
Mendengar ucapan kakek nya, Bara sama sekali tidak menampilkan ekspresi nya, laki-laki tersebut hanya menaikkan ujung bibirnya, melirik kearah Ayla sejenak untuk beberapa waktu kemudian membuang pandangannya.
Ayla jelas saja gelagapan, dia pikir bagaimana bisa kakek memutuskan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaan nya.
Bagaimana dengan karir nya yang tengah naik ke puncak kejayaan?!.
Suara gemuruh tepuk tangan memecah keadaan, kamera flash terus menangkap gambar Ayla dan Bara, jangan ditanya bagaimana perasaan Ayla, Perempuan tersebut mencoba untuk menggenggam erat pakaian Bara, kemudian tanpa sengaja dia mencubit keras pinggang Bara, membuat laki-laki tersebut seketika menoleh kearah dirinya.
"Kau tidak inginkah mengatakan nya pada Kakek? aku bagaimana bisa hidup tanpa karir ku?"
Ayla mengeram, menatap tajam kearah Bara. Dia benar-benar marah, berusaha untuk tidak mengeluarkan amarah nya saat ini.
Bara sama sekali tidak menjawab, memilih membuang pandangannya kembali dengan cepat.
Bara!.
Ayla mengeratkan rahangnya.
Kakek jelas bahagia mendengar kehamilan Ayla, merencanakan nya dengan matang, membuat Ayla Cukup menjadi nyonya muda Bara Andaram, baginya perempuan hamil tetaplah perempuan hamil, mana mungkin bergerak dan berkarir diluaran sana.
Tentu saja akan mempermalukan keluarga besar Andaram jika tahu Ayla masih sibuk pada dunia nya.
Acara hari ini benar-benar bagaikan neraka baru untuk Ayla, dia menahan seluruh perasaan nya selama acara, bahkan beberapa kali mencoba untuk memejamkan bola matanya.
__ADS_1
"Apa kau gila? katakan pada ku, bagaimana aku bisa kehilangan karir ku karena kehamilan sialan ini?"
Ayla marah, setelah acara selesai mereka melesat pergi dengan cepat dari sana, tidak lagi memperdulikan orang-orang disekitar.
Kakek hanya bisa memberikan pesan.
"Jaga istri mu baik-baik, besok minta dokter kepercayaan mereka untuk memeriksa keadaan Ayla"
Pesan manohok yang membuat Ayla serasa menggila.
Bara fokus pada stir mobilnya, mengabaikan ocehan Ayla yang terdengar seperti suara mesin penggilingan padi yang memekakkan telinga.
Bara tidak peduli soal kehamilan, ucapan kakek dan kemarahan Ayla, yang dia pedulikan hanyalah dia harus kembali ke Villa dan menemui Embun secepat nya.
"Bara...."
Ayla bicara membentak, kesal tidak mendapat respon sama sekali dari laki-laki disampingnya. Bara terus fokus pada stir mobilnya, terlihat gusar dengan sejuta rasa.
"Apa kau mulai menulikan Indra pendengaran mu?"
Perempuan tersebut benar-benar marah.
"Katakan pada Kakek aku hamil tapi aku tidak ingin kakek terlalu jauh ikut campur dengan urusan rumah tangga kita, berhentilah seolah-olah kakek adalah pemegang kendali seluruh kekuasaan orang-orang disekitar nya"
__ADS_1
Dia mulai histeris, berteriak kesal karena diabaikan Bara, hingga akhirnya Bara tiba-tiba menghentikan mobilnya, hal tersebut membuat Ayla seketika terkejut.
Laki-laki tersebut menoleh kearah dirinya.
"Bukankah sejak awal seharusnya kamu tahu konsekuensi nya?"
Bara bicara pelan, menatap balik tajam kearah Ayla.
"Pada akhirnya siapapun yang hamil penerus Andaram, mau itu kau atau gadis lainnya, kau tetap harus melepas kan karir modeling mu sesuai aturan Andaram"
Ucap nya kemudian.
"Aku sudah memberikan kamu pilihan pada masa itu, naik ke kasur dan mari membuat anak bersama ku, kau bilang jangan pernah bermimpi dan kamu meminta ku mencari seorang gadis untuk bisa hamil anak Andaram, aku melakukan nya, tapi meskipun gadis lain yang mengandung benih ku, pada akhirnya kau tetap akan kehilangan karir mu"
Lanjut laki-laki tersebut lagi.
"Kau paling tahu bagaimana kakek, siapa yang tidak mematuhi peraturan nya? terus berjalan sesuai rencana atau mari akhiri semuanya sampai disini, kita bisa memilih bercerai sesuai kesepakatan yang kita pernah buat sebelum pernikahan"
Dan saat Bara mengatakan hal tersebut, seketika membuat Ayla membulatkan bola matanya.
"Apa?"
Perempuan tersebut jelas terkejut.
__ADS_1