Embun Untuk Bara

Embun Untuk Bara
Dalam kekhawatir


__ADS_3

Disisi lain


Villa kediaman Embun.


Begitu tiba dihalaman depan villa, Bara bergerak tergesa-gesa turun dari mobilnya, membawa kantong kresek di tangan kirinya dan paper bag ditangan kanan nya.


Laki-laki tersebut masuk kedalam dengan cepat, mencari Embun yang dia pikir ada di kamar nya, namun rupanya saat dia mencari gadis tersebut dia sama sekali tidak menemukannya, hal itu jelas saja membuat Bara sedikit panik dan terkejut, dia pikir ke mana embun saat ini.


Bara mengitari seluruh ruangan, mencari sosok gadis tersebut dalam kepanikan nya, bola matanya tidak lepas mencari diiringi ke khawatiran yang mendalam.


Satu ketakutan menghantam Diri nya.


"Mungkinkah?"


Yah terkadang pemikiran seperti itu menghantam dirinya, mungkinkah Kakek tua Andaram datang lebih dulu dan menemukan Embun disana?!.


Seketika ingatan menghantam dirinya, tentang masa lalu yang membuat dia begitu membenci kakek tua tersebut.


****


Flashback


Villa tersembunyi Gara (Ayah Bara).


Suara tapak sepatu terdengar memecah keadaan, dimana seorang perempuan berusia belum genap 30 tahunan dan wanita hampir paruh baya terlihat bersimpuh di atas lantai marmer dingin mendominasi berwarna cream, sang pemilik tapak sepatu berhenti dihadapan kedua orang tersebut, menatap tajam kearah mereka.


"Aku pikir kau telah lenyap Sesuai dengan perjanjian yang aku berikan?"


Suara itu adalah suara kakek tua Andaram, sosok masa lalu masih mudah dengan bola mata tajam dan penuh sifat kejam, dia bicara sembari menatap tajam sosok perempuan muda yang bersimpuh tak jauh darinya, dua sosok laki-laki berbadan kekar tanpa berdiri di ambang pintu seakan-akan berjaga-jaga jangan sampai ada yang masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ba ..jingan itu masih menyimpan mu disini rupanya?"


laki-laki itu bicara dengan nada dingin dan suram, kemudian melangkah kan kakinya beberapa langkah lantas dia secara perlahan membiarkan dirinya duduk dengan membiarkan kedua kakinya menopang tubuhnya.


Seketika laki-laki tersebut menggenggam erat wajah perempuan cantik tersebut dimana wajah itu terlihat begitu sayu dan tidak berdaya, seperti nya sakit dan tidak baik-baik saja.


"Seharusnya aku curiga, kenapa Gara mempermalukan ku dan memilih untuk menolak pernikahan yang aku buat dan mengacaukan seluruh rencana ku, ternyata dia masih berhubungan dengan mu?"


Cengkraman tangan laki-laki tersebut membuat perempuan tersebut meringis, dia memejamkan bola matanya sembari berusaha menahan tangisan.


"bukankah aku pernah memperingatimu jika kita bertemu sekali lagi maka itu artinya kematian yang akan kamu rasakan berikut nya, Laila"


Lagi suara laki-laki tersebut terdengar begitu dingin dan suram, dia kemudian melepaskan cengkraman telapak tangannya dan mulai berdiri dari posisi nya.


Tangan kanan laki-laki tersebut mengarah ke sisi kanan nya, menunggu salah satu bawahan nya memberikan sesuatu ke tangan nya.


Satu laki-laki berjaga terlihat menyerahkan sebuah senjata pada kakek tua Andaram yang usia nya kala itu masih muda, kemudian tanpa diduga.


Seketika pistol ditangan nya tersebut mengarah ke arah perempuan tersebut, membuat wanita tua di sampingnya terkejut dan langsung meraih kaki tuan Andaram.


"Tidak...tuan...maafkan nona muda, jangan lakukan itu, aku mohon"


Dia menggenggam erat kaki kanan laki-laki tersebut, berharap pelatuk pistol tersebut tidak ditarik saat ini juga.


"Ada tuan muda kecil didalam, jangan lakukan ini, anda akan menyesali nya"


Lagi wanita tersebut bicara.


Mendengar ucapan wanita tersebut seketika membuat laki-laki itu menaikkan ujung alisnya.

__ADS_1


"Apa?"


Dia bertanya sambil menatap kearah bawah, meminta penjelasan atas ucapan wanita tersebut.


Belum pula wanita itu Berhasil menjawab, tiba-tiba saja pintu sisi kanan terbuka secara perlahan, menimbulkan decitan disekitar nya dan membuat semua orang menoleh ke sisi kanan.


Seorang bocah laki-laki terlihat berdiri mematung, menatap tanpa ekspresi kearah tuan Andaram.


Bara kecil mematung, usia nya tak lebih dari 7 tahun, dia cerdas dan paham dengan situasi, sudah tahu bagaimana cerita orang-orang soal ibu nya.


"Bara"


Ibu nya menatap kearah Bara, menggelengkan kepalanya agar anak itu pergi sejauh mungkin dari sana.


*****


Kembali ke masa kini.


Bara nyaris gila, melepaskan semua yang ada ditangan nya, berlarian dengan cepat mengitari seluruh ruangan bahkan mencari kearah mana pun yang bisa dia cari hingga keputus'asaan Menghantam dirinya, laki-laki tersebut menggenggam erat rambut nya dan Seolah-olah dunia nya berputar dengan kecepatan penuh.


"Bara?"


Satu suara seketika mengejutkan dirinya, laki-laki itu langsung menoleh ke asal suara dan bayangkan bagaimana ekspresi Bara saat menyadari siapa sang empunya suara. Embun berdiri di ujung sana sambil menatap nya dengan ekspresi bingung, bertanya didalam hatinya ada apa dengan laki-laki tersebut.


Bara secepat kilat berlarian kearah dirinya dan didetik berikut nya laki-laki tersebut langsung memeluk tubuh Embun dengan erat, hal tersebut sontak membuat Embun membulatkan bola matanya, dia terkejut saat tubuh nya dipeluk dengan erat oleh laki-laki tersebut.


"Jangan membuat ku khawatir begini"


Ucap Bara kemudian.

__ADS_1


"Ya?"


Embun jelas saja bertanya bingung.


__ADS_2