
Embun masih bingung, Laki-laki tersebut memepetkan tubuh nya Kedinding, ciuman yang diberikan semakin dalam membuat Embun semakin tenggelam.
Dia memejamkan bola matanya, menikmati lembutnya ciuman yang dipersembahkan Bara, begitu lembut, saking lembut nya ciuman yang dipersembahkan Bara hal tersebut membuat Embun terlena cukup lama, dia tenggelam dalam belenggu yang di persembahkan oleh Bara.
Memejamkan bola matanya, menikmati moment yang menghangat secara tiba-tiba, semua terasa refleks dimana katanya alam bawah sadar akan mengikuti gerakan yang dipersembahkan oleh lawan, dia sendiri membalas tanpa sadar.
Entahlah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya Embun merasa dia kehilangan nafasnya, dia mencoba menahan dada Bara untuk beberapa waktu.
Dia butuh pasokan oksigen yang cukup banyak, bukan ingin membuat Bara marah karena meminta menyudahi tapi karena dia belum terbiasa.
Seolah-olah sadar Embun belum terbiasa, dimana gadis tersebut seakan-akan kehilangan nafasnya, laki-laki tersebut secara perlahan akhirnya melepas kan ciuman nya, masih membiarkan kedua telapak tangan nya menggenggam kedua pipi Embun, netra mereka bertemu saling bicara tanpa mengeluarkan kata.
Lembut jemari-jemari tangan nya tersebut mengusap pipi indah Embun, membuat jantung Bara terkadang tidak baik-baik saja, masih takut menyimpulkan jika dia telah jatuh cinta.
Terlalu jauh berbeda dengan perasaan yang dia rasakan dengan seseorang dimasa kemarin juga dengan Ayla, yang ini terlalu berbeda, menbuat dia gelisah, tidak baik-baik saja bahkan terlalu merindu jika tidak bertemu dalam beberapa waktu.
Dia membiarkan dirinya menikmati keindahan dihadapan nya, menatap netra Embun yang menatap nya takut dan malu, wajah cantik tersebut merona ketika ditatap oleh dirinya.
Cukup lama hal tersebut terjadi, dimana Embun berusaha menetralisir detak jantung nya yang tidak baik-baik saja, tatapan Bara Seolah-olah nyaris membunuh nya, terlalu dalam membuat dia terkadang tidak bisa bernafas dengan baik.
"Pergi membaca?"
__ADS_1
Bara membuka suaranya, bertanya pada Embun soal kegiatan gadis tersebut.
Mendapat kan pertanyaan seperti itu, seketika membuat Embun tersadar, dia menganggukkan kepalanya dengan gerakan perlahan.
Bibir nya terasa bengkak.
"Aku mencari perpustakaan, menemukan beberapa buku kemudian membacanya sembari menunggu kamu pulang"
Dia menjawab apa adanya, entahlah bibir terasa sedikit berat saat laki-laki tersebut melepaskan ciuman nya, seolah-olah sesapan yang diberikan menghisap seluruh darah Embun.
"Agak sulit mencari perpustakaan, aku juga agak sulit menemukan jalan kembali ke kamar"
Dia bercerita soal apa yang dikerjakan nya, Embun cukup kesulitan menemukan perpustakaan disana tadi, kebanyakan waktu nya tergerus karena mencari lokasi perpustakaan dalam villa tersebut lebih dulu.
Lanjut gadis tersebut lagi kemudian dengan penuh penyesalan, Embun menundukkan kepalanya pelan.
"Kenapa tidak menghubungi ku?"
Bara bertanya, meraih dagu tersebut, membiarkan Embun menatap nya sambil laki-laki tersebut menggerut kan kening nya.
Menghubungi Bara?!.
__ADS_1
Kali ini Embun bertanya didalam hatinya, dia balik mengerutkan keningnya.
Bagaimana caranya? lupakah dia?.
"Aku tidak memiliki nomor kamu"
Dia menjawab pelan.
Mendengar Jawaban Embun, seketika Bara terdiam.
Iya, dia nyaris melupakan nya.
Lagi netra mereka bertemu untuk beberapa waktu, seolah-olah Bara tengah memikirkan sesuatu
Ditengah tatapan dan pemikiran nya yang saling bertabrakan tiba-tiba satu panggilan dari handphone Bara mengejutkan mereka, Laki-laki tersebut kemudian melepaskan dirinya dari Embun, meraih handphone di kantong celananya dan langsung mengangkat nya.
"Katakan"
Laki-laki itu bicara dengan cepat, menunggu seseorang di seberang sana bicara.
Dan ekspresi wajah Bara berubah, menatap Embun lagi untuk beberapa waktu, sepertinya Laki-laki tersebut tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Sial.
Bara mengumpat didalam hati nya.