Embun Untuk Bara

Embun Untuk Bara
Laki-laki dengan sejuta masalah nya


__ADS_3

Mendengar ucapan Bara membuat Embun terdiam, dia sedikit kehilangan kata-katanya.


Sangat sulit sekali menggapai Bara, sifat kaku dan datar juga terlalu tenang laki-laki tersebut terkadang membuat dia tidak paham apa yang diinginkan laki-laki tersebut, terkadang obrolan mereka juga tidak tahu ingin dibawa kemana.


Selama bersama jika bukan Embun yang lebih dulu bicara, Bara terkadang tidak memulai pembicaraan, laki-laki tersebut lebih banyak menggunakan gerakan nya, gesture tubuh nya untuk melakukan sesuatu atau mengungkapkan soal sesuatu.


Bara memang terlihat angkuh dan sombong, terkadang dia tahu seluruh ucapannya harus di patuhi, tapi dia tahu laki-laki itu menyimpan luka di balik keangkuhan nya, ada banyak beban didalamnya yang disembunyikan rapat-rapat tanpa ingin orang lain melihat atau meraih nya bersama laki-laki tersebut.


Entah pernikahan seperti apa yang Bara jalani bersama Ayla Embun tidak tahu, bahkan kehidupan seperti apa didalam keluarga yang Bara jalani Embun juga tidak tahu.


Tapi yang dia bisa baca, Bara tidak baik-baik saja.


Laki-laki tersebut masih membiarkan pipi nya tenggelam dalam perut Embun yang belum membentuk sempurna, masih cukup datar untuk ukuran ibu hamil, Embun yakin di trimester kedua perut nya akan berubah.


Secara perlahan dan ragu-ragu perempuan tersebut menyentuh lembut Kepala Bara, mengelus rambut laki-laki yang belakangan memenuhi kehidupan nya.


Nyatanya terkadang Embun takut jika dia jatuh cinta pada laki-laki yang tidak mengenal cinta, yahhh dia tahu Bara tidak menyelipkan cinta pada hubungan mereka, dia tahu tidak ada cinta dalam pernikahan Bara dan Ayla, juga tidak ada cinta pada pernikahan Bara dan Embun pula.


Mereka dua perempuan dalam kesepakatan pernikahan yang memiliki keuntungan masing-masing didalamnya, Embun tahu dan bisa membaca semuanya meskipun tidak ada yang mampu menjelaskan nya.


"Apa semua baik-baik saja?"


Dia bertanya lembut, tahu Bara terlihat gelisah, laki-laki itu tidak baik-baik saja, sebagai istri rahasianya, hanya hal seperti ini yang bisa Embun lakukan untuk Bara.

__ADS_1


Dia tahu laki-laki tersebut butuh seseorang yang bisa di ajak bicara.


Bara belum menyahut, memilih menikmati dirinya yang tenggelam pada perut Embun, mereka bilang seorang ayah bisa mendengar detak jantung pertama anak-anak mereka, nyatanya dia belum mampu mendengar nya.


"kapan detak jantung nya benar-benar bisa di dengar?"


Bara bertanya, mengabaikan pertanyaan Embun, masih memejamkan bola matanya dengan rasa nyaman.


Mendengar pertanyaan Bara membuat Embun mengembangkan senyumannya.


"Karena aku belum pernah merasakan nya, agak bingung untuk menjawab nya, tapi dokter bilang mereka sudah memilikinya sejak awal kehamilan, tapi kita bisa benar-benar mendengarnya saat usia kandungan lebih dari 9 Minggu karena mereka sudah lebih kokoh dan besar didalam sana"


Bara mendengar kan ucapan Embun, kemudian dia mendongakkan kepalanya secara perlahan.


Dia bertanya karena lupa.


Embun melebarkan senyuman terindahnya, membuat Bara terkadang begitu menyukainya, senyuman perempuan tersebut seperti candu, membuat dia melupakan banyak persoalan didalam hidup nya, itu salah satu alasan Bara ingin memiliki Embun.


Perempuan tersebut mampu menciptakan kesejukan, menciptakan surga baru untuk dirinya di antara neraka yang mengelilingi dirinya.


"8 Minggu, sebentar lagi tuan akan mendengar detak jantung terkuat nya"


Embun kembali bicara, masih melebarkan senyuman nya, menampilkan barisan gigi putih menawan milik nya.

__ADS_1


Mendengar Embun berkata tuan, lagi-lagi Bara mengerutkan keningnya.


"Aku tidak suka kamu memanggilku tuan, Embun".


Dia kembali protes, Embun tidak kunjung mengganti panggilannya, naik ke atas dimana Embun berada, membenahi posisi nya agar sejajar dengan Embun, menatap wajah perempuan tersebut dengan wajah yang sulit di artikan.


Embun lupa, dia menelisik wajah Bara sembari membuang senyumannya, menampilkan ekspresi wajah penuh penyesalan kemudian berkata.


"Maaf,aku lupa...tuan...aku hanya bingung dengan panggilan baru nya"


"Bara...aku suka perempuan yang menantang ku dengan panggilan nama ku yang sesungguhnya"


"Itu terdengar tidak sopan untuk seorang istri pada suaminya?"


Embun jelas mengerutkan keningnya, tidak setuju dengan ucapan Bara.


"Aneh nya aku menyukainya, aku ingin kamu menyebutkan nama itu dari balik bibir mu"


Laki-laki tersebut bicara, menantang istrinya, menatap dalam bola mata Embun.


"Tapi..."


Embun jelas meragu, dia ingin protes tapi didetik berikut nya tiba-tiba tangan kanan Bara meraih kepala dan leher Embun, lembut tapi mampu membuat Embun refleks terkejut, didetik berikut nya laki-laki tersebut menyambar bibirnya hingga membuat Embun membulatkan bola matanya.

__ADS_1


Dia bingung, ingin mendorong dada Bara tapi apalah daya dia kehilangan kekuatan nya, hanya bisa memejamkan bola matanya Karena keterkejutan yang diciptakan laki-laki tersebut untuk dirinya.


__ADS_2