Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 37 Meraba Perasaan


__ADS_3

Nadia menatap Harry dengan tatapan serius kemudian berucap, " Aku tidak ada masalah. Aku baik-baik saja. Jadi tidak ada yang perlu aku katakan padamu."


"Nad, berhentilah untuk selalu berpura-pura tegar seperti itu. Kamu sedang tidak bahagia dengan suamimu. Jadi tolong berikan aku kesempatan untuk menjadi~ hum, teman dekatmu."


"Kita ke Restauran untuk sarapan sekarang. Aku lapar." Nadia mengibaskan tangannya karena tak mau membahas tentang masalah pribadinya.


Ia tidak mau semua orang tahu kalau ia sedang sangat menyedihkan saat ini. Ia harus kuat untuk menjalani apa yang ia pilih.


Untuk saat ini ia ingin fokus bekerja demi kemajuan rumah sakit yang sedang dipimpinnya.


Harry menghela nafasnya. Ia tidak mungkin memaksa perempuan cantik itu untuk mencurahkan isi hatinya sekarang. Ia tahu sifat Nadia yang keras kepala dan juga sangat disiplin bekerja.


Pria itu pun mengikuti langkah Nadia ke dalam lift. Di dalam kotak besi itu tak ada yang bicara sama sekali. Mereka diam dengan pikiran masing-masing.


Tring.


Keduanya keluar dan langsung menuju restauran. Mereka menuju tempat yang telah disediakan oleh pihak manajemen hotel khusus bagi mereka yang muslim untuk bisa menikmati makanan halal.


Sarapan itu pun berlalu dalam diam, Harry berusaha untuk bersabar sedangkan Nadia berusaha menikmati sarapan itu dengan tenang meskipun pikiran dan hatinya ada pada Galih Pradana. Seorang suami brengsek yang telah membuatnya sangat bodoh.


Setelah sarapan mereka pun langsung melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah sakit yang sangat terkenal di negara itu.


Kesibukan dengan banyaknya kegiatan pada hari itu lumayan membuat Nadia merasa lebih baik dan melupakan masalahnya.


Akan tetapi tidak bagi Galih, ia seperti orang linglung. Kebiasaannya mencumbu istrinya setiap pagi selama beberapa hari ini harus berubah dengan sangat tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Ia menatap ke sekeliling kamarnya dengan tatapan kosong. Bayangan canda, tawa, dan bahkan aksi marah-marah Nadia yang selalu ada di dalam kamar itu kini hilang tak bersisa.


Sepi.


Hening.


Sekali lagi ia melihat handphonenyanya. Semua pesannya tak ada yang dibaca oleh perempuan itu.

__ADS_1


Nadia benar-benar menghilang bagai ditelan bumi.


"Aaaaargh! Kenapa kamu melakukan ini padaku Nad?!" teriaknya frustasi.


"Kamu tega padaku!" lanjutnya seraya menjambak rambutnya seperti orang gila. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan yang sangat menyiksa seperti ini.


"Ah sial! Ada apa denganku? Kenapa aku jadi sangat lebay seperti ini?!" gumamnya untuk memberikan dirinya semangat. Ia pun memaksa kakinya untuk melangkah ke kamar mandi.


Ia harus keluar rumah untuk bekerja atau ia akan mati karena perasaan tak nyaman ini.


Setelah mandi, ia pun membuka lemarinya untuk berpakaian. Pakaian sang istri ada di sana dan mengingatkannya kembali pada Nadia.


"Oh ya Allah, apa aku sudah mulai jatuh cinta padanya? Kenapa hatiku rasanya sangat sesak dengan semua yang ia lakukan padaku?"


Praja segera memakai pakaiannya dan keluar dari kamar itu. Sarapan seadanya kemudian segera pergi untuk bekerja.


Randu sudah menunggunya dengan maket yang sudah mereka rancang sebelumnya.


"Ah ya, kita akan kesana. Sekarang tolong siapkan materi yang akan dibahas pada meeting nanti dengan bagian tata kota dan pemerintahan."


"Iya pak baik."


Randu dengan cepat membuka laptopnya dan mencari file yang dimaksud dan diinginkan oleh pimpinannya itu.


"Apa perlu saya print out untuk bapak?" tanya Randu.


"Tentu saja Randu. Print out semuanya. Setelah itu ajak Vania untuk makan siang di luar."


"Eh? Maksudnya pak? Apa ada hubungannya pekerjaan kita dengan gadis itu?" Randu tampak bingung tapi hatinya sangat senang. ia juga sudah lama ingin mentraktir gadis itu.


"Kamu yang sangat rindu padanya bukan?"


"Kok tahu sih pak."

__ADS_1


"Karena aku juga sangat merindukan kakaknya. Jadi kamu harus mencari tahu informasi tentang Nadia lewat mulut Vania. Mengerti kamu?!"


"Memangnya Bu dokter tidak bersama dengan anda sekarang pak?" tanya Randu dengan alis mengernyit bingung.


Galih menghela nafas kemudian mengangguk dengan wajah yang sangat menyedihkan. Randu tak tahan untuk tidak tertawa.


Ia tak menyangka kalau seorang Cassanova kelas kakap seperti ini bisa juga memasang wajah yang sangat menyedihkan seperti itu karena seorang perempuan.


"Jangan tertawa! Cepat mana print outnya dan kamu bisa pergi bersama dengan Vania!"


"Baik pak. Siap!" Randu segera mencolok laptopnya ke mesin printer dan mulai mengeluarkan kertas-kertas yang dibutuhkan oleh bosnya itu.


"Ini pak."


"Terimakasih banyak Randu."


"Sama-sama pak. Sekarang saya menelpon Vania ya pak," ujar Randu dan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


"Hey, kenapa harus menelpon di luar. Di sini saja. Aku mau mendengarkan kamu merayu gadis itu."


Randu tersenyum kemudian segera keluar. Ia tetap saja keluar karena ia tidak ingin pembicaraannya di dengarkan oleh sang bos Cassanova itu. Ia takut di bully.


Akan tetapi begitu kagetnya ia, saat membuka pintu ruangan. Seorang perempuan seksih berdiri di depan pintu dengan wajah sok cantiknya.


"Pak Galih ada di dalam?"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2