Embun Untuk Bara

Embun Untuk Bara
Pencarian tidak masuk akal


__ADS_3

Begitu Embun menghilang dari pandangan nya Bara secepat kilat membalikkan tubuhnya, dia bergerak masuk menuju ke arah dalam villa, dicoba mendengarkan suara-suara yang saling bersahutan di depan sana.


laki-laki itu berjalan dengan begitu tenang menyusuri bagian belakang Villa menuju ke arah bagian tengah kemudian masuk ke salah satu ruangan yang ada di sisi kanan Villa, gimana kini bola matanya menangkap beberapa orang yang bergerak menuju ke arahnya.


"apa yang kalian lakukan di sini?'


laki-laki tersebut jelas bertanya sembari mengerutkan keningnya, ingin tahu kenapa para orang suruhan kakek nya berada di sini.


"Kakek tua Andaram memerintahkan kami untuk datang dan memeriksa"


Seorang laki-laki bicara, menundukkan kepalanya sejenak kemudian kembali memerintah kan orang-orang yang di bawa nya untuk mengitari seluruh Villa tersebut.


"Beliau berkata, kenapa anda berada disini tanpa membawa nona Ayla?"


Laki-laki tersebut masih berdiri dihadapan Bara, bertanya untuk tahu dengan detail soal beberapa hal, pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan atas perintah dari kakek Andaram.


"Cihhhhh"


Bara berdecih, dia membuang pandangannya dari hadapan laki-laki tersebut.


"Terlalu sulit membawa Perempuan hamil"


Jawab Bara cepat.

__ADS_1


"Kenapa kamu yang datang? biasa nya yang bergerak mendekat adalah Martin?"


Dia bertanya sambil bergerak menuju kearah depan, sedikit mengejek dan bersikap sedikit dingin.


"Tuan Martin akan menyusul sebentar lagi dengan kakek"


Laki-laki tersebut menjawab cepat.


Bara langsung menaikkan ujung bibirnya tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Jadi sengaja bergerak bersama untuk sebuah kecurigaan dan ingin menjadi benalu di sekitar ku?"


Dia bertanya, menghentikan gerakan kakinya kemudian menoleh kearah sisi kanan nya, menatap laki-laki yang bergerak mengikuti nya tersebut.


"Itu tidak seperti yang anda pikirkan,tuan"


Ucap laki-laki itu cepat sembari menundukkan kepalanya.


Bisa Bara lihat orang-orang bergerak memeriksa seluruh ruangan, mencari sesuatu di antara semua tempat yang ada baik di ruangan, kamar, kamar mandi dan semua sisi terselip bahkan lemari dan dibawah tempat tidur dan lain sebagainya yang mungkin memiliki cela.


"Aku merasa di intimidasi, Seolah-olah aku menjadi penjahat di rumah tinggal sendiri?"


Bara langsung melipat kedua lengan nya, menatap tajam kearah laki-laki yang menundukkan kepalanya kearah dirinya tersebut.

__ADS_1


"Kamu menggunakan bahasa terlalu halus untuk mengecoh ku, katakan saja pada intinya, apa yang sebenarnya kalian cari?"


Bara mengerutkan keningnya, bertanya dengan cepat dan menatap penuh kecurigaan, dia pikir kakek benar-benar mendapatkan informasi soal Embun saat ini entah dari mana dan dari siapa.


Martin? apakah laki-laki tersebut bergerak dengan begitu cepat?!.


Bara sudah bergerak dengan santai dan tenang, tetap hampir kecolongan juga.


"Kakek yang memerintah, mencari beberapa barang disini"


Laki-laki tersebut menjawab cepat.


"Barang? terlalu berlebihan saat kamu berkata mencari beberapa barang tapi mengerahkan banyak orang-orang disekitar, bukankah kamu bisa bertanya langsung pada ku soal itu?"


Saat Bara bicara soal itu, laki-laki tersebut terdiam,dia memilih kembali menundukkan kepalanya.


"Kakek sengaja meminta mereka melakukan nya, mencari sesuatu didalam villa sebelum kakek tiba"


Tiba-tiba suara kakek Andaram memecah keadaan, Martin terlihat mendorong kursi roda yang di naiki laki-laki tua tersebut.


Bara langsung menoleh, dia mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu hingga akhirnya kakek Andaram sudah berdiri dihadapan Bara.


"Mencari sesuatu? apa? bukankah terlalu aneh saat mereka harus datang dan mencari sesuatu tanpa bertanya padaku secara langsung bukan? aku hapal betul seluruh barang yang ada di villa ini, sebab ini adalah tempat dimana aku dan ibu ku tinggal selama bertahun-tahun sebelum kakek membunuh ibu ku"

__ADS_1


Dan saat Bara mengatakan hal tersebut, seketika membuat kakek Andaram mengeram, laki-laki tua tersebut mencoba menetralisir emosi nya ketika mendengar ucapan cucunya tersebut.


__ADS_2