
Disisi lain.
Beberapa waktu sebelumnya.
Begitu Ayla dan Bara melesat pergi setelah Acara pembukaan Hotel, bola mata Reni menatap sejenak sisa bayangan mobil yang telah menghilang di balik bangunan, dia kemudian dengan perlahan membuang pandangannya, melirik kearah Endar untuk beberapa waktu.
"Mau pulang sekarang?"
Endar bertanya pada istrinya.
"Aku pikir harus pergi menemui seorang teman lama, kamu bisa pulang lebih dulu ke villa"
Wanita tersebut berucap cepat, menaikkan ujung bibirnya untuk beberapa waktu.
"pulang malam?"
Laki-laki tersebut bertanya cepat.
Mendengar ucapan suaminya, mama Reni terlihat menatap tuan Endar untuk beberapa waktu.
"aku belum tahu"
Jawab nya kemudian, dia membuang pandangannya dangan cepat.
"Temui Martin, dia bilang ingin bicara pada mu soal Bara"
Tiba-tiba saja tuan Endar bicara cepat pada istrinya, membuat wanita itu langsung berbalik dengan cepat.
Martin, laki-laki tersebut dijuluk papi oleh Bara dan semua orang di keluarga Andaram, tangan kanan kakek Andaram, orang kepercayaan laki-laki tua tersebut yang mengawasi seluruh gerak-gerik orang-orang disekitar, melaporkan apapun yang dilihat nya pada Kakek Andaram.
__ADS_1
Reni tampak diam, dia pikir apa yang dilihat laki-laki tersebut kali ini soal Bara?!.
Dia mengangguk kan kepalanya, meninggalkan tuan Endar dan bergerak mencari Martin yang dia tahu dimana seharusnya laki-laki tersebut berada.
Tuan Endar bergerak menuju kearah area parkiran, bergerak ikut menjauh dari sana dengan cepat, laki-laki itu mencoba untuk menghubungi seseorang untuk beberapa waktu.
Sedangkan nyonya Reni bergerak menuju ke arah belakang hotel, mencari sosok yang katanya mencari dirinya. Begitu mendapatkan sosok tersebut yang berdiri di pinggir kolam belakang, wanita tersebut memilih bergerak elegan mendekati laki-laki itu.
Dia tahu menghadapi Martin harus dengan trik dan intrik cantik, tidak mudah melumpuhkan laki-laki tersebut, karena itu dia selalu memperingati Bara agar bergerak hati-hati dari laki-laki tersebut.
"Kau mencari ku?"
Wanita tersebut bertanya, menaikkan ujung alisnya sambil menatap tajam kearah Martin, membiarkan kaki nya melangkah mendekati laki-laki tersebut dengan perlahan.
Begitu tiba dihadapan Martin, nyonya Reni memilih menatap kearah kolam renang yang ada di sisi kanan nya.
"Aku pikir kamu pasti sudah tahu beritanya?"
Mendengar ucapan Martin, nyonya Reni langsung menoleh kearah laki-laki tersebut, sedikit menyipitkan bola matanya untuk beberapa waktu.
"Soal?"
Dia bertanya ingin tahu arah pembicaraan laki-laki tersebut.
Mendengar pertanyaan nyonya Reni dia malah mendengus pelan, membuang pandangannya kemudian membuang pandangannya, menatap kearah kolam renang yang tidak ada penghuninya.
"Kau pikir berapa tahun aku bekerja dengan kakek Andaram?"
Tanya laki-laki tersebut kemudian.
__ADS_1
Berapa lama?. cukup lama, sejak Bara berusia 4 tahun mungkin, setelah Ibu kandung Bara masuk pada masa sulitnya, kemudian laki-laki tersebut yang menyaksikan kematian perlahan perempuan tersebut dan Martin yang menguburkan perempuan tersebut dengan tangan nya.
Dia memang manusia tanpa hati, satu-satunya laki-laki yang tidak mengeluarkan ekspresi palsu atau asli di hari kematian ibu Bara,dia bahkan yang mengubur perempuan itu dengan kedua tangan nya sendiri.
Terkadang kecurigaan menghantam banyak orang di keluarga Andaram, termasuk dirinya. mungkinkah kematian ibu Bara ada campur tangan Martin? karena laki-laki tersebut yang selalu mengawasi dan ada disekitar Perempuan tersebut jelang Kematian nya.
Bahkan dia berlaku cukup kasar pada Bara, memaksa anak itu berdiri berkali-kali dengan kekejamannya saat Bara tumbang karena kematian ibunya.
"Laki-laki bodoh, pengecut, banci"
3 kata itu disematkan Martin untuk Bara, memercikkan api kemarahan pada Bara dan membuat keponakannya begitu benci tiap kali menatap Martin.
Dan tidak dipungkiri dia juga tidak begitu menyukai laki-laki tersebut hingga sejauh ini. Selalu berpesan pada Bara, berhentilah mempercayai siapapun, karena pada akhirnya di dunia ini kita hanya hidup sendiri.
"sejak kamu remaja, masih terlalu muda hingga setua ini bahkan belum juga memutuskan untuk menikah, selama itu kau mendampingi kakek Andaram di keluarga ini"
Nyonya Reni berkata cepat.
"Aku cukup kasihan melihat kehidupan asmara mu yang buruk, seharusnya kau berhenti dari pekerjaan mu dan memilih menikah dengan gadis baik-baik"
Mulut tajam nyonya Reni memang tidak pernah bisa dikendalikan.
Martin mendengus.
"Aku lebih kasihan pada mu, suami mu berselingkuh dengan menantu mu, bibi muda"
Ucap Martin kemudian kearah nyonya Reni, membuat wanita tersebut menoleh kearah Martin dengan cepat.
"Aku ingin lihat bagaimana reaksi kakek Andaram saat dia tahu menantu kesayangan dan cucu mantu kesayangan berselingkuh dibelakang semua orang"
__ADS_1
Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
Mendengar hal tersebut membuat nyonya Reni seketika menggenggam erat telapak tangan nya.