Embun Untuk Bara

Embun Untuk Bara
Kemarahan kakek tua Andaram


__ADS_3

Masih di kediaman kakek tua Andaram


Hampir tengah malam.


Brakkkkkkk.


Satu hantaman keras terdengar memecah seluruh ruangan yang mendominasi berwarna putih tersebut, satu tubuh terpelanting dengan cara yang kasar setelah satu sosok tubuh besar tinggi menghantam tubuh Tommy ke arah dinding.


Tommy seketika meringis, cukup terkejut atas apa yang diterimanya malam ini.


kemarahan dibalik bola mata kakek tua Andara jelas terlihat begitu berkobar-kobar saat ini, membuat Tommy seketika menelan salivanya sembari meringis dan berusaha untuk menghapus darah yang mengalir di balik bibirnya.


dia pikir pasti ada satu kesalahan besar yang terjadi hingga membuat kakek tua Andaram begitu marah kepada diri nya saat ini, meskipun sebenarnya dia belum mengetahui seluruh kesalahannya tapi dia pikir ini pasti ada hubungannya di mana dia pada hari itu memaksa untuk membuka mobil dari pada milik Indra.


dia mencurigai laki-laki tersebut membawa seorang gadis atas perintah salah satu orang di keluarga Andaram.


kini kakek tua Andaram menghentakkan tongkat yang ada di tangannya secara perlahan ke lantai, tatapan tajam dari bola mata laki-laki tua tersebut seolah-olah menghunus jantungnya diiringi dengan hentakan yang beraturan dari tongkat kakek tua Andaram ke arah lantai.


"kau tahu apa kesalahanmu, Tommy?"


Laki-laki tua itu bertanya kepada Tommy sembari menaikan ujung alisnya, dia menunggu jawaban dari laki-laki tersebut dan ingin tahu apa alasannya telah berani bertindak dan bermain di belakangnya tanpa perintah dari dirinya.


dia memang memerintahkan Tommy untuk diam-diam menyelidiki Bara, tapi dia tidak pernah membiarkan laki-laki itu melakukan penggerebekan atau penggeledahan kepada orang-orang di sekitar Bara tanpa izin darinya. lalu dia pikir bagaimana bisa Tommy bergerak melampaui batasannya tanpa memberitahukan kepadanya atau menunggu perintah darinya.


hal tersebut jelas saja membuatnya sangat tersinggung, dan dia pikir Tommy telah berani bergerak tanpa aba-aba atau perintah nya, dari hal yang kecil itu akan bisa berubah menjadi hal yang besar, karena itu dia harus waspada dengan orang-orang di sekitarnya.


sejauh ini yang masih bisa dia percayai Dari dulu hingga sekarang hanya Martin, laki-laki tersebut selalu bergerak sesuai dengan keinginannya.


"Maafkan aku, tuan...aku..."


Tommy terlihat bergetar menjawab pertanyaan dari kakek tua Andaram, bibirnya terlihat sedikit memucat dan bergetar ditambah sisa darah yang berhamburan tadi dan akibat pukulan dari laki-laki bertubuh kekar tinggi yang ada di sisi kanan nya membuat wajah laki-laki itu menjadi sedikit membengkak.


"aku memintamu untuk mengawasi Bara bukan untuk bergerak melampaui batasan mu tanpa izin atau perintah dariku"


laki-laki itu terus berjalan mendekati Tomi sembari menyeret tongkatnya dan menghantarkannya ke lantai berkali-kali, ekspresi kakek tuan darah dan tongkat miliknya tersebut yang terus saling menyatu di antara lantai membuat Tommy sedikit memundurkan langkahnya, bisa dia lihat kemarahan membelenggu bola mata laki-laki tua yang kini telah berdiri di hadapannya itu.

__ADS_1


dia menebak kemarahan kakek tua Andaram jelas telah sampai pada batas kesabarannya.


"hari itu aku hanya merasa curiga melihat Indra mengendarai mobilnya dan seperti membawa seseorang di dalam sana"


Tommy bicara berusaha untuk terus terang dalam keadaan, dia memberikan alasan kenapa dia hari itu bergerak dengan cepat tanpa meminta perintah dan hanya berkata seolah-olah kakek tua memberikannya perintah namun nyatanya kakek tua tidak pernah membiarkan dirinya untuk menggeledah mobil Indra tanpa perintah dari laki-laki tua tersebut.


"lalu bagaimana bisa kau melakukannya dan berkata itu adalah perintah dariku kepada Indra dan juga Martin?"


suara laki-laki tua itu meninggi diiringi dengan kilatan bola matanya yang terlihat menyala-nyala di dalam sana, seolah-olah bola mata tersebut siap menenggelamkan bayangan Tommy ke dalam dirinya.


"aku hanya tidak ingin kehilangan kesempatan karena itu aku...."


Plakkkkkkk.


belum sempat Tommy menyelesaikan ucapannya satu tamparan telah mendarat di pipi kirinya, percayalah rasa nya sangat luar biasa sekali dan membuat Tommy seketika terkejut dengan apa yang dilakukan oleh kakek tua Andaram.


