
Bara sama sekali enggan untuk menjawab ucapan kakek nya, dia meletakkan gelas minuman nya.
Kakek tua Andaram menghela nafas nya kasar melihat Bara yang selalu kaku dan dingin menanggapi ucapan nya, dia tahu laki-laki tersebut masih marah pada kisah masa lalu yang diciptakan nya.
Dia melakukan nya karena dia adalah Andaram, laki-laki tua sombong yang tidak pernah menerima siapapun dengan mudah didalam kehidupan nya bahkan anak-anak nya sekalipun, dia sulit mempercayai orang lain siapapun mereka.
Kali ini laki-laki tua tersebut menatap kearah Ayla untuk beberapa waktu, yang ditatap merasa tapi pura-pura tidak tahu dan mengabaikan tatapan nya, Ayla mencoba meraih piring makan yang telah tersaji dihadapan mereka, mengambil nya dan berusaha memberikan nya pada Bara dalam kepura-puraan nya.
"Aku dengar kamu hamil?"
Seperti ketakutan Ayla, laki-laki tua tersebut membuka menu pertama makan malam pada satu tanya yang enggan untuk dia dengar tapi mau tidak mau di harus mengamini pertanyaan laki-laki tua Andaram yang jelas memiliki adikuasa terkuat nya, siapa yang berani membantah ucapan laki-laki tersebut? kecuali Bara, yang lain mana memiliki kemampuan untuk melakukan nya.
"Iya, kek"
Dia menjawab cepat, berusaha bicara dengan penuh keyakinan, menatap kearah wajah kakek tua Andaram.
"itu bagus, aku butuh penerus laki-laki, itu akan memperkuat Andaram group, jika mereka lahir Perempuan maka aku tidak akan memberikan penuh Andaram pada kalian, laki-laki akan menjadi benteng paling kokoh untuk perkembangan Andaram"
Mulut pedas laki-laki tersebut benar-benar membuat diam semua orang, sungguh tidak beruntung para perempuan didalam keluarga mereka yang kini mengelilingi meja makan.
"Dan jika dia Perempuan, aku akan memastikan Bara untuk menikah kembali dengan gadis yang lainnya dan membuang kamu dari Andaram, kembali pada rumah lama dan menarik seluruh saham Andaram dari keluarga Sutikno"
Lanjut laki-laki tersebut lagi.
Mendengar ucapan kakek Andaram, Seketika jemari Ayla tenggelam kedalam kulit pahanya, dia menahan kemarahannya atas ucapan laki-laki tua tersebut.
__ADS_1
Sial.
Perempuan tersebut membatin.
Jika bukan karena keluarga nya dia tidak akan bergerak hingga sejauh ini, bertahan dalam keluarga Andaram jelas bukan hal yang mudah untuk nya, dia melakukan nya demi untuk melindungi perusahaan keluarga nya.
Bara tampak tidak menjawab, mengabaikan setiap suara yang di ucapkan oleh kakek nya, anggota keluarga lainnya melirik kearah Ayla, cukup terkejut pada berita kehamilan namun seolah-olah memang berharap jika kehamilan terjadi, perempuan tersebut disingkirkan dari keluarga Andaram sesuai harapan.
Gosip mandul seketika menghilang berganti berita mengejutkan dan menyebalkan namun masih dalam pengharapan jika bayi yang di kandung bukan laki-laki.
Mama Reni melirik kearah Ayla, menatap menantunya dengan Sunggingan senyum jutaan makna.
"Apa kamu mendengar ku, Bara?"
Kakek kini bertanya pada Bara, laki-laki tersebut terlihat mulai melahap makanan di hadapan nya tanpa peduli jika waktu makan belum di buka.
"Bukankah kakek terbiasa memutuskan semuanya? silahkan, tapi aku punya cara kerjaku sendiri untuk anak-anak ku, tidak peduli dia laki-laki atau perempuan, dia tetap anak ku, dan aku tidak berpikir untuk menelantarkan nya meskipun anak itu lahir dari seorang pelacur atau pelayan sekalipun"
Kata-kata Bara penuh tantangan, seolah-olah berkata anak-anak yang lahir akan menjadi hak nya seutuhnya, menyinggung laki-laki tua tersebut yang selalu menatap nya angkuh.
Mendengar ucapan Bara, Seketika Ayla mengulumkan senyuman nya, merasa bahagia seolah-olah dia di bela pada muka panggung yang mempertontonkan dirinya.
"Dan bahkan jika mereka lahir dari Perempuan lain pun itu tetap urusan ku, kakek tidak harus ikut campur untuk semua hal dalam hidup ku"
Kata-kata terakhir Bara benar-benar mengejutkan Ayla, Perempuan tersebut menoleh dengan jutaan keterkejutan nya, lagi dia menancapkan kuku-kuku cantiknya pada permukaan kulit pahanya.
__ADS_1
"Kau?!."
Perempuan tersebut mengeram.
Mendengar ucapan Bara kakek terlihat mendengus, dia balik menatap tajam bola mata Bara.
"Kau punya nyali melakukan nya?"
Dia bertanya sambil menaikkan ujung alisnya.
"Kakek bisa menghapusku dari daftar keluarga"
Laki-laki tersebut bicara menantang.
Mama Reni jelas membulatkan bola matanya, dia ingin membuka suara dan marah tapi...
Pranggggg.
Seketika piring makan melayang di hadapan semua orang, menghantam dinding di ujung sana, berhamburan memecah keheningan, kakek mengeram marah dengan emosinya yang meluap-luap, Bara sama sekali tidak takut, dia berdiri dari posisi duduknya, bergerak angkuh meninggalkan semua orang dalam ketegangan.
"Bara.."
Teriakan laki-laki tua Andaram memecah keheningan malam, Bara sama sekali tidak peduli, mengabaikan suasana mencekam dimana semua orang tidak berdaya melawan laki-laki tua dengan kekuasaan penuh dalam keluarga Andara.
"Kau!"
__ADS_1
Laki-laki tua tersebut semakin marah dan mengeram.