
Bara bergerak perlahan membelokkan mobilnya kearah sisi kanan, masuk ke arah rumah mewah berpagarkan terali yang menjulang tinggi, seorang security menundukkan kepalanya setelah membuka pagar besi trali tersebut, membiarkan mobil barang masuk ke dalam halaman rumah mewah itu secara perlahan.
security itu cukup terkejut saat melihat tuannya baru pulang di jam malam seperti ini setelah semalaman tidak pulang, karena dia tahu tuannya tidak pernah menghabiskan akhir minggu di luar rumah sebelumnya.
Bara orang yang lebih suka berkutat dengan kegiatan nya di belakang rumah, menikmati keindahan alam belakang yang terhubung pada hamparan Padang rumput luas dimana terdapat danau buatan yang di buat selain kolam berukuran besar yang di desain di belakang sana.
Laki-laki tersebut duduk di kursi panjang, memandangi langit sore hingga matahari terbenam, atau menikmati waktu malam hingga matahari terbit.
Laki-laki jarang bicara yang selalu menatap datar dan dingin orang-orang disekitarnya, tapi sekalinya bicara kata-kata laki-laki tersebut akan menyakiti siapa saja yang mendengar nya.
Dia selalu bicara ketus dengan memasang ekspresi dingin dan suram, membuat siapapun bergidik ngeri dengan karakter nya dan tidak ada yang membuat nya tunduk hingga sejauh ini kecuali nyonya Reni, ibu nya sendiri.
begitu marah memarkirkan mobilnya di salah satu bagian sisi halaman tanpa memasukkannya ke garasi membuat security itu mengerutkan keningnya, dia pikir sepertinya bara akan kembali pergi setelah pulang ke rumah.
"Tuan?"
security tersebut menundukkan kepalanya setelah datang mendekat.
"Siapa saja yang datang?"
Bara bertanya sambil bergerak untuk mulai mendekat ke arah pintu rumah, dia tahu orang tua nya tadi pagi datang, baru melihat pesan dan puluhan panggilan tidak terjawab di handphone nya.
"Nyonya dan tuan besar, juga beberapa teman Nyonya muda"
__ADS_1
Dia bicara cepat menjawab pertanyaan yang di ajukan tuan nya.
Bara diam, menaikkan tangan kanannya, membiarkan laki-laki berpakaian security tersebut pergi dari hadapan nya.
Laki-laki tersebut tidak bicara, bergerak masuk ke dalam rumah megah tersebut, rumah besar yang nyaris tidak terdapat suara-suara didalam nya, begitu sepi dan sunyi tanpa suara anak-anak yang diimpikan, bahkan tidak ada kehangatan yang dirindukan didalam nya sekalipun.
Di ujung tangga Ayla bergerak turun kebawah, menantap Bara yang baru pulang kerumah mereka, perempuan tersebut telah berdandan cantik, sepertinya ingin pergi malam ini.
"Baru pulang?"
Suara dingin Perempuan tersebut menggema di sepanjang ruangan, masih menuruni anak tangga satu persatu.
Ada yang berkata, menikahlah dengan Perempuan yang murah senyuman nya dan baik akhlaknya agar saat pulang kamu bisa melihat senyuman indah setelah lelah menerjang dan rumah menjadi surga sesungguhnya.
Laki-laki tersebut tidak menjawab, hanya bergerak naik ke lantai atas, saling berhadapan tanpa ingin menatap muka, dia lebih suka membiarkan bahu saling menabrak kemudian bergerak naik mengacuhkan Ayla.
Hal seperti ini sudah biasa terjadi.
"Bara"
Ayla terlihat marah, kesal karena di acuhkan oleh Bara.
"Aku lelah, jangan mengajak ku berdebat tidak jelas"
__ADS_1
Dia sama sekali tidak menghentikan langkahnya, bicara dan terus melangkah ked atas.
Sial.
Ayla mengumpat kesal, menatap punggung Bara yang terus melaju keatas.
"Apa kamu masih marah tentang anak?"
Sepantasnya dia bertanya, Bara semakin menjauh dan asing setelah mereka memutuskan mencari anak dari rahim pengganti.
Dia pikir apa mungkin Bara marah atas keputusan egois nya.
"Aku tidak sanggup marah, karena kamu menantu kesayangan Andaram"
Ucap Bara kemudian, dia berbelok ke kanan setelah tiba di ujung atas tangga.
Mendengar ucapan Bara membuat Ayla mengeram kesal,dia pada akhirnya memejamkan sejenak bola mata nya.
"Aku bilang pada mama Minggu depan pemeriksaan nya, aku akan bilang aku hamil dan kendalikan gadis udik itu agar aku bisa dengan leluasa bergerak tanpa harus ketahuan berbohong"
Setelah berkata begitu, dia membalikkan tubuhnya, meninggalkan Bara dalam keheningan, Bara tidak menjawab bergerak masuk ke dalam kamar mereka.
Bagaikan orang asing yang tinggal bersama di atap tanpa rasa.
__ADS_1