FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS
Sentuhan awal


__ADS_3

Minggu pagi


Aku memulai pagi ku dengan mengirim chat pada Tian.


Sofia : hai , kamu udah bangun ?


Tian : sudah nih , kenapa ?


Sofia : aku udah 3 kali memutar di depan kosan mu..


Pagi itu aku terbangun begitu pagi , seperti biasa saat akhir pekan suamiku ku selalu pulang ke rumah. jadi pagi itu aku berniat untuk ke pasar belanja dan memasak untuk nya.


Belum jam 7 pagi , tapi Entah kenapa tubuhku seolah mengarahkan untuk bergerak menuju kosan Tian.


Dengan sok tau aku menebak tempat kos nya yang ternyata benar. Sepanjang jalan aku tak lagi berpikir apapun, aku hanya ingin melihat wajah nya pagi itu mendengar suaranya dan tatapannya saat mendengarkan aku.


Tian: eh beneran kamu lewat kosan, coba lewat lagi aku liat ?


sofia: coba keluar dan lihat.

__ADS_1


Hari itu aku sengaja keluar pakai motor yang memang jarang terpakai dirumah, hanya agar tak ada yang mengenal aku disitu dengan helm yang tertutuo dan masker yang menempel diwajahku.


Tian turun dan menemuiku didepan jalan kosaan.


aku mengajaknya untuk berkeliling sebentar, “jalan yuk, kemana aja deh lagi pengen ngobrol nih”, pintaku yang langsung saja dia mengiyakan yang mengambil alih motor lalu menggoncengku berkeliling .


“Kita mau kemana” tanya Tian, “kemana aja alah yang penting kita jalan jalan.


Pagi itu aku merasa seperti sedang bebas , mengbrol sepanjang jalan. Hingga tanpa sadar dia memulai menarik tanganku “sini tangannya, peluk dong” suara halus nya memintaku untuk memeluk nya. Pertama kalinya aku mecoba memeluk pria yang bukan suamiku.


“Siniin tangannya lagi”, Tian memulai menggodaku dengan mengarahkan tangannya ke arah celananya, seketika aku merasa mulai kepanasan . Aku hanya menyentuh dari balik celana tapi sudah bisa membayangkan apa yang berada di balik celana itu, Hal yang seharusnya biasa saja justru membuat jantungku berdebar tapi dengan gugup aku memegangnya.


Dan tanpa aku sadar tangan kirinya sudah mencoba meraba dadaku. Sensasi yang baru pertama kali aku rasakan , di atas motor yang masih berjalan dan dia bisa seberani itu. Pipi ku semakin terasa panas dan memerah yang untungnya tertutupi oleh masker yang aku kenakan sehingga dia pun tak sadar kalau aku mulai terangsang dengan serangan kecilnya.


Angin pagi itu membuatku begitu bahagia, aku bahagia duduk di atas motor bersama orang asing yang baru saja ku kenal. Entah kapan terakhir kali aku merasa seperti ini.


Kita berhenti di sebuah pantai, memilih untuk duduk dan menikmati sarapan sebentar di sebuat kedai kecil yang sudah buka pagi itu.


“Bu mie instan dua ya” aku memesan dan kami duduk bersama.

__ADS_1


Kami mengobrol pagi itu, mulai dari bagaimana kita berkenalan, kisah para mantan pacarnya , dan beberapa hal tentang diriku. Obrolan yang bagi orang lain sekedar basa basi, tapi tidak buat aku.


Aku terbiasa mengobrol dengan siapapun yang aku kenal tapi selalu dengan obrolan yang aku anggap menarik untuk mereka, aku selalu menyesuaikan diri dengan orang yang aku ajak bicara, tapi dengan Tian, obrolan kami lebih random tentang apapun tanpa aku harus memilih bahan obrolan menarik dan aku tak perlu berpikir bahwa dia akan tertarik atau tidak tapi obrolan kita masih bisa nyambung serandom apapun.


Ditengah tengah obrolan itu, perlahan dia mulai mendekatkan kursinya dengan kursiku, matanya melihat sekeliling yang sunyi, dan lagi lagi tangannya mulai masuk kedalam bajuku . Meraba dada kiriku dengan kasarnya, ya sangat kasar dibanding sentuhan suamiku selama ini. Aku tertunduk “Tian udah ah, malu aku, apa ntar kata orang kalau ada yang melihat, tempat umum loh ini” hanya itu yang bisa aku katakan demi menutup wajahku yang sebenarnya menikmati momen itu.


“Yaudah iyaa deh”, Tian mulai menyerah dan kami melanjutkan obrolan sambil menikmati Mie instan dengan pemandangan pantai pagi hari dan udara yang sejuk.


Diam diam aku memandang wajahnya, dalam benakku bicara “apa yang bagus dari dirinya ? Tak setampan Artis korea idolaku hahahah, Kenapa aku menikmati ini ? Senyum nya biasa saja bukan bibir seksi seperti bradpit, kenapa aku melihatnya seolah senyum itu menggodaku untuk menciumnya, sadarlahhh sofia” lamunanku terhenti saat Tian mengajak untuk kita pulang mengantarnya kembali ke kosan.


“Berhentinya jangan didepan kosan ya, aku takut ada yang lihat kita pagi pagi begini” aku menyuruh Tian untuk berhenti di ujung jalan tapi memang nakalnya dia tetap menghentikan motorku tepat diteras kosannya.


Aku kembali melanjutkan tujuan awalku ke Pasar, berbelanja dan pulang untuk memasak makanan kesukaan Suami dan anakku .


Entah kenapa saat kembali kerumah barulah aku tersadar kedalam kenyataan, aku hanyalah seorang istri yang seharusnya mengurus anak dan suami dirumah. Tian pria bebas yang bisa saja sedang mencari keuntungan dari istri nakal seperti aku.


Menangislah aku seketika melihat wajah suami yang begitu aku cinta dan anak kami yang begitu lucu, duniaku seakan berubah saat bersama Tian.


Aku merasakan kebebadan yang lain yang seumur hidup tak pernah aku rasakan.

__ADS_1


Aku bagai orang yang punya kesadaran berbeda sedang bersama keluarga dan saat dengannya.


__ADS_2