Embun Untuk Bara

Embun Untuk Bara
Terlalu gelisah


__ADS_3


Disepanjang perjalanan Bara tidak melepaskan genggaman tangan nya dari Embun, kepanikan masih jelas terlihat di balik wajah laki-laki tersebut seolah-olah kehadiran Tommy tadi menjadi satu kemarahan dan ke cemasan mendalam untuk diri nya. Melihat ekspresi Bara, Embun hanya diam dan tidak mengeluarkan suaranya, terkadang dia berusaha melirik ke arah Bara, sesekali untuk menatap wajah laki-laki tersebut.


Bagi nya ini kali pertama Bara terlihat bersikap begitu aneh pada dirinya, bahkan tiba-tiba perempuan tersebut berpikir Bara menjadi begitu overprotektif terhadap dirinya, meskipun terasa aneh tapi hati nya cukup bergetar-getar di buat nya.


Embun berusaha untuk membenahi posisi duduk nya, beberapa waktu ini dia cukup merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuh nya, apalagi kaki nya, banyak berjalan sungguh menyiksa, bersandar di kursi sofa dan berselonjor kaki pasti membuat nya sedikit nyaman.


"Ada apa?"


Bara bertanya khawatir, menatap Embun dengan tatapan penuh kecemasan.


Bolehkah dia mengeluh dan mengeluar kan perasaan nya? dia takut Bara benci pada karakter lemah yang penuh keluhan didalam hidup nya.


Embun Memilih menelisik bola mata Bara, ragu untuk menggerakkan bibirnya dan menyampaikan rasa serta keluhan nya.


"Pegal?"


Bara kembali bertanya, menyentuh punggung Embun, membantu membenahi posisi tubuh nya dan berusaha menaikkan kaki Embun ke atas paha nya.


"Itu tidak sopan"


Embun bicara cepat, mencoba menurunkan kakinya, dia beringsut cepat, takut karena kaki nya menaiki paha laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, kemarilah, biar aku memijat nya"


Bara kembali membenahi posisi Embun kemudian menaikkan kembali kaki Embun ke pahanya.


Gadis tersebut menegang, seketika menatap Bara dengan sejuta rasa, cukup cemas karena keadaan.


"Akhhh"


Dia berteriak kecil, menggenggam erat tangan nya pada sisi kursi mobil.


"Terlalu kencang?"


Bara kembali bertanya khawatir, menatap netra Embun untuk beberapa waktu, bertanya dalam nada khawatir, takut jika pijatan nya menyakiti gadis dihadapannya tersebut.


Dia menghentikan pijatan nya.


Embun perlahan menggeleng kan Kepala nya.


"Tidak, hanya sedikit terkejut"


Gadis tersebut menjawab pelan.


Bara sedikit menaikkan ujung bibirnya, dia kembali melanjutkan pijatan nya.

__ADS_1


"Mereka bilang ibu hamil gampang terserang lelah, kaki lebih muda kram dan terkadang tubuh mudah pegal-pegal karena bawaan bayi"


Ucap Bara pelan, dia membiarkan tangan-tangan nya terus memijat kaki Embun agar merasa nyaman.


Mendengar ucapan Bara, Embun terlihat diam, dia menatap wajah Bara dengan seksama, ucapan Bara membuat jantung nya tidak baik-baik saja.


"Jika ada yang tidak nyaman kamu bisa mengatakan nya pada ku"


Lagi suara Bara terdengar, diiringi deru halus mesin di mana mobil tersebut melaju dengan sempurna menuju entah kearah mana. Pembatas antara depan dan belakang sengaja terpasang kaca gelap dan gorden didalam nya, membuat sang sopir tidak bisa melihat apa yang dilakukan mereka dibelakang sana.


Mendengar ucapan Bara seketika membuat Embun menundukkan kepalanya secara perlahan, gadis tersebut tidak berani menatap netra Bara, jantung nya tidak baik-baik saja.


Melihat reaksi Embun membuat Bara gelisah.


"Tidak suka dengan pijatan nya?"


Laki-laki itu kembali bertanya.


Embun terlihat menggelengkan kepalanya secara perlahan, dia mencoba menaikkan tatapan nya, bola mata Embun terlihat berkaca-kaca.


"Jangan begitu baik pada ku, itu membuat ku khawatir untuk melepas kan kamu nanti nya"


Dan Embun bicara dengan suara bergetar, berusaha untuk menarik kaki nya dari genggaman Bara.

__ADS_1


Seketika ucapan Embun membuat laki-laki tersebut diam dan membeku menatap wajah Embun.


__ADS_2