Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 40 Usaha Harry


__ADS_3

"Mau makan di luar gak bu dokter?" tanya Clara malam itu.


"Gak ah. Aku lagi males. Kamu aja yang pergi. Aku masih kenyang." Nadia menolak dengan halus karena memang masih merasa kenyang dan juga sedikit MALAS.


Ia lagi malas gerak atau Mager dan lebih ingin menikmati kesendirian yang sangat menyedihkan.


"Ini malam terakhir kita lho dok di Singapura. Ayolah kita nikmati jalan-jalan dan makan di IndoChili Restaurant. Saya belum pernah ke sana. Mau ya? Plis?"


Nadia tampak berpikir.


IndoChili Restauran merupakan restoran otentik Indonesia yang sudah bersertifikat halal Singapura.


Menu yang terdapat di IndoChili Restaurant di antaranya adalah Sate Ayam Madura, Sayur Asem, Tahu Telor, Lontong Cap Gomeh, Risoles, Rawon Komplit, Soto Betawi, dan Nasi Timbel


Ada juga Ikan Bakar Bali, Udang atau Cumi Balado, Ayam Panggang Padang, Ayam Goreng Kremes, Rendang Sapi, Urap, dan Sambal Terasi di IndoChili Restaurant.


Satu macam makanan di IndoChili Restaurant dijual seharga mulai 5-60 dolar Singapura (SGD).


Lokasi IndoChili Restaurant berada di sebelah stasiun MRT Tanjung Pagar, tepatnya di 7 Wallich Street #B1-03.


IndoChili Restaurant buka setiap hari pukul 11.30-21.00 waktu Singapura.


"Bagaimana dok? Mau ya?" pinta Clara lagi dengan sangat. Pada rombongan dari Indonesia itu hanya mereka berdua perempuan, untuk itu mereka jadi sangat akrab.


"Hum baiklah. Aku akan bersiap kalau begitu," ucap perempuan itu setuju.


Sekali lagi ia menghibur dirinya bahwa dengan membuat orang senang insyaallah ia juga akan merasa senang. Dan lagi, Ia cukup kasihan juga sama Clara kalau ia menolak.


"Ah iya dokter terimakasih banyak. Saya sangat senang sekali."


"Hum," ucap Nadia singkat.


Perempuan itu pun mulai merapikan pakaiannya. Sebuah Coat ia gunakan sebagai outer pakaian casual yang sedang ia gunakan malam ini.


Santai.


Ini bukan acara makan malam romantis, hanya makan malam yang lumayan sepi di hatinya.


Tak lama kemudian mereka pun berangkat. Dan yang bikin heboh dan meriah lagi adalah ternyata semua anggota rombongan juga ikut.


Nadia bersyukur bahwa teman-temannya cukup memberikannya hiburan yang cukup menyenangkan.


Luka dan kecewa pada Galih sedikit demi sedikit teralihkan.


Ia jadi lupa aturan makan malamnya yang selama ini ia jaga dengan baik.


Ia memesan Ikan Bakar Bali, Udang atau Cumi Balado, Ayam Panggang Padang, Ayam Goreng Kremes, Rendang Sapi, Urap, dan Sambal Terasi.


"Dokter yakin bisa menghabiskan semua makanan itu?" tanya Clara dengan mata melotot.


"Kan ada kamu Clara. Kita berdua akan memakannya bersama. Aku yang traktir." Nadia menjawab dengan alis terangkat.


"Ah tetap saja gak akan habis dok. Saya mana sanggup makan semua itu." Clara meringis. Harry yang sejak tadi diam-diam mendengarkan percakapan keduanya, ikut bicara.

__ADS_1


"Aku boleh bergabung gak? Aku juga pengen distraktir oleh kepala Rumah Sakit yang baru."


"Boleh kok dokter. Aku memang sengaja pesan untuk kita semua," jawab Nadia tersenyum.


"Alhamdulillah," ucap Harry dengan senyum penuh makna.


Tak lama kemudian pesanan makanan mereka pun datang. Mereka semua makan dengan sangat nikmat.


Cita rasa makanannya persis sama dengan di negara sendiri. Untuk itu mereka makan dengan lahap dan juga nikmat.


Mereka seperti sedang makan di rumah sendiri.


Nadia benar-benar melampiaskan rasa galaunya dengan makan yang sangat banyak. Dan seperti biasa, Harry yang sangat mengenalnya semakin yakin bahwa perempuan itu tidak baik-baik saja.


