
"Kau tidak pulang lagi malam ini?"
Ayla menaikkan ujung alisnya saat dia melihat Bara kembali di waktu yang tidak biasa, matahari sudah terlalu tinggi, entah kapan laki-laki tersebut benar-benar kembali, tapi dia mendengar suara mobil nya pagi ini, suara tapak sepatu yang menaiki tangga yang berjalan begitu tenang dan kini laki-laki tersebut telah tapi dengan jas kerja nya, Ayla pada akhirnya bertemu Bara di meja makan, dia hanya menatap Bara sepintas kemudian mengabaikan laki-laki tersebut.
"Kita harus pergi ke Bali sore ini"
Ucap nya lagi mengabaikan pertanyaan nya yang tidak dijawab oleh Bara, perempuan tersebut mulai meraih roti tawar, mengoleskan selai blueberry di atas nya, kemudian dia memberikan nya pada Bara dengan cepat dimana dia menunggu jawaban dari Bara atas pertanyaan nya tadi.
"Aku sudah makan"
Laki-laki tersebut menolak, seperti biasa nada nya terdengar datar, tanpa emosi didalam nya, Membuat lawan bicara terkadang tidak paham apa sebenarnya yang diinginkan atau dimaksud oleh Bara.
Terlalu dingin tak tersentuh, mampu membuat gelisah lawan bicara nya, Bara tidak menatap kearah Ayla yang seketika menatap kearah nya, laki-laki tersebut memilih bergerak mendekati lemari pendingin, mencari minuman didalam sana.
Mendengar ucapan Bara seketika membuat Ayla memejamkan bola matanya, kemudian perempuan tersebut mendengus tidak percaya.
__ADS_1
"Kau membuat ku curiga belakangan ini, apa dia memperlakukan kamu dengan baik seperti seorang pembantu pada majikannya atau seperti istri pada suaminya? jangan-jangan gadis udik tersebut sedang memasang strategi untuk memikat mu?"
Ayla bertanya, mulai menampilkan sisi emosionalnya yang terlihat dengan jelas, dia sama sekali tidak tahu dia orang tersebut memiliki perjanjian pernikahan dibelakang nya, mengejek Embun yang mungkin menggoda Bara untuk bisa mendapatkan hati nya.
Dia jelas saja mengejek gadis udik tersebut, dia yang berada di kelas atas saja tidak mampu menaklukkan Bara dalam belenggu pernikahan mereka, mana mungkin gadis itu bisa membuat Bara bertekuk lutut pada nya.
Hanya Cintya yang mampu membuat Bara kehilangan akal warasnya, hanya perempuan tersebut yang mampu menaklukkan Bara dalam belenggu Cinta nya selama bertahun-tahun hingga hari ini.
Perempuan tersebut satu-satunya tempat Bara bergantung dan mengadukan segala kesulitan nya, meksipun Bara tidak bicara sekalipun perempuan itu selalu mampu membaca kemauan dan perasaan Bara yang terluka karena berbagai macam tekanan disekitar nya.
"Pertanyaan dalam tingkat kecemburuan tinggi? kau tidak memiliki emosional soal kecemburuan pada siapapun selama pernikahan kita, aku tidak suka mendengar nya"
Bara bicara datar, memilih untuk menyesap minuman nya secara perlahan sembari menatap tajam bola mata Ayla.
Yang ditatap terlihat mencoba menarik kasar nafas nya.
__ADS_1
"Yeah kau dan aku tidak dituntut untuk saling mencemburu, kita hanya butuh pernikahan, meraih keuntungan dan menuntaskan sek..s ketika kita memang membutuhkan nya"
lagi Ayla bicara sedikit mengejek.
Bara sama sekali enggan menjawab, dia menghabiskan minuman nya, kemudian memilih berdiri lantas berniat untuk segera pergi dari hadapan Ayla.
"kita harus pergi sore ini ke Bali, aku cukup benci mengatakannya karena ini kedua kalinya aku menyampaikannya kepadamu pagi ini"
ucap perempuan tersebut kemudian.
"Mari mengambil penerbangan terpisah"
Tiba-tiba laki-laki tersebut menjawab ucapan Ayla masih dengan nada datarnya.
"Ya?"
__ADS_1
Ayla mengerutkan keningnya.