
Villa Bara
kediaman Embun
Kamar utama Embun.
Perempuan tersebut membulatkan bola matanya saat Bara pulang dengan wajah tidak baik-baik saja, dia tahu dan bisa membaca mimik wajah lawannya, Bara tidak dalam keadaan mood yang baik.
Laki-laki itu usai melepaskan sepatunya dengan gerakan tergesa-gesa tiba-tiba menyambar tubuh Embun tanpa aba-aba, laki-laki tersebut menautkan bibir mereka seolah-olah tidak ada hari esok untuk menikmati dirinya, mendorong dirinya ke atas kasur dan menjatuhkan nya kesana, menghimpit tubuh nya dan membuat nya menjadi tidak nyaman.
Cukup lama, tindakan Bara membuat dia tidak bisa bernafas dengan baik.
"Tuan?"
Embun gelagapan saat ciuman tersebut terlepas, dia berusaha menyadarkan Bara, dia mendorong dada laki-laki tersebut dengan cepat.
"Ini trimester pertama"
Dia mengingatkan laki-laki tersebut, menatap manik mata Bara untuk beberapa waktu, mengingatkan Bara tentang apa yang diminta dokter pada Bara.
Jangan gegabah karena trimester pertama memiliki banyak resiko yang tidak biasa, apalagi dia hamil melalui proses surogasi tradisional membuat Embun khawatir dengan berbagai macam kemungkinan, masih buta dengan aturan yang ada.
"Apa anda baik-baik saja?"
Dia bertanya khawatir, Bara tidak pernah berlaku begitu, tidak bergerak sekasar itu sebelumnya, laki-laki tersebut biasa nya bergerak begitu hati-hati dengan nya.
"Maaf"
Bara seolah-olah menyadari kesalahannya, menatap dalam bola mata Embun untuk beberapa waktu, Ini kali pertama laki-laki tersebut meminta maaf pada perempuan di hadapannya.
Dia hanya merasa tidak baik-baik saja, diam nya selama ini terkadang membuat nya lelah, Embun satu-satunya perempuan yang mampu dia ajak Bicara tapi tidak soal permasalahan nya.
"Apa aku menyakiti kalian?"
Pada akhirnya dia membenahi posisi nya, menyentuh lembut perut Embun dengan tangan nya.
Embun sejenak memejamkan bola matanya, sentuhan Bara terkadang membuat dia berdebar-debar, entahlah itu Cukup mengganggu nya.
Satu ingatan terngiang di atas kepalanya, dia ingat satu perjanjian yang dia buat bersama Bara ketika di Swiss pada hari itu.
"setelah surogasi jika mau melanjutkan kuliah, aku akan menyelesaikan semuanya dimulai dari awal hingga akhir akan menjadi tanggung jawabku"
__ADS_1
Kala itu Bara bertanya, begitu serius, membuat Embun mengerutkan keningnya.
"tapi aku ingin kau memenuhi satu syarat dari Ku"
Dia ragu-ragu, mencoba bertanya di dengan pelan.
"Apa itu, tuan?"
Bola mata mereka bertemu untuk beberapa waktu.
"Mari melakukan surogasi mother tradisional"
Laki-laki tersebut bicara dengan sungguh-sungguh, menunggu Jawa Embun dengan tatapan datar dan dingin nya, meskipun begitu Embun tahu, terselip sisi hangat yang disembunyikan laki-laki tersebut.
"Ya?"
tanya nya dengan sedikit terkejut dan bingung.
"Ini kesepakatan, aku tidak menggunakan nya sel telur dari Ayla, tapi aku ingin semua murni dari milik kamu"
Embun tidak bergeming, masih tidak memahami maksud dan keinginan Bara, bagaimana seorang suami tidak menginginkan kehamilan dari sel telur istrinya.
"Kenapa?"
"ada alasan tertentu yang tidak bisa aku jelaskan, aku hanya tidak ingin sel telur Ayla yang bersemayam di sini"
Bara menyentuh lembut perut Embun.
"Masih tersisa beberapa hari sebelum proses pemindahan, putuskan secepat nya, dan aku akan menjamin semuanya"
Embun masih tidak bergeming, menatap Bara dengan jutaan tanda tanya.
"Lalu bagaimana dengan keperawanan? apakah itu akan bermasalah?"
Dia masih menanyakan pokok penting kekhawatiran nya.
Bara menggelengkan kepalanya secara perlahan, berkata.
"Itu tidak akan mempengaruhi semuanya"
Tapi setelah tiba di Indonesia, laki-laki tersebut kembali menawarkan sesuatu di luar akal warasnya.
__ADS_1
"Mari menikah diam-diam dibelakang Ayla"
"A..pa?"
Embun jelas membeku, tidak bergeming untuk beberapa waktu.
"Kenapa?"
Dia bertanya dengan bibir bergetar.
"Agar anak-anak tahu siapa ayah dan ibu mereka yang sesungguhnya"
dan dalam pertimbangan panjang disinilah dia, anggaplah Embun gila, dia menerima kesepakatan tersebut dalam banyak pertimbangan dan kini disinilah dia, menjadi istri simpanan Bara dalam perjanjian tidak terduga.
"Dia terkejut karena tuan?"
Embun menjawab pelan, dengan dada bergemuruh karena gelisah, menatap netra yang belakangan membuat dia tidak baik-baik saja.
Bara diam sejenak, menurunkan diri nya, membiarkan pipi nya menyentuh lembut perut Embun sembari dia memejamkan bola matanya.
Mereka diam dan hening untuk waktu yang cukup lama.
"Bisakah berhenti memanggilku tuan jika kita berdua?"
tiba-tiba sebaris tanya meluncur dari Balik bibir Bara.
"Aku tidak menyukainya"
Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
****
Catatan \=
Traditional Surrogacy
Traditional surrogacy dilakukan melalui proses inseminasi buatan. Artinya, dokter akan mengambil sper.ma pria untuk kemudian ditempatkan ke dalam rahim surrogate mother.
Penempatan sper.ma akan dilakukan menggunakan kateter kecil. Hal ini dilakukan ketika ibu pengganti mengalami ovulasi alias pelepasan sel telur sehingga meningkatkan peluang kehamilan.
Karena sel telur yang digunakan berasal dari surrogate mother, maka anak yang dikandung dan dilahirkan terhubung secara genetik dengan ibu pengganti.
__ADS_1