
Begitu Bara melesat pergi dari hadapan nya sejarah embun menghela nafasnya perlahan, bola matanya masih menatap bayangan mobil yang perlahan menghilang dari hadapannya.
secara perlahan embun mengembalikan tubuhnya dan masuk ke dalam villa itu, melakukan beberapa kegiatan misalnya mungkin membaca buku atau melakukan apapun yang tidak membuatnya tertidur.
Dia masuk kedalam villa, membiarkan dirinya menelusuri ruangan demi ruangan di sana, mencari siapa tahu terdapat perpustakaan umum di sana, dia pikir biasanya orang-orang kaya menyediakan satu perpustakaan di dalam tempat tinggal mereka karena itu menelusuri ruangan satu persatu secara perlahan.
Dia menelusuri villa tersebut dari bagian paling terdepan, mencoba mencari tempat yang diinginkan tapi realita nya belum berhasil menggapai seluruh tempat yang dia inginkan sebuah panggilan dari handphone nya terdengar mengejutkan dirinya.
Embun mematung Sejenak, kemudian berlarian cepat kearah meja dapur, baru ingat di sana handphone nya diletakkan.
bapak!.
Yang menghubungi dirinya, Embun tidak bergeming, mencoba menetralisir detak jantung nya saat tahu ayah nya yang menghubungi diri nya, dia menarik nafasnya berat kemudian buru-buru dia mengangkat nya.
"Assalamualaikum"
Dia bicara menyambut dengan salam, terlalu berat dan sulit karena bahagia bapak sudah bisa menghubungi dirinya,tapi begitu sedih karena tiba-tiba merindu, terkadang terselip kecemasan didalam hati nya, bagaimana jika bapak tahu hamil dari majikan bapak nya?!.
Dinikahi secara sirih bahkan memiliki surat perjanjian perceraian dan anak akan menjadi milik Bara, tuan nya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsallam"
Bisa dia dengar sahutan diseberang sana, suara bapak jauh lebih segar dari sebelumnya, Embun memilih duduk perlahan di atas kursi makan, mendengarkan suara bapak di seberang sana, sengaja tidak melakukan Vidio call, karena bapak tahu nya Embun bekerja di Jakarta, di rumah majikan mereka.
"Kamu lagi kerja?"
Bapak bertanya.
"He em"
Embun menjawab cepat.
Embun bertanya khawatir, mencoba mendengarkan jawaban diseberang sana, selama di Jakarta ikut Bara, laki-laki tersebut membayar salah satu pekerja di villa untuk mengurus bapak, tapi meskipun begitu kadang Embun juga masih khawatir dengan keadaan.
Takut tidak becus mengurus bapak.
"Alhamdulillah beres, den Bara ngirim seseorang buat ngurus keperluan bapak lainnya, beliau begitu baik ternyata, tidak menyangka bisa perhatian seperti itu"
Bisa dia dengar bapak memuji.
__ADS_1
padahal bapak tidak tahu saja dia di sini sudah membuat kesepakatan pada Bara, bagaimana mungkin laki-laki itu akan memperlakukan bapak dengan buruk.
"Itu bagus, beliau memang baik"
Embun bicara pelan.
"Kamu sehat saja disana?"
pada akhirnya bapak balik bertanya, ingin tahu apakah Embun baik-baik saja.
"aku baik-baik saja di sini, pak"
Embun menjawab dengan mantap, berusaha untuk menahan air matanya, ada kala nya dia merindukan bapak bahkan dia ingin sekali rasanya bercerita tentang banyak keluh kesah nya, rasanya ingin sekali dia memeluk bapak saat ini dan bercerita soal kerinduannya terhadap laki-laki tua tersebut, tapi ketimbang melakukannya dia lebih suka diam dan memendam segala sesuatu sendiri.
karena sejak kecil dia bukanlah tipe orang yang suka mengeluh atau mengadu, Embun lebih suka diam dan memandang seorang diri semua yang terjadi pada kehidupannya, mungkin bik Ani yang paling paham betul dengan karakter Embun.
"kamu kapan akan pulang ke sini? mengunjungi bapak meskipun hanya satu hari?"
hingga akhirnya pertanyaan tersebut meluncur dari bibir bapak, membuat Embun tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1