"seharusnya kau tidak bergerak tanpa perintah dariku, karena jika kau bergerak seorang diri tanpa perintah dariku aku merasa kau sedang belajar untuk menghianati ku"


kini intonasi nada yang diucapkan oleh kakek tua andaram terdengar begitu ditekan dan juga penuh dengan kebencian, seolah-oleh laki-laki itu kini mulai menanamkan kecurigaan di dalam dirinya terhadap Tommy.


Percayalah ucapan kakek tua Andaram kali ini bahkan terdengar sangat mengerikan dan juga penuh dengan kecurigaan terhadap Tommy.


dan hal tersebut jelas saja membuat Tomy sedikit gelanggapan dia menjadi kalang kabut atas apa yang diucapkan oleh kakek tua Andaram.


"Tuan mencurigai ku?"


laki-laki itu mencoba untuk berkilah dan dia cukup takut jika kakek tua Andaram tahu soal kenyataan jika dia sebenarnya sedikit banyak memulai bermain di belakang laki-laki tua itu demi untuk mendapatkan keuntungan besar.


"aku mana mungkin bermain di belakang tuan atau menghianati tuan, aku ini hanya berusaha untuk mencegah hal yang buruk terjadi pada Bara"


dan laki-laki itu terus berkilah, jelas saja tidak ingin ketahuan atas perbuatannya, dia mencoba menggenggam erat telapak tangannya dan dia yakin pasti ulah Martin. Jika tidak bagaimana bisa laki-laki tua itu mencurigai dirinya dan langsung berpikir jika dia bermain di belakangnya.


mendengar apa yang diucapkan oleh Tommy membuat kakek tua Andaram masuk menaikkan ujung bibirnya, dia tidak melanjutkan kata-katanya hanya saja laki-laki tua itu menaikkan tangannya secara perlahan ke arah atas, seolah-olah dia memerintahkan seseorang untuk mengambil sesuatu di atas meja.


dan hal tersebut jelas saja membuat Tommy mengernyit kan dahi nya saat dia melihat salah satu bawahan kakek tua andaram bergerak menunjukkan kepalanya ke arah laki-laki tua tersebut kemudian berbalik menuju ke arah meja yang selalu menjadi meja kerja kakek tua Andaram di ujung sana.

__ADS_1


"aku cukup salut dengan keberanianmu selama ini Tommy"


tiba-tiba kakek tua Andaram kembali bicara dan laki-laki itu kali ini terlihat begitu tenang menghadapi dirinya, dia membiarkan pandangan mata Tommy yang tadi berpaling ke atas meja kini berpindah ke arah dirinya.


"seharusnya aku tidak memberikanmu kebebasan yang banyak, dan seharusnya sejak awal aku mencurigai gerak-gerik mu"


lanjut laki-laki tua itu lagi kemudian.


dan Tommy seketika menegang saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh kakek tua Andaram.


"tuan...anda... bicara apa?"


dan percayalah seketika laki-laki tersebut menjadi gelisah dia bertanya dengan ada bergetar di mana kini bola matanya kembali berpindah ke arah orang suruhan kakek tua Andaram yang membawa sesuatu dari atas meja di ujung sana.


"aku masih memberikan waktu untuk bicara tentang sebuah kejujuran, sebelum aku memberikan sesuatu yang akan jauh lebih mengejutkanmu soal tentang kenyataan"


kembali laki-laki tua itu bicara sembari menatap tajam bola mata Tommy, di mana kini tangan kanan kakek tua Andaram di naikkan ke atas dan seolah-olah dia siap mengambil apa yang akan diberikan oleh anak buahnya di bagian sisi sebelah kanan di mana dia berdiri saat ini.


dan percayalah Tommy seketika tercekat sembari dia menatap sebuah map mendominasi berwarna coklat yang telah diberikan oleh anak buah kakek tua andaram kepada kakek saat ini.


"atau kau ingin melihat secara langsung apa itu laku dapatkan belakangan ini tentang dirimu?"


kembali lagi tua itu bertanya tapi intonasi nadanya sekali ini terdengar begitu dingin dan mengerikan.


"kau bebas memilih, memberitahukan padaku kau telah bermain dengan siapa di belakang ku atau kau ingin melihat isi map ini kemudian kamu akan merasakan satu hal yang paling mengerikan di dalam hidupmu setelah ini"


dan percayalah ucapan laki-laki tua Andaram tersebut seketika membuat Tommy bergidik ngeri, lagi-lagi itu tampak menelan salivanya sembari bola matanya bergantian menatap ke arah kakek tua Andaram dan juga map mendominasi berwarna coklat yang kini berada di tangan kakek tua Andaram.


"aku memberikanmu sedikit waktu untuk berkata jujur, atau jika tidak aku akan menghabisimu malam ini juga"


ucap kakek tua Andaram dengan tatapan bola mata yang begitu mengerikan. seketika membuat Tommy hanya mampu menelan salivanya dan menebak-nebak apa sebenarnya isi map coklat yang kini ada di hadapannya tersebut.


satu ketakutan luar biasa menghantam dirinya dan dia pikir apa mungkin itu adalah......


"Tidak mungkin"

__ADS_1


Tommy bicara di dalam hatinya sembari bola matanya terus menatap ke arah map mendominasi berwarna coklat tersebut.


__ADS_2