatnya itu agar mau memberi kesempatan pada dirinya untuk membuka diri. Mungkin dengan alasan anak atau keturunan pria itu jadi mempunyai keinginan untuk menikah.


"Kamu tidak impoten 'kan?"


Bugh


Reflek, Galih langsung memukul bahu Fardan.


"Sialan kamu. Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa membuat perempuan hamil? Aku juga bisa."


"Hahaha!" Fardan tertawa terbahak-bahak. Ia pun menatap pria itu seraya mengangkat alisnya.


"Kamu suka main di ranjang dengan pacar satu malam mu itu dan besoknya putus. Apa jangan-jangan kamu gak bisa bahagiain mereka di ranjang atau emang kamu nya cuma bikin pencitraan saja padahal sebenarnya kamu impoten!"


Bugh


"Aaargh!"


Galih kembali memukul bahu Fardan dengan keras.


"Sialan kamu Dan! Kamu meragukan aku ya?!" Galih menatap tajam sang sahabat.


"Iya. Aku merindukanmu dan sekarang buktikan kalau kamu benar-benar normal!" ucap Fardan dengan ujung bibir terangkat.


"Hum, baiklah. Aku akan mencari calon yang tepat untukku secepatnya dan akan ku buat ia hamil dalam satu kali operasi saja."


Galih tertantang. Ia benar-benar merasa tersindir dengan apa yang sahabatnya katakan padanya.


"Okey! Sebelum Asma melahirkan kamu sudah harus menikah!" tantang Fardan.


Galih mencibir, Asma melahirkan masih ada sekitar 4 bulan lagi. Itu terlalu lama buatnya.


"Sebelum Nana melahirkan, bagaimana?" Galih menaik turunkan alisnya dengan tatapan lurus ke dalam mata pengacara itu. Fardan menyeringai. Ia tahu kalau Galih paling suka dengan tantangan.


"Ah ya boleh. Lalu kalau kamu tidak bisa dapat calon istri diwaktu yang singkat itu bagaimana?" tanya Fardan memancing. Galih nampak berpikir untuk beberapa detik kemudian memberikan kunci mobil mewahnya.


"Ambil ini untuk hadiah calon bayimu nanti."

__ADS_1


"A-apa? Beneran nih? Mobil ini 'kan mobil barumu Lih. Baru 2 hari kamu pakai."


"Ya emangnya kenapa? Harga diriku lebih berharga daripada mobil itu." Galih menjawab dengan dagu terangkat.


"Wah Alhamdulillah kalau begitu." Fardan tersenyum. Ia berharap Galih benar-benar menang dengan taruhan ini.


"Sekarang aku pergi. Aku akan mengunjungi Nana," ujar pria itu seraya mengambil kembali kunci mobilnya.


"Heh, mau ngapain lagi kamu ketemu Nana?!"


"Rahasia lah."


"Eh jangan katakan kalau kamu mau merebut perempuan itu dari suaminya ya, mau beli satu dapat dua gitu."


Bugh


Pria itu kembali memukul bahu Fardan dengan pukulan yang lebih keras.


"Sembarangan. Aku hanya ingin bertanya hari perkiraan melahirkannya."


"Oh kirain?"


"Apa?!"


"Gak Mas bro."


Galih pun berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Fardan di kantor pengacara itu.


Fardan hanya tersenyum simpul seraya mengelus bahunya yang sudah tiga jali mendapatkan pukulan dari pria itu.


🌹


"Bilang aku gak ada."


"Eh, tapi aku udah bilang kakak ada."


"Kalau begitu ralat."


"Gak bisa kak, udah ditanda tangani gitu. Udah ada stempelnya juga;" jawab Vania seraya memandang satu kotak pizza ditangannya.


Bugh


"Awwwww Kakak kok main lempar aja sih." Vania mengelus kepalanya yang baru saja mendapatkan pendaratan boneka gratis.


"Kalau gitu bilang padanya kalau aku sudah tidur dan tak bisa diganggu."


"Kak. Gak enak nih. Masak Pizza nya harus dikembalikan sih?!" Vania merajuk.


Dengan wajah kesal, Nadia langsung bangun dari posisinya. Ia memperbaiki riasannya kemudian keluar menemui mantan tunangannya itu.


"Ada apa ya Her?" tanyanya langsung pada intinya. Ia bahkan tidak duduk dan hanya berdiri saja.


"Duduklah Nad. Kita harus bicara, saat ini." Harry menatap gadis itu dengan senyum diwajahnya. Ia mempunyai kabar gembira dan ingin memberitahukannya pada gadis itu.


"Aku tidak perlu duduk. Katakan saja mau ngomong apa!!"

__ADS_1


"Aku udah dapat SK sebagai kepala dinas kesehatan Nad." Harry nampak sangat antusias dengan berita yang baru ia dapatkan itu.


"Syukurlah kalau begitu. Selamat!" Nadia berucap dengan tangan ia lipat di depan dadanya. Tak ada ekspresi yang menonjol di sana ia cukup santai dengan wajah datar.


"Nad, mari kita lanjutkan rencana pernikahan kita sayang."


"Jangan panggil aku sayang karena aku sangat jijik mendengarnya."


"Nad?!"


"Apa? Kamu tidak suka?!"


"Tiga tahun sayang. Selama itu kita tidak pernah cekcok. Kita selalu aman dan damai dengan seluruh cinta yang kita miliki. Sekarang, kita sisa menunggu hari-hari seperti ini Nad, aku sudah menjadi kepala dinas dan kita bisa menikah dengan bahagia."


"Cih!"


Nadia berdecih. Ia benar-benar sangat benci dengan kata cinta yang diucapkan oleh pria itu.


"Nad?!" Harry berusaha meraih tangan dokter cantik itu tetapi Nadia langsung mundur.


"Kamu bisa pulang pak kepala dinas. Aku sangat bahagia mendengar promosi karirmu sekarang dan itu berarti bahwa kita tidak akan satu naungan tempat kerja lagi."


"Kita masih sangat dekat Nad, rumah sakit dan dinas kesehatan itu begitu dekat."


"Gak apa-apa pak kadis, aku rela kok kita tidak bertemu. Dan kalau perlu bawa Ayunda untuk ikut mutasi ke tempat anda juga supaya kalian bebas melakukan hubungan yang sangat menjijikkan seperti itu."


"Nad! Tidak bisakah kamu menghapusnya dalam ingatan kamu? Aku hanya khilaf sayang."


"Sayangnya memori itu tak pernah bisa hilang dari kepalaku. Dan apakah aku harus mengatakan lagi bahwa aku sangat membencimu pak kadis?!"


"Nadia!"


"Cukup! Aku bahkan tak ingin mendengarkan kamu menyebut namaku sama sekali. Dan ya, kita tidak perlu bertemu lagi di dimanapun."


Harry menghela nafasnya. Ia sudah tidak punya kata lain lagi untuk mendapatkan Nadia.


Pria itu pun pergi dari rumah itu tanpa berpamitan lagi. Orang Tua Nadia sendiri merasa sangat bingung dengan apa yang terjadi pada pasangan calon pengantin itu.


"Nad, ada apa sebenarnya dengan kalian berdua?"


"Tidak apa ma," jawab Nadia malas.


"Apa kata keluarga besar kita kalau kamu dan Harry tidak jadi menikah? Mereka semua sudah lama menunggu putri sulung Gazali menikah seperti Asma dan juga pak walikota." Mamanya menatap wajah putrinya itu dengan tatapan serius.


"Tenang saja ma, pa, aku sudah punya calon suami sendiri."


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Adakah transferan bunga atau kopi?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2