FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Pertemuan


__ADS_3

Sepintas terlewat di depanku sesorang junior yang baru saja masuk di kantor ini.


Tubuh yang tegap, hitam manis dan berkaca mata. Cukup manis untuk seorang pria muda yang baru saja berkarir tapi tentu saja buka tipe idaman wanita sepertiku.


_________


Aku Sofia seorang ibu muda dengan pekerjaan yang cukup bisa membantu keluarga, aku masih bisa mengatur pekerjaan rumah dan kantor setiap hari. Hidupku cukup terlihat bahagia dengan seorang suami tampan yang begitu baik dan selalu memperlalukan diriku bagaikan seorang ratu walaupun kami tinggal berbeda kota tapi dia selalu berusaha ada untuk aku dan anak kami, anak perempuan lucu yang baru saja masuk sekolah taman kanak kanak .


Kehidupan harmonis keluarga kami, kebahagiaan aku setiao hari baik dikantor maupun dirumah selalu membuat orang sekitarku menganggap aku adalah wanita paling bahagia didunia.


Hanya saja aku punya sisi lain yang selalu aku paksa terkubur dalam yang terlalu dalam yang apabila itu terlepas akan sulit untuk aku tahan.


_________


Tian , akhirnya aku tau nama junior manis itu yang ternyata sedang dekat dengan teman kantorku Maudi.


Hanya maudi wanita yang belum menikah dikantorku, tentunya aku senang melihat ada pria lajang yang juga dekat dengannya.


“Cieeee udah ada yang deketin nih, udah terima aja kan dari pada punya pacar yang sering cuek sama kamu”


Maudi mengelak “Apaan sih kak, gak lah aku punya komitmen kan sama pacarku gak mungkin mau lagi sama dia” .


“Tapi dia keliatannya baik koq , lumayan ramah juga kan sama orang “


“Gak deh biarin aja kalau dia mau deketin sih, aku tetep sama pacarku” masih terus mengelak.


Seiring waktu kedekatan maudi masih saling berjalan, mereka masih sering chat dan telfonan di kantor atau sekedar makan siang berdua.

__ADS_1


Pagi itu aku masuk ruangan maudi yang di atas mejanya sudah ada kantong yang berisi makanan penuh.


“Wah ada sarapan nih, siapa yang beliin, Tian yaa cieeee kalian udah nyampe tahap mana nih”


“Apaan sih kak, taulah nih anak biarin aja lah, kakak makan juga lah” maudi masih mengelak.


“Hahaha yaudah aku posting nge tag Tian yaa biar dia seneng aja”, aku pun mulai men Tag Tian dalam postingan instagramku, yang ternyata dari sinilah aku dan Tian mulai akrab.


Setiap hari pembahasan kami di chat hanya bagaimana cara untuk mendekatkan dia dengan Maudi. Tapi perlahan obrolan kami mulai ke arah 21+.


Tian: kak biasanya kalau sama suami yang lebih nakal siapa ?


sofia: yaa siapa lah , kamu kepo yaa , memangnya kenapa ?


Tian: ya pengen tau aja, soalnya aku liat kakak kayanya lebih liar sih lebih hot juga malah.


Tian: kakak percaya suami kakak kalau jauh gak jajan diluar ?


Sofia: aku selalu percaya sih, kan setiap dia pulang aku selalu ngelayanin suami lebih nakal lah dari Pel*acur panti pijat diluar sana


Tian: nah bener kan kakak emang tipe yang lebih nakal dari suami kalau lagi main kan


Sofia: hahaha anjir kamu mah , paling pinter kalau urusan memancing obrolan ya.


Hampir setiap hari aku chatting sama Tian, dan obrolan kami sering random tapi lebih banyak obrolan nakal diantara kami.


Aku merasa punya teman ngobrol yang asik yang bikin hidup aku mulai lebih berwarna dan tidak monoton.

__ADS_1


Aku bersyukur hidup aku sebelumnya sangat bahagia, tapi sering banyak masalah yang sebenarnya terjadi dan demi menghindari itu aku selalu memilih diam.


aku tak pernah bertengkar dengan suamiku, bukan hanya karena dia terlalu baik, tapi kadang aku memilih melupakan apapun kesalahan yang pernah dia buat dari pada kami harus bertengkar membuang energi.


Hadirnya tian kini bukan lagi sekedar menjadi teman chattingan biasa , Dia mulai membuka secara perlahan sisi lain diriku yang terpendam.


Sofia : udah ya Tian kamu nih lama lama kalau kita chat aku bisa makin liar nih ngeladenin anak bujang orang. Aku punya suami loh .


Tian: yaelah kak kalau orang yang dasarnya liar dasarnya nakal sih yaa nakal aja jangan salahin aku lah


Jlebbb , kalimat Tian itu seakan membuka diriku yang lain, yaa aku terlalu lama menahan diri menjadi wanita yang sempurna, aku yang sejak kecil berusaha menjadi anak yang sempurna, saat menjadi istri aku selalu ingin jadi istri terbaik dan juga ibu yang terbaik untuk anakku.


Tapi semua itu jadi beban buat aku, aku tak pernah mengungkap apa yang sebenarnya aku inginkan pada orang lain.


Saat itu aku tak lagi membalas chat Tian dan berlalu mencari toilet hanya untuk meluapka emosiku.


Tian yang melihatku lewat depan ruangannya langsung saja menahan tanganku.


“Kak maafin, kakak tersinggung kan, aku minta maaf yaa”, Tian berusaha memohon maaf dan mengira aku tersinggung padanya.


“Tenang lah aku gak marah sama kamu, kamu masuk kerja sana “


“Gak kak maafin yaa” sambil terus menahan tanganku.


Melihat wajahnya, tatapannya yang tulus


Disinilah aku mulai terjebak. Sisi lain ku mulai memaksa untuk keluar …

__ADS_1


__ADS_2