
Ciuman mereka terjadi terlalu lama, membuat Embun sedikit tidak baik-baik saja, biasanya laki-laki tersebut akan melepaskan ciuman nya setelah beberapa waktu, tapi kali ini sedikit berlebihan bagi nya.
Dari ciuman manis pada akhirnya membawa dirinya pada ciuman yang sedikit berat dan menggebu-gebu, membuat Embun sedikit gelagapan dan sulit bernafas.
"Ba..ra?" Embun bicara pelan, menatap netra Bara saat laki-laki tersebut melepaskan ciuman mereka.
"Aku menyakiti kamu?" Tanya Bara pelan, agak takut jika ciuman nya membuat Embun kesulitan.
"Aku tidak bisa bernafas" ucap Embun pelan, wajah nya terlihat memerah karena malu atas ciuman yang diberikan Bara pada nya.
Melihat ekspresi wajah Embun membuat laki-laki tersebut mengulum senyumannya, dia menyentuh perut Embun secara perlahan.
"Ada keluhan pada anak-anak?" Laki-laki tersebut bertanya lembut, mengelus perut Embun untuk beberapa waktu.
Mendengar ucapan Bara, Embun menggelengkan kepalanya secara perlahan, dia bisa merasakan gerakan tangan Bara di permukaan perut nya membuat satu gerakan manis didalam sana.
__ADS_1
"Dia bergerak" Bara mengernyitkan dahinya, baru kali ini merasakan gerakan bayi didalam sana. Entahlah Bara tiba-tiba merasakan satu desiran didalam hatinya.
"He em, dia bergerak"embun menjawab dengan cepat sembari mengembangkan senyumannya, ada rona kebahagiaan di balik wajahnya ketika Bara menyentuh perutnya, bayi mereka memberikan respon yang begitu indah, tidak menyangka jika ayah dan anak-anak akan saling merasakan antara satu dengan yang lainnya.
"mereka tahu jika ayahnya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mereka"Bara pada akhirnya menurunkan tubuhnya, dia membiarkan kepalanya berada di perut Embun untuk beberapa waktu, mencoba merasakan kembali gerakan dari bayi-bayi mereka.
"Perempuan atau laki-laki? apa kita sudah bisa melihat nya bulan ini saat pemeriksaan?" Bara bertanya pelan dengan tidak sabaran.
Laki-laki tersebut sebenernya ingin tahu apakah di antara kedua nya akan ada bayi laki-laki. Meksipun sebenarnya dia berharap mereka laki-laki karena kakek tua Andaram berkata penerus Andaram harus laki-laki, tapi Bara tidak benar-benar memprioritaskan laki-laki untuk anak-anak mereka. Perempuan juga bukan masalah, bagi nya yang terpenting mereka lahir dengan sehat dan selamat.
"Sudah masuk trimester kedua rupanya" Bara bicara, dia memejamkan bola matanya sejenak kemudian secara perlahan laki-laki tersebut mengehela pelan nafasnya.
Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Embun, hanya saja terlalu rumit dan gengsi untuk mengatakan nya sekarang.
"He em, mereka jauh lebih kuat dan mereka tumbuh dengan sehat" Embun kembali menjawab cepat, dia mencoba untuk memejamkan sejenak bola mata nya, memilih untuk merasakan sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Bara pada perutnya.
__ADS_1
Rasanya begitu aneh, tapi dia menyukai nya, meskipun semua berawal dari perjanjian, setidaknya dia dan anak-anak nya tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang yang diberikan Bara. Meskipun kesan awal laki-laki tersebut cukup tidak baik, tapi semakin kesini Bara semakin menunjukkan sosok nya yang sebenarnya. Nyatanya laki-laki pendiam dan tidak banyak bicara tersebut punya sisi lain yang begitu hangat dan lembut juga gampang terluka.
"Embun" Tiba-tiba suara Bara mengejutkan Embun.
Gadis tersebut seketika langsung membuka bola matanya karena terkejut.
"Ya?" gadis tersebut bertanya dengan perasaan terkejut, karena Bara tahu-tahu sudah ada di hadapannya. Laki-laki tersebut menatap dalam netra matanya untuk beberapa waktu.
"Ini semester kedua"Laki-laki tersebut tiba-tiba kembali bicara soal semester kedua.
Embun agak bingung dibuatnya.
"Dokter bilang saat semester kedua ini tidak lagi jadi masalah" Ucap Bara lagi kemudian.
Dan Embun masih mengernyitkan keningnya, mencoba memahami apa yang dimaksud oleh laki-laki dihadapan nya tersebut.
__ADS_1
"Ada apa dengan semester kedua? dokter bilang boleh?boleh apa?"Dia bertanya-tanya didalam hati nya.