Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 22 Suka Susu


__ADS_3

Nadia keluar dari kamarnya setelah berpakaian. Ia ingin menemui Vania untuk menyiapkan kamar tamu untuk Galih Pradana. Ia tidak mau sekamar dengan pria itu.


Seorang suami yang sangat berbahaya karena selain jahil ia juga sangatlah mesum.


"Mama, lihat Vania gak?" tanyanya pada sang mama yang baru keluar juga dari kamarnya.


"Vania lagi ngobrol di depan tuh sama sekeren suami kamu. Emangnya kenapa sih? Bukannya di kamar saja istirahat."


"Nah ini juga mau istirahat mama. Cuma aku gak bisa tidur. Aku gak biasa berbagi ranjang dengan orang lain," ujar Nadia dengan wajah cemberut.


"Maksud kamu apa sayang?" Thalia, sang mama langsung menatapnya intens. Ia jadi mencurigai sesuatu.


"Gak ada ma. Aku salah ngomong kok."


Nadia langsung tersadar. Ia menipiskan bibirnya dan langsung kabur dari hadapan mamanya.


"Nadia?! Jangan pergi kamu. Sini jelaskan sama mama. Apa maksudmu?!"


Nadia pura-pura tidak mendengar. Ia terus saja keluar dari ruangan itu menuju ke beranda depan, dimana Vania berada.


Sungguh, Ia tidak ingin ketahuan kalau pernikahan ini hanya pernikahan ikut-ikutan yang tidak berdasarkan cinta di dalamnya.


"Heran. Udah dewasa kayak gitu tapi gak ngerti pentingnya bersama dan melayani suami." Thalia mengangkat kedua bahunya kemudian berjalan ke arah dapur.


Ia ingin meminta bibik di rumah itu untuk membuatkan minuman atau susu hangat untuk pengantin baru seperti kebiasaan keluarganya saat ia baru saja menikah dulu.


Ia tidak tahu apa maksudnya tapi ia akan mempraktekkannya supaya Nadia dan suaminya sehat dan kuat menjalani ibadah sunnah yang sangat diberkahi oleh Tuhan. Dan ternyata tokcer. Ia langsung hamil waktu itu.


Aaaa, tiba-tiba saja ia merindukan seorang cucu dari putri sulungnya itu.


Sementara itu, di beranda depan.


"Kak Randu gak nginap aja di sini? Ini udah larut lho," ujar Vania pada pria kepercayaan kakak iparnya itu.


"Gak Van, makasih ya, aku sekarang udah mau pulang. Udah ngantuk nih," jawab pria itu seraya bersiap untuk pergi dari rumah itu.


"Aku mau pamit sama pak Galih tapi kayaknya udah lelah banget jadi nanti kamu bilang sama beliau ya Van," ujar Randu tersenyum.


"Ya deh, nanti aku sampaikan." Vania menjawab dengan senyum pula.

__ADS_1


"Makasih banyak ya kak udah ikut repot di pesta pernikahan kak Nad."


"Ah iya gak apa-apa kok. Aku senang juga. Kamu cepat tidur biar pagi kelihatan segar dan semakin cantik."


"Duh, aku meleleh kak. Perhatian banget sih?" Vania berucap seraya menaruh dagunya di atas telapak tangannya. Randu hanya tersenyum. Ia mengacak rambut Vania dengan sangat gemas.


"Udah ya, assalamualaikum. Aku pulang." Randu pun pergi karena takut berlama-lama berada di rumah itu.


"Iya kak." Vania melambaikan tangannya saat pria itu benar-benar keluar dari halaman rumahnya menggunakan mobilnya sendiri.


"Kalian akrab sekali ya? Apa kalian sedang pacaran?" tanya Nadia dari arah pintu. Vania terlonjak kaget. Ia tidak tahu kalau ternyata kakaknya ternyata sudah lama berdiri di sana dan menyimak percakapannya dengan Randu.


"Gak kok kak. Kami cuma sahabat aja sih. Napa? Kakak cemburu?" Gadis itu menatap wajah sang kakak dengan wajah serius.


"Ish! Cemburu? Memangnya di dunia ini hanya Randu seorang?" Nadia mendengus. Sedangkan Vania langsung menyambung setelah teringat sesuatu.


