
Kakek tua Andaram terlihat diam untuk beberapa waktu saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh Reni.
"kau sudah tahu sejak lama?" akhirnya laki-laki tua tersebut bertanya kepada perempuan yang ada di hadapannya itu.
"dan kau tidak pernah membicarakannya padaku atau membahasnya padaku? memilih diam dan menyembunyikan semuanya?" Lanjut pertanyaan kakek tua Andaram lagi kemudian, api kemarahan masih tersisa dibalik wajah nya.
Reni sejenak menghentikan gerakan tangannya, tatapannya yang masih tertuju pada telapak tangan kakek tua Andaram untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya dia langsung menaikkan kepalanya dan menatap ke arah laki-laki tua tersebut dengan tatapan yang cukup tajam.
"Apa semua anggota keluarga Andaram termasuk diriku pernah diizinkan untuk bicara di dalam rumah kita, ayah?" Tanya Reni cepat.
__ADS_1
"Dan sejak kapan ayah akan mendengarkan orang-orang di sekitar ayah atau ayah mau mengubah keputusan ayah terhadap kehidupan dan juga masa depan orang-orang yang ada di dalam rumah keluarga Andaram?" Lanjut Reni kemudian.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Reni cukup membuat kakek tua Andaram terdiam untuk beberapa waktu dan laki-laki tua tersebut seketika membungkam mulutnya tanpa mampu melanjutkan kembali ucapan nya.
"jika aku protes lebih cepat tentang hubungan Ayla dan juga Endar, apa ayah yakin akan mempercayainya dan mendengarkan apa yang aku ucapkan atau mungkin ayah yakin akan membuat kami mampu berpisah dan bercerai dan membiarkan kami memilih jalan kehidupan kami masing-masing?" kata-kata yang disampaikan oleh Reni jelas saja membuat kakek tua Andaram terdiam, ucapan perempuan itu benar-benar mengintimidasi dirinya dan menyudutkan dirinya.
"aku anggap kemarahan ayah kali ini berlebihan, bukankah hal yang seperti ini sudah biasa dirasakan oleh anak-anak di keluarga Andaram? aku tidak perlu bahagia dan tidak perlu menikah dengan laki-laki yang mencintaiku atau aku menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Realitanya aku hanya cukup patuh dengan apa yang ayah inginkan meskipun sebenarnya pernikahanku tidak pernah bahagia selama bertahun-tahun lamanya" dan setelah berkata seperti itu Reni menuangkan obat luka di tangan ayahnya.
hal tersebut seketika membuat kakek tua Andaram meringis menahan perih di bagian tangannya yang terluka tadi.
__ADS_1
"seharusnya ayah tidak perlu melukai diri ayah dan tidak perlu merasa bersalah, perselingkuhan ini tidak membuatku sakit dan aku sangat menikmatinya, aku tidak perlu marah kepada Endar atau Ayla dan aku tidak perlu marah kepada pernikahan kami yang sudah gagal sejak dihari pertama kami menikah. Realitanya bukankah yang ayah pedulikan hanyalah, anak dan cucu ayah melahirkan para penerus Andaram persis seperti yang ayah inginkan"
setelah berkata seperti itu Reni meletakkan obat luka yang ada di tangannya secara perlahan ke atas meja, dia kemudian menundukkan kepalanya kepada ayahnya untuk beberapa waktu kemudian perempuan itu berkata.
"aku akan mengatasi seluruh gosip tersebut, hanya saja aku ingin ayah tahu bisa jadi bayi yang dikandung oleh Ayla bukan anak-anak dari Bara, jadi untuk membuatnya menjadi penerus kejayaan Andaram berikutnya dari Ayla, ayah boleh memikirkannya sekali lagi"
Dan kini secara perlahan Reni membalikkan tubuhnya, meninggalkan kakek tua Andaram didalam keheningan.
Percayalah begitu pintu ruangan tersebut ditutup oleh Reni, kakek tua Andaram terlihat mencoba berpegangan pada sisi meja kerja nya, dia berusaha berjalan dengan langkah rumit menuju ke kursi kerjanya secara perlahan, memilih duduk disana dengan kaki dan tangan sedikit bergetar, menyandarkan tubuhnya ke kursi kebangsaan nya lantas dia memejamkan bola matanya secara perlahan.
__ADS_1