
Villa kediaman Embun
Keesokan paginya.
"Tuan tidak bekerja?"
Embun mengerutkan keningnya saat dia melihat Bara sama sekali tidak menggunakan pakaian kantornya, laki-laki tersebut sudah rapi namun dengan pakaian biasa turun dari tangga mendekati dirinya yang baru akan bergerak membuat sarapan pagi.
Embun terlihat gelisah beberapa malam ini laki-laki tersebut lebih memilih untuk tidur di tempatnya, sama sekali tidak mau kembali ke kediamannya atau bahkan tidur bersama istrinya.
dia hanya takut lamban laut istri Bara, Ayla akan tahu dan mendatangi mereka, tidak ingin dicap sebagai perempuan yang merebut suami orang, tapi Bara selalu berkata Ayla akan menjadi urusannya, Embun tidak perlu untuk memusingkan hal tersebut.
"kita akan pergi ke dokter pagi ini"
laki-laki tersebut bicara dengan cepat, mengabaikan pertanyaan Embun soal apakah dirinya pergi ke perusahaan atau tidak, dia memilih mendekati perempuan tersebut kemudian mencium hangat pipi Embun tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, membuat perempuan itu seketika terkejut dan membulatkan bola matanya.
"Tu..an?"
Embun jelas bergetar.
__ADS_1
"pergilah berganti pakaian dan Mari cari makanan di luar"
Bara langsung mematikan api kompor dan meminta perempuan itu meninggalkan semua pekerjaannya.
"Tapi..."
Embun terlihat ragu, dia menatap ke arah Bara untuk beberapa waktu.
"bukankah aku pernah berkata kemarin? tidak usah lagi memasak dan cukup beli makanan yang kamu sukai di luaran sana, ada pelayan yang bisa membantumu untuk melakukannya, aku tidak suka melihat jari-jari indahmu terluka karena menggunakan pisau dan juga menjadi kasar karena pekerjaan"
ucap laki-laki itu dengan cepat sembari dia memerintahkan Embun agar segera naik ke lantai atas dan berganti pakaian.
mendengarkan ucapan laki-laki tersebut tadi seketika membuat Embun sedikit kehilangan kata-katanya, dia ingat barisan pesan yang diberkan barang untuk dirinya, dia pikir laki-laki tersebut tidak sungguh-sungguh mengatakan siapa sangka bara benar-benar atas ucapannya.
cukup lama di mana laki-laki tersebut memilih duduk di ruang tamu sembari memainkan handphonenya, hingga pada akhirnya pembenturan berlantai atas menuruni satu persatu anak tangga membuat bola mata laki-laki itu menatapnya untuk beberapa waktu.
bara selalu seperti itu tidak banyak bicara hanya menatap siapa lawannya atau bahkan siapa orang yang ada di hadapannya dengan seksama, begitu bola matanya menantang Embun dia tidak menampilkan ekspresinya sama sekali perempuan itu untuk waktu yang cukup lama membiarkan embun bergerak berjalan mendekati dirinya.
Hari ini dia sengaja untuk tidak pergi ke perusahaan demi untung membawa perempuan itu untuk memeriksa kehamilannya, entahlah apa sebenarnya yang diharapkan tapi dia merasa sedikit khawatir karena embun tidak menampilkan sedikitpun layaknya perempuan hamil yang sering dia dengar keluhan nya.
__ADS_1
Biasanya terjadi muntah-muntah, sedikit gelisah, ada keinginan yang mungkin harus di penuhi atau sedikit membuat nya gelagapan atas keinginan Embun yang tiba-tiba, dia ingin merasakan menjadi seorang ayah yang harus bergerak keluar ke tengah malam hanya demi mendapatkan sesuatu yang mungkin nyaris tidak bakal dia dapatkan.
Itu bagi Bara satu keinginan manusiawi dari seorang Bara Andaram atas kehamilan dari anak nya yang ada di perut Embun saat ini.
Anehkah?!.
Dia enggan memikirkan nya.
Begitu Embun sudah berdiri dihadapan nya, laki-laki tersebut menaikkan lengannya, menunggu Embun untuk memasukkan tangannya ke lengan kirinya.
Perempuan tersebut mengerut kan keningnya, menatap Bara dengan sedikit bingung.
Alih-alih ingin menjawab kebingungan Embun, laki-laki tersebut menggerakkan lengannya, memaksakan keinginan nya agar Embun memasukkan tangannya dengan cepat ke lengannya.
"Tuan?"
Embun bicara pelan, ingin menolak dengan halus.
"Aku tidak suka ditolak"
__ADS_1
Dan Bara memang seperti itu, dia menaikkan ujung alisnya, menunggu Embun melaksanakan perintah nya tanpa boleh di bantah.
Pada akhirnya perempuan tersebut secara perlahan memasukkan tangannya ke dalam lengan laki-laki tersebut, iya lebih suka memilih diam tanpa banyak bicara lagi, membiarkan laki-laki tersebut untuk melakukan apapun keinginan nya.