
Bara terlihat menatap ke arah depannya sejak tadi tanpa mengeluarkan suaranya, dia memilih diam di atas mobil tersebut, belum ingin beranjak dari sana dan terus memperhatikan sosok yang kini berjalan mendekati mereka.
Itu adalah Ayla, perempuan tersebut entah sejak kapan datang kesana, tanpa menghubungi dirinya dulu langsung berkunjung ke villa, Ayla terlihat tidak menampilkan ekspresi nya, berjalan mendekati mobil Bara, seolah-olah tahu jika Bara sang pengendara mobil yang ada dihadapan nya.
Sejenak laki-laki tersebut menoleh ke arah Embun, dia menatap Perempuan tersebut untuk beberapa waktu.
"Masuklah ke dalam dan naik ke kamar kamu, jangan turun atau keluar sama sekali tanpa perintah dariku"
Itu jelas adalah perintah mutlak, dia enggan di bantah dan tidak mau tidak di dengarkan.
laki-laki itu bicara dengan cepat kemudian dia langsung keluar dari dalam mobil itu lantas berjalan memutar membuka pintu mobil di mana Embun berada, membiarkan perempuan tersebut turun dari sana dan segera pergi menjauh dari Bara dan Ayla.
Embun jelas serba salah, tidak tahu harus bagaimana sebab Ayla kini sudah besar tepat di hadapan mereka.
"Masuk kedalam dan naiklah ke kamar mu"
Lagi Bara memerintah.
Embun pada akhirnya menurut, dia menundukkan kepalanya kearah Ayla yang kini sudah berdiri di hadapan dirinya.
"Jadi semalaman tidak pulang karena kemari?"
Perempuan tersebut bertanya, menaikkan ujung alisnya menatap penampilan Embun dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
__ADS_1
Begitu sederhana, pakaian potongan biasa dengan sandal yang harganya tidak lebih dari 100 ribuan, rambut di ikat sederhana dan tanpa tas ditangan nya.
Jelas berbanding terbalik dengan dirinya yang menggunakan dress mewah dengan harga selangit, tas limited edition,heels tinggi dan dandanan yang jelas cocok untuk perempuan sosialita kelas atas.
Ayla mencibir.
Dia tahu Bara kesana hanya karena membutuhkan anak di perut Embun, seharusnya dia tidak terlalu berlebihan menanggapi Bara saat ini, mungkin dialah yang terlalu berlebihan menanggapi bara dan merasa sedikit cemburu karena keberadaan Embun, dia tahu mana mungkin laki-laki itu mengubah seleranya terhadap perempuan, dia tahu betul bagaimana selera Bara, jauh lebih tinggi dari pada selera Endar papa nya.
Siapa yang tidak tahu barisan orang-orang yang mendekati Bara? beberapa perempuan yang mendekati Bara juga mantan kekasih Bara jelas tidak setara dengan Embun, jadi selera laki-laki tersebut yang tinggi tidak mungkin terganti dengan selera kampungan dan sedikit rendahan seperti gadis tersebut.
Dia mendengus, mengejek dan membiarkan Embun melewati dirinya, masih menatap kearah Bara sembari menaikkan ujung alisnya, menunggu Jawaban laki-laki tersebut sejak tadi.
Bara sama sekali enggan menjawab, lebih memilih meraih rokok dikantong celananya dan sebuah pamatik besi mendominasi berwarna hitam, dengan gaya dingin dan terlalu kharismatik laki-laki tersebut mulai meletakkan sebatang rokok di bibirnya, menyulut api secara perlahan disana.
Laki-laki tersebut bergerak masuk ke villa tersebut, berjalan mendahului Ayla yang sejak tadi menatap dirinya.
"Kita perlu bicara serius"
Istrinya terlihat berusaha menggenggam erat lengan Bara, laki-laki tersebut memiliki menghentikan langkahnya, menatap wajah Ayla yang bicara menampilkan keseriusan untuk dirinya.
"Papi dan kakek mengundang kita untuk makan malam bersama, mereka juga ingin kita menghadiri acara pembukaan Hotel baru di bali"
Ayla benar-benar bicara serius kali ini, dia menatap Bara sambil menunggu jawaban dari laki-laki tersebut.
__ADS_1
Kata kakek membuat Bara diam, dia menatap balik Ayla untuk beberapa waktu, seolah-olah berusaha untuk menimbang soal sesuatu dan dia juga butuh memutuskan sesuatu.
"Ini akan menjadi waktu tersulit lagi untuk kita, aku butuh kita membawa gadis udik itu di antara kita, anak-anak akan jadi batu hambatan lagi dalam pernikahan kita, kakek jelas lebih teliti dari Mama,aku tidak bisa berbohong terlalu banyak di hadapan kakek selama berada di Bali nanti, pastikan dokter pilihan telah menyusun naskah untuk bicara soal anak-anak di antara kita"
Lanjut Ayla lagi kemudian pada Bara.
Laki-laki tersebut membiarkan rokok ditangan nya terus membakar ujung berwarna putih tersebut, api terus menyulut meskipun dia tidak kunjung menghisapnya, Bara menatap Ayla untuk beberapa waktu sembari mencoba untuk memikirkan soal sesuatu.
Dia menggenggam erat telapak tangan nya, benci ketika kata kakek di luncurkan oleh Ayla, sejauh ini dia bertahan hingga menunggu kematian laki-laki tua tersebut, setelah itu dia bisa menyingkirkan siapapun yang ada dihadapan nya tanpa terkecuali.
Dia bertahan demi nama besar Andaram, menunggu waktu bergerak mengambil seluruh hak-hak sah nya tanpa harus bergerak di bawah tekanan.
Bara memejamkan sejenak bola mata nya, kembali terngiang suara seseorang, kembali teringat wajah sendu seseorang di balik pelupuk matanya.
"Kau adalah laki-laki yang kuat, bertahan lah hmmm"
"Bara?"
Suara Ayla mengejutkan dirinya.
"Bersiaplah, aku akan kembali ke rumah untuk menjemput mu malam nanti"
Bara akhirnya bicara, meminta Ayla pulang dan bersiap untuk mengunjungi kakek tua Andaram.
__ADS_1