Embun Untuk Bara

Embun Untuk Bara
Saling Meraih keuntungan


__ADS_3

Bara bergerak menjauhi semua orang, tidak peduli dengan teriakan kakek tua Andaram, dia mulai bosan menjadi orang yang sedikit patuh, kali ini dia benar-benar bergerak dengan kemauan nya, memangkas kepatuhan nya pada keluarga Andaram yang membelenggu kakinya.


Ayla jelas gelagapan, dia pikir bagaimana bisa Bara meninggalkan dirinya sendiri dalam keadaan tidak menguntungkan, Perempuan tersebut hendak berdiri tapi kakek tua Andaram berkata.


"Pergi ke Bali lusa, biarkan dia pergi dan hadir dalam pembukaan pertama hotel, setelah itu kita akan periksa kandungan mu disana"


kata-kata itu jelas adalah perintah, tidak peduli Bara mau atau tidak juga Ayla keberatan atau tidak, yang laki-laki tua tersebut diinginkan semua tetap berjalan sesuai keinginannya, Bara harus tetap ada di Bali bagaimanpun caranya, Ayla harus tetap hamil dan melahirkan penerus Andaram yang berikutnya dan siapapun tidak bisa membantah nya.


"Pastikan kamu benar-benar hamil, Kakek cukup lelah menunggu dan berharap kamu melahirkan keturunan Andaram berikutnya, jangan katakan kalian membodohi ku akan sesuatu yang tidak aku ketahui dibelakang ku"


Ucap laki-laki tersebut lagi kemudian.


Ayla menggenggam erat telapak tangannya, berusaha mengembangkan senyuman nya.


"Kakek terlalu berlebihan, aku mana berani membohongi kakek"


Ucap perempuan tersebut cepat.


"Yeah aku berharap seperti itu"


Cibir laki-laki tersebut.


Ayla terlihat diam,dia menundukkan kepalanya perlahan kemudian beranjak dengan elegan menjauhi semua orang.


dia pada akhirnya bergerak dengan cepat berlarian mengejar langkah bara dan kini sudah ada di samping mobil mereka, laki-laki itu membuka pintu mobil dan masuk dengan cepat.


Ayla bergerak dari terburu-buru ikut membuka pintu mobil dari arah bagian kirinya kemudian masuk ke dalam mobil itu tanpa aba-aba.


"Apa kamu gila, melakukan semua ini sama saja membuat dirimu semakin tersudutkan, kakek bisa saja benar-benar mendepak mu dari keluarga Andaram"

__ADS_1


Ayla berteriak kesal, menatap Bara dengan kemarahan nya.


"Apa kamu juga berharap aku kehilangan semuanya? aku bertahan karena keluarga Sutikno, dan aku tidak ingin kehilangan karir ku karena kakek terus mendesak ku seperti ini"


Lagi dia meluapkan kemarahannya.


"Bukankah kita sudah melakukan kesepakatan nya sejak awal menikah? kita saling meraih keuntungan dalam keberuntungan, setelah Chintya kembali, yah kamu bilang setelah Chintya kembali kita menyudahi semuanya, kamu hanya butuh anak untuk merebut semuanya, tidak bisakah kamu lebih sabar dengan keadaan?"


Perempuan tersebut mencoba menarik kasar nafasnya, dia melepaskan sandal heels nya dan membuang pandangannya.


Bara tidak menyahut, memilih diam untuk beberapa waktu, dia menggerakkan tangannya mulai membawa mobil mereka menjauh dari kediaman Kakek tua Andaram.


Satu ingatan Menghantam Bara, ditengah diam nya atas ucapan Ayla.


******


Kembali ke masa lalu.


Seseorang bicara kearah Bara, menatap laki-laki tersebut yang melihat seorang gadis berbaring tidak berdaya di sebuah kasur mendominasi berwarna putih, berbagai macam selang memenuhi tubuh gadis cantik tersebut dimana alat bantu oksigen menutupi wajah cantik gadis itu sejak berbulan-bulan yang lalu.


Suara mesin monitor yang ada disamping tubuh gadis tersebut terus mendendangkan iramanya, terkadang membuat Bara cukup tegang dibuatnya.


Dulu...dulu sekali dia pernah merasakan permainan mesin yang sama, bertarung pada rasa cemas saat suara monitor tersebut memekakkan telinga nya.


Sosok perempuan cantik di usia kecilnya bertarung pada tempat yang sama, namun pada akhirnya kematian memisahkan mereka.


Kali ini dia tidak berharap hal yang sama terjadi,dia tidak ingin kejadian yang sama terulang, karena itu dia bergerak dengan sangat hati-hati, sebab ada banyak orang-orang yang harus dia lindungi termasuk dirinya sendiri didalam keluarga Andaram.


Bara diam, masih membiarkan bola matanya menatap kearah gadis tersebut, alih-alih menjawab ucapan laki-laki itu, dia malah balik bertanya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tahu siapa yang mencoba untuk membunuh nya?"


Bara kemudian menatap kearah laki-laki yang mengajak nya bicara.


Laki-laki yang ditanya terlihat diam, dia menundukkan kepalanya secara perlahan.


"4 tersangka yang bisa kamu waspadai saat ini, kakek, papi, Reni dan aku tidak perlu menyebutkan nama terakhir di antara mereka bukan? kamu pasti tahu siapa dia"


Bara diam tidak membuang pandangannya, menatap laki-laki tersebut untuk waktu yang begitu lama.


"Mereka sedang berusaha mengendalikan kamu dengan gadis pilihan mereka pada kakek, karena itu kamu harus bertindak cepat untuk memutuskan pilihan bersekutu dengan siapa sebelum kakek membuat pilihan"


Ucap laki-laki tersebut kemudian.


Bara pada akhirnya membuang pandangannya, dia kemudian berkata.


"Biarkan aku bertemu Endar, mari membuat kesepakatan dengan gadis pilihan laki-laki tersebut"


Dia menyebut nama laki-laki yang sekian tahun bertahta menjadi ayah nya, Bara pikir laki-laki itu cukup bisa di ajak berkompromi dengan berbagai macam keuntungan didalam nya.


*****


Kembali ke masa kini.


"Mari pergi ke Bali dengan membawa gadis itu bersama kita"


Suara Ayla mengejutkan Bara.


"Pastikan semua orang mendengar berita kehamilan ku, aku yakin semua orang akan cukup ketar-ketir mendengar nya"

__ADS_1


Ucap Ayla lagi kemudian.


Bara tidak menyahut sama sekali, membiarkan bola matanya terus menatap kearah jalanan, membiarkan tangan nya terus mengendalikan stir mobil nya.


__ADS_2