
Sisa sendok terakhir bubur ayam tersebut rasa nya tak rela Bara habiskan, tidak tahu kenapa tapi seolah-olah setelah suapan terakhir dia tidak akan mendapatkan kembali rindu yang sama.
Dia merindukan rasa itu, dia merindukan suapan tersebut dan dia merindukan sesuatu yang sangat sulit untuk dia jabarkan, dan dia tiba-tiba rindu rumah lama.
Rumah peraduan yang seharusnya menjadi tempat nya, rumah peraduan yang memiliki banyak canda tawa, ada wanita yang begitu dia hormati dan dia cinta, ada banyak kenangan yang mungkin tidak akan terulang.
Aroma kerinduan yang entah kapan bisa dia rasakan kembali, dia benar-benar rindu pulang.
Bara memejamkan sejenak bola matanya, dia melihat sosok yang dia rindukan di pelupuk matanya.
"Jangan kembali sampai kamu mendapatkan semua yang seharusnya menjadi milik mu, Bara"
Sebaris pesan disampaikan bibir pucat dalam getaran tanpa keberdayaan, menyentuh lembut wajah Bara dengan sisa air mata yang nyaris menghilang.
"Bertahanlah, setelah itu kembalilah, kau adalah Bara api yang akan menyala dan membakar siapa saja satu hari nanti"
Bara membuka kembali bola matanya.
Sejenak Bara menatap Embun yang duduk dihadapan nya.
"Siapa yang mengajarkan kamu memasak?"
Dia bertanya pada Embun, penasaran menyeruak didalam hati nya.
__ADS_1
"Aku lupa, sepertinya autodidak, karena sejak kecil memang suka memasak"
Perempuan tersebut menjawab refleks, memperhatikan mimik wajah Bara yang terlihat tidak baik-baik saja, dia pikir apakah ada sesuatu di balik mata Bara, dia tidak memperhatikan nya tadi, tapi sepertinya laki-laki tersebut punya masalah dengan mata nya pagi ini.
"Mata tuan sedikit memerah"
Lembut Embun berkata, takut salah bicara.
"Duduklah kemari"
Selalu seperti itu, Bara memberikan perintah untuk perempuan dihadapan nya tersebut, laki-laki itu menggeser sedikit kursinya.
Embun menurut, memindahkan posisi nya untuk duduk di kursi makan di samping kiri Bara karena dia pikir tempat yang paling tepat di sana, tapi siapa sangka tiba-tiba saja laki-laki tersebut menarik tangan nya, membuat Embun membulatkan bola matanya dan terkejut karena perlakuan laki-laki tersebut.
"Tuan?"
Gugup Menghantam nya, sembari tangan kanan dan kiri Embun menahan dada Bara, dia bingung dan malu karena cara Bara yang dia anggap tidak biasa.
Laki-laki tersebut selalu bersikap sesuka hatinya, membuat resah Embun yang tidak pernah mengenal laki-laki sebelumnya.
Bara tidak bicara, meraih tubuh Embun kemudian tiba-tiba memeluknya secara perlahan, laki-laki itu memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
Embun terkejut saat Bara memeluk nya, laki-laki tersebut menenggelamkan dirinya dalam bahu Embun tanpa suara.
__ADS_1
Cukup lama, hingga akhirnya Bara melepaskan pelukannya.
"Mari pergi keluar hari ini"
Ajak laki-laki tersebut tiba-tiba.
Embun mengerutkan keningnya, cukup terkejut atas ajakan tiba-tiba Bara.
"Tapi tuan?"
Bukankah seharusnya Bara pulang? dia tahu hari ini weekend tapi seharusnya Bara pergi bersama Ayla, istrinya.Lalu bagaimana bisa laki-laki tersebut menawarkan dirinya untuk keluar?!.
"Kita mau ke mana?"
Tanya Embun sambil menelisik bola mata Bara, jarak mereka tidak ada, dia masih duduk dipaha laki-laki tersebut, menelisik bola mata Bara yang terlihat tidak baik-baik saja, ada beban yang disimpan diam-diam didalam hati Bara tanpa pernah diketahui oleh siapapun dan Embun tahu itu.
Dikala dia bertanya, alih-alih menjawab tiba-tiba saja Bara melesatkan satu ciuman manis di bibirnya, membuat Embun terkejut dengan gerakan refleks tiba-tiba laki-laki tersebut.
tangan kiri laki-laki tersebut menahan tengkuknya dan tangan kanan nya masih menggenggam erat pinggang nya.
Embun jelas langsung mengencangkan pegangannya pada lengan Bara sambil langsung memejamkan bola matanya.
Ciuman nya terlalu lembut dan hangat, begitu hati-hati dan membuat Embun terbuai dalam gelombang pusara hasrat yang tidak dia pahami.
__ADS_1
Laki-laki tersebut selalu membuat nya bergetar dan dia takut perasaan itu akan menjerumuskan nya lebih dalam, dia takut hubungan ini tidak akan baik-baik saja kedepan nya, dia takut tenggelam dalam hubungan yang dia anggap tidak mungkin bersama Bara.