"Eits lupa, kakak 'kan udah punya kak Galih yang keren dan tajir."


Nadia mencibir.


"Cepat masuk. Siapkan kamar tamu untuk suamiku yang keren dan tajir itu. Aku gak mau se ranjang dengannya."


"Hah? Yang bener?" Vania tampak melongo tak percaya.


Pletak.


"Awww! Sakit tauk!" Vania meringis. Keningnya kini memerah akibat jitakan dari sang kakak.


"Hati-hati ya kalau ngomong. Gak sopan tuh namanya!"


"Habisnya, kakak tuh yang mancing aku ngomong seperti itu. Masak kak Galih yang tampangnya keren maksimal seperti itu mau disuruh tidur di kamar tamu padahal ini malam pertamanya kakak." Bibir Vania langsung manyun karena kesal.


"Ya udah, sana kamu masuk. Udah malam. Cepat tidur seperti pesan siapa tuh tadi? Randu? Supaya kamu cantik maksimal!" Nadia langsung meninggalkan sang adik dengan wajah menyindir.


Baiklah, malam ini ia akan tidur dan sekamar dengan Galih Pradana. Meskipun ia tak suka tetapi ia tidak akan membuat keributan di malam pertamanya menjadi seorang istri.


Apa kata kedua orangtuanya kalau Vania membocorkan rahasianya ini. Lagipula memangnya Galih mau?


Oh, ia tidak yakin kalau Vania tidak akan membuat masalah jika ia benar-benar meminta Galih untuk pergi dari kamarnya.

__ADS_1


Ia pun membuka pintu kamarnya dan segera masuk. Matanya memicing saat melihat sang Galih Pradana sedang mengobrol santai dengan mamanya dengan menikmati segelas susu putih.


Ada apa ini?


Kenapa mereka tampak akrab sekali?


Nadia bertanya-tanya dalam hati.


"Sini Nad. Mama bawakan kalian susu putih khas resep dari nenek moyang mama." Talia memanggil Nadia untuk bergabung dengan mereka di tempat itu. Sebuah sofa panjang di depan home teather mini nya.


"Resep apa ma? Emangnya ada resep minuman seperti ini?" tanya Nadia dengan wajah mengernyit. Entah kenapa ia jadi mencurigai sesuatu. Ia pun duduk di samping perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Ya, ada dong. Coba deh kamu minum, nak Galih bahkan udah menghabiskannya." Talia mengarahkan pandangannya ke arah menantunya seraya tersenyum.


"Gak ah ma. Aku 'kan gak biasa minum susu sebelum tidur. Tubuhku bisa gemuk ma. Gak mau aku." Nadia memberengut. Ia memang selalu menghindari makanan atau minuman yang berlemak sebelum tidur.


Tubuhnya harus sehat dengan bentuk yang sangat proporsional.


Padahal sebenarnya ia tahu sendiri kalau tidak semua susu membikin gemuk, tergantung jenis susu, cara atau pola mengonsumsinya seperti apa, kapan minumnya, di tambah lagi bukan susunya yang bikin gemuk tetapi temannya dalam mengkonsumsi susu, mungkin ditambah roti bakar atau sebelumnya sudah makan nasi dengan segala jenis lauk-lauknya.


Ia hanya tidak ia ingin sembarangan meminum sesuatu yang ia tak tahu bahan dan takarannya. Sehat atau berbahaya untuk tubuhnya.


Dan ya, ia takut kalau sang mama telah mencampur sesuatu ke dalam minuman itu. Yang mungkin saja akan membuat ia tidak sadar.


Ia melirik Galih yang juga sedang meliriknya. Pria itu tersenyum padanya. Senyum yang sangat manis dan ternyata membuat dadanya berdebar kencang.


Oh ya ampun. Aku bisa jadi santapannya kalau lama-lama berduaan dengannya.


"Gimana nih? Susunya mubazir dong," ujar Talia dengan wajah kecewa.


"Gak apa-apa Ma, biar aku yang habiskan semuanya."


"Lho, kamu gak apa-apa 'kan nak?" Talia menatap khawatir menantunya itu. Akan tetapi Galih hanya tersenyum kemudian berucap, "Aku suka susu ma. Dan aku sepertinya masih ingin nambah malam ini."


"Hah?"


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2