
Villa xxxxxxx.
07.10 PM.
Bali.
Bara mencoba menahan perutnya yang tidak baik-baik saja sejak tadi, menunggu waktu tiba di dalam kamar Villa yang dia sewa, sungguh terkutuk untuk perutnya, dia benci mengatakan betapa tersiksanya dirinya saat ini.
Perut berguncang, seolah-olah siap menumpahkan seluruh isinya tanpa terkecuali.
Begitu tiba di villa, laki-laki tersebut langsung melesat masuk kekamar mandi, mengabaikan semuanya dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Embun hanya bisa mengusahakan yang terbaik untuk membantu Bara, menyiapkan minyak angin, minyak kayu putih, kompres perut, memberikan Laki-laki tersebut makanan baik seperti buah-buahan yang bisa menggantikan isi perut Bara selagi makanan yang dipesan tiba.
Bahkan dia berusaha memijat-mijat tengkuk laki-laki tersebut dengan penuh rasa iba, dia membubuhi minyak angin pada tengkuk dan perut laki-laki tersebut.
Embun tidak paham kenapa dia yang hamil, Bara yang harus merasakan siksaan mendalam nya.
"Kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
Embun bertanya setelah mereka sudah naik ke atas kasur, dia menatap Bara yang mencoba berbaring dan memejamkan bola matanya.
dengar pertanyaan Embun, Bara sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menjawab pertanyaan perempuan tersebut, dia membiarkan dirinya tergeletak di atas kasur dan menenggelamkan dirinya pada tumpukan bantal yang ada di bawah kepalanya.
laki-laki tersebut kemudian dengan cepat menarik lengan Embun, membuat perempuan itu seketika terkejut kemudian langsung membiarkan embun tenggelam ke dalam pelukannya.
"biarkan begini saja dulu"
laki-laki tersebut meminta, memeluk Embun sembari dia memejamkan bola matanya, bara menghirup aroma khas dari Embun, aroma yang belakangan menjadi aroma kesukaannya.
Bubble gum, permen karet mint yang mampu menetralisir rasa mual di dalam dirinya.
Embun bicara dengan penuh penyesalan, dia sedikit mendongakkan kepalanya, mencoba menatap Bara yang terus memejamkan bola matanya,
dia telah memangkas jarak di antara mereka, membuang predikat nama tuan di depannya, memanggil bara seperti permintaan laki-laki tersebut di mana mereka bicara layaknya laki-laki dan perempuan atau bahkan keluarga.
Bara masih belum menjawab ucapan Embun, masih terlalu nyaman untuk dirinya tenggelam di dalam pelukan perempuan tersebut sembari dia terus mencium aroma Embun, dia masih berusaha untuk menetralisir rasa di perutnya yang tidak baik-baik saja, berharap semua rasa yang menghantam akan hilang dengan cepat.
"Mereka benar-benar ingin menyiksa ayah mereka"
__ADS_1
laki-laki tersebut kemudian menjawab cepat, membuka bola matanya secara perlahan, mencoba menetap ke arah embun yang Sejak tadi menelisik wajahnya.
bisa dilihat ekspresi Embun saat dia berkata soal Ayah untuk anak-anak mereka.
Bara secara perlahan menyentuh lembut perut Embun, dia memilih mengelus perut Perempuan yang telah tersemat menjadi istri nya meskipun secara sirih, mencoba merasakan apa yang ada dibalik perut yang berubah sedikit membuncit tersebut.
"Itu bukan siksaan, mereka hanya ingin menguatkan ikatan batin di Antara kalian"
Embun menjawab pelan, memberikan penjelasan paling masuk akal bagi dirinya.
"Biasanya anak-anak dan ayah akan semakin terikat kuat dalam keadaan seperti ini, ini anugerah, dan tidak semua ayah merasakan nya"
setelah berkata seperti itu Embun membiarkan pandangannya menatap Bara, netra mereka bertemu untuk beberapa waktu, Bara mendengarkan ucapan istrinya tersebut dengan seksama.
"Kamu akan merindukan masa ini ketika anak-anak telah dilahirkan nanti"
Ucap perempuan tersebut lagi kemudian, dia mengembangkan senyuman terbaik nya untuk Bara, menampilkan barisan gigi putih nya ya terlihat begitu menawan.
Bara diam, menelisik perempuan dihadapan nya tersebut dalam sejuta perasaan.
__ADS_1