Embun Untuk Bara

Embun Untuk Bara
Kakek tua Andaram


__ADS_3

Malam


Kediaman Kakek tua Andaram.


Begitu laki-laki tersebut memasuki halaman utama kediaman Kakek Andaram, Bara menepikan mobilnya di salah satu padang rumput Jepang yang terawat dengan sempurna, membiarkan mobil nya berhenti dan terparkir Indah disana tepat disamping sebuah mobil Rush berwarna putih yang terparkir lebih dulu disana.


Dia tahu itu adalah papi, laki-laki tanpa ekspresi yang selalu mengawasi pergerakan seluruh keluarga Andaram secara diam-diam


meskipun dia tahu yang datang bukan hanya laki-laki tersebut, dia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran anggota keluarga lainnya.


Ayla membenahi gaun indah nya, membuka pintu mobil dengan cepat, dia tahu menunggu Bara membuka nya sama saja menunggu langit dihadiahkan tiang di sisi kiri dan kanan nya, mimpi, tidak akan pernah terjadi.


Mungkin jika dia hamil seperti Embun, baru Bara akan memperlakukan dirinya dengan istimewa, laki-laki tersebut memang mencintai anak-anak, begitu menghargai ibu hamil dan selalu memperlakukan Perempuan hamil juga anak-anak secara istimewa.


Tidak perlu ge er jika Bara meng'istimewakan perempuan di atas kehamilannya, dia jelas berpikir wajar saja.


Perempuan tersebut berjalan mengejar langkah Bara yang bergerak lebih dulu turun dari mobil, meraih lengan laki-laki tersebut dan bergelayut manja di lengan kokohnya, bagaikan pasangan harmonis yang membuat iri mata memandang, siapa tahu sesungguhnya pernikahan mereka nyatanya tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Beberapa anggota keluarga yang baru datang terlihat mengembang kan senyuman mereka, menyapa sepasang suami istri yang hingga hari ini belum juga di karuniai keturunan tersebut.


Meskipun tidak sedikit yang merasa iba dan sedih, tidak pula sedikit yang mencibir juga merasa bersyukur, artinya tidak ada penerus Andaram berikutnya yang harus membuat mereka khawatir.


Mereka masuk ke dalam rumah besar dengan arsitektur Eropa tersebut, memilih langsung bergerak menuju ke arah dapur, dimana terdapat meja makan raksasa yang mampu menampung seluruh Anggota keluarga besar Andaram untuk mengelilingi nya.


Bara dan Ayla mencari kursi yang menjadi tempat biasa mereka duduk tiap kali berkunjung, yah para Anggota kekuarga sejak dulu memiliki kursi mereka masing-masing.


Begitu duduk di kursi mereka, Bara melirik ke kursi kanan nya, dimana tertanam didalam ingatan nya dimasa kecil dulu seorang perempuan cantik yang selalu duduk disana dengan wajah pucat dan penuh ketakutan nya.


Tidak jarang dia melihat dan mendengar kakek membentak bahkan melemparkan berbagai macam makanan kehadapan Perempuan tersebut dimasa lalu.


Ucapan tersebut sering terngiang dibalik telinga nya hingga hari ini.


Suara tongkat terdengar memenuhi ruangan, dari arah belakang bisa Bara dengar ketukan demi ketukan yang menghantam lantai menggema di sepanjang ruangan dapur tersebut, semua orang yang duduk dihadapan meja makan tahu betul siapa yang datang.


Wajah menegang terlihat menguasai semua orang, tapi sama sekali tidak berlaku untuk Bara, karena dia satu-satunya cucu laki-laki kakek tua Andaram, dan laki-laki tua tersebut jelas menaruh harapan besar padanya, namun sayangnya dia belum mau menyerahkan seluruh kekayaan Andaram, masih menunggu Bara mendapatkan keturunan nya dari pernikahan cucu laki-laki nya.

__ADS_1


Karena itu mama Reni terus menekan Bara agar memiliki anak untuk menjadi penerus Andaram yang sah berikutnya.


"Semua orang akan menyingkirkan kamu jika Ayla tidak juga kunjung hamil anak mu, Bara"


Tapi sayangnya ada perjanjian pra nikah yang terjadi di antara dia dan Ayla dimasa lalu di mana didalam pernikahan mereka tidak akan pernah ada anak-anak yang hadir menghiasi nya.


Kakek tua Andaram terlihat duduk di kursi utama makan, duduk dengan wajah sombong dan angkuhnya dibalik tubuh tua dan rambut yang sudah di penuhi uban.


"Kau sudah datang huh?"


Begitu dia duduk dan melihat Bara, laki-laki tua tersebut bertanya.


Bara hanya menatap kakek nya untuk beberapa waktu, meraih gelas minuman kemudian menaikkan nya ke depan, dia lantas menyesap minuman nya secara perlahan.


Kakek tua Andaram mendengus, dia meraih gelas minuman nya, ikut menyesapnya dengan cepat.


"Kau tidak kalah angkuh dan sombong nya dari ku"

__ADS_1


Ucap laki-laki tua tersebut sambil meletakkan gelas minuman nya.


__ADS_2