Setelah acara makan malam selesai. Mereka pun berjalan kaki ke Great World City shoping mall.


Ada yang ingin melihat-lihat saja dan ada yang ingin berbelanja untuk oleh-oleh pulang ke Indonesia.


Dan di tempat itu, Harry memisahkan dirinya dengan rombongan dan membawa Nadia ke sebuah tempat yang nyaman untuk duduk-duduk saja.


"Ada apa dokter?" tanya Nadia. Ia bingung dengan pria itu yang tiba-tiba saja memisahkannya dengan teman-teman rombongannya.


"Nad, bisakah kita bicara layaknya sebagai seorang teman?"


"Lho?" Alis Nadia terangkat.


"Kamu tahu pasti kalau aku masih sangat mencintaimu. Dan kamu pikir aku tidak menderita dengan caramu memutuskan aku?"


"Okey, aku tahu aku salah padamu. Tapi tidakkah ada sedikitpun sisa rasa yang tertinggal di hatimu untukku?"


Ia ingin mengutuk pengkhianatan yang dilakukan oleh Harry tapi bagaimana dengan Galih yang bahkan melakukannya dengan banyak perempuan?


Aaaaa


Dadanya sesak dengan sakit hati yang teramat parah.


Airmatanya tiba-tiba saja menetes tanpa permisi.


"Nad, bolehkah aku egois dan memintamu pada suamimu?" ucap Harry dengan tatapan memohon.


Sebuah kotak kecil ia berikan kepada Nadia sembari berlutut.


"Cincin ini sudah lima tahun yang lalu aku persiapkan Nad. Bolehkah?"


Nadia berusaha untuk tersenyum. Ia pun menyusut airmatanya dengan jari-jarinya yang lentik.


"Aku sudah menikah, dan kamu tahu sifatku 'kan? Aku gak pernah mau menikmati sisa dari perempuan lain."


Deg


Harry tertampar. Ia merasa bahwa usahanya untuk mendapatkan Nadia benar-benar sudah berada di jalan yang sangat buntu.


Sialan kamu AYUNDA brengsek!

__ADS_1


Hanya karena kesalahan semalam itu aku jadi harus menderita sampai bertahun-tahun seperti ini.


"Lalu bagaimana dengan Galih? Apakah ia bukan bekas dari semua partner ranjangnya Nad?"


Nadia terdiam. Ia tak mampu menjawab.


"Galih lebih berpengalaman pada perempuan Nadia. Jangan karena ia sangat profesional membujuk dan merayumu kamu jadi tidak bisa adil."


Nadia ingin menjawab tapi lidahnya terasa kelu.


Semua perkataan Harry memang benar adanya. Ia memang lupa dunia jika bersama dengan Galih Pradana.


Pesonanya yang berbahaya sekaligus memabukkan membuatnya kehilangan logika.


Pria itu mampu menjungkir balik hatinya dengan sedemikian rupa sampai ia lupa diri.


"Kenapa kamu diam Nad? Apa yang sudah ia berikan padamu hingga tak ada ruang sedikitpun di dalam hatimu untukku."


"Service di ranjang?"


"Apa ia sudah berhasil menyentuhmu?"


"Apa kamu sudah rela melupakan prinsipmu yang sangat kamu agung-agungkan itu?"


Nadia menundukkan wajahnya semakin dalam dengan hati bagai diremas-remas sakit.


Ia membenarkan semua perkataan Harry.


Ia merasa bodoh karena mau saja terbujuk rayuan pria itu padanya.


"Maaf dokter Harry. Aku harus kembali ke hotel. Aku mengantuk."


Nadia segera menyusut airmatanya kemudian pergi dari tempat itu.


"Nadia! Plis dengarkan aku!" teriak Harry dengan suara kerasnya. Ia memburu langkah perempuan itu dengan perasaan campur aduk.


Sedikit lagi, ia akan mempengaruhi perempuan cantik itu dengan kata-katanya.


Nadia jelas tak bahagia dengan suaminya. Dan itu berarti ia punya kewajiban untuk mendapatkan perempuan itu lagi dan membahagiakannya.


"Nadia!" panggilnya lagi dengan lantang. Akan tetapi langkah perempuan itu tak juga berhenti.


"Hey!"


Seorang pria yang ia kenal tiba-tiba saja menghalangi langkahnya memburu Nadia.


"Kamu? Ada disini?